Festival Musik Tembi Ke-7 (1): Mercusuara

0
457

Tahun 2017 ini Festival Musik Tembi memasuki usianya yang ke-7. Pada FMT ke-7 secara konsisten FMT terus memberikan ruang ekspresi dan kreasi serta wawasan bagi komposer dan musisi yang ingin mengembangkan karya tanpa terikat sekat genre sekaligus membangun ‘laboratorium’ bersama dengan tujuan menjunjung nilai-nilai kebudayaan melalui ragam bunyi-bunyian. Ada pun tema yang diangkat dalam FMT ke-7 ini adalah “Mercusuara.”

Penampilan kelompok Rubah Di Selatan dalam FMT 2017. Foto: A. Sartono
Penampilan kelompok Rubah Di Selatan dalam FMT 2017. Foto: A. Sartono

Tema tersebut diharapkan mampu menggambarkan semangat yang tinggi terhadap tatanan estetika yang luhur melalui ragam nada Nusantara. Diharapkan dengan karya musik nilai-nilai luhur tradisi akan tetap bersinergi dengan identitas kebudayaan yang ada beserta musik yang kini berkembang secara dinamis.

Selain menyuguhkan berbagai penampil musik, FMT juga menggelar Pasar FMT yang menyediakan pernak-pernik musik dan marchendise. Ke depan diharapkan FMT dapat menjadi salah satu wadah yang selalu mengangkat keluhuran bunyi-bunyian tradisi dengan balutan masa kini serta tempat berinteraksi dalam kreasi demi mewujudkan sebuah komunikasi yang dinamis.

Sunarto SH MM (Kepala Dinas Kebudayaan Bantul), N.Nuranto (Dirut Tembi Rumah Budaya), dan Yopie Edo (Ketua Panitia FMT) membuka secara resmi FMT 2017 dengan menabuh bonang. Foto: A. Sartono
Sunarto SH MM (Kepala Dinas Kebudayaan Bantul), N.Nuranto (Dirut Tembi Rumah Budaya), dan Yopie Edo (Ketua Panitia FMT) membuka secara resmi FMT 2017 dengan menabuh bonang. Foto: A. Sartono

Sunarto SH MM, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, yang mewakili Bupati Bantul dalam sambutannya menyampaikan antusias dan apresiasinya atas terselenggarannya FMT 2017. Kiprah anak-anak muda dalam kegiatan ini memberinya harapan bahwa seni budaya di masa depan akan tetap lestari. Sunarto mengucapkan selamat dan berharap anak-anak muda terus bersemangat berkiprah seni sebagai bagian dari identitas, pembangunan karakter, serta mengolah rasa, budi, dan kreativitas. Demikian antara lain sambutan dari Sunarto, Kamis malam, 18 Mei 2017 di Pendapa Yudanegaran Tembi Rumah Budaya.

Penampilan kelompok Nos dalam FMT 2017. Foto: A. Sartono
Penampilan kelompok Nos dalam FMT 2017. Foto: A. Sartono
Ekspresi kelompok Nos dalam FMT 2017. Foto: A. Sartono
Ekspresi kelompok Nos dalam FMT 2017. Foto: A. Sartono

FMT ke-7 dihelat di Tembi Rumah Budaya Bantul mulai 18-21 Mei 2017 dengan menyajikan berbagai penampil yang mempresentasikan gabungan musik (seni bunyi) tradisi dan kreasi. Berbagai penampil itu di antaranya adalah Sanggar Seni Saraswati Bali, Rubah Di Selatan, Nos, Orkes Kampung Wangak, Es Teh Anget, Gayo Gayo, dan Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks, Fombi Allaba, Aniezka Ujma, Biramanata, Melaneysia Art, Tanatodea, Ganzer, Jaeko, Stickman, Aurette and The Polska Seeking Carnival. Selain itu, ada pula lokakarya ‘Jelajah Kreatif Ritmik’ bersama Maestro Ritem Tradisi Karnataka, India Selatan yaitu Poovalur Sriji dari Dallas, Texas, USA. Untuk hari Sabtu, 20 Mei 2017 ada Bincang-bincang Musik bersama Rizaldi Siagian, Erie Setiawan, dan Frans Sartono dan malamnya dilanjutkan dengan pementasan serta Penghargaan Musik Tradisi Baru 2017.

Konten Terkait:  Boneka Ternyata Bukan Hanya Mainan

Landasan utama FMT yakni Musik Tradisi Baru tetap menjadi pegangan. Persoalan akan menjadi seperti apa atau jenis musik yang bagaimana dari olah kreativitas musik dalam FMT itu bukan menjadi tujuan paripurna. Sebab proses berkreasi tanpa henti itu sendirilah yang akan menentukan buah atau hasil di kelak kemudian hari. Kapankah itu ? Tidak ada jawaban yang bisa memastikan hal itu karena nilai pentingnya memang justru terletak pada proses itu sendiri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here