Festival Musik Tembi 2017 (2): Ruang Kreatif untuk Berproses Bersama

0
538

Sanggar Seni Saraswati membuka perhelatan Festival Musik Tembi 2017, pada Kamis, 18 Mei 2017. Sanggar yang berfokus pada kegiatan karawitan Bali dan Tari Bali ini tampil semarak dengan nuansa yang rancak. Sanggar seni ini merupakan sebuah sanggar yang berada di bawah naungan Keluarga Bali Purantara Yogyakarta.

Kemeriahan dilanjutkan oleh Rubah Di Selatan, membawakan beberapa repertoar miliknya. Penonton yang hadir di Pendopo Tembi Rumah Budaya terhanyut oleh alunan lagu dan suara unik sang vokalis, Malinda (vokal), Gilang (gitar), Adnan (keyboard) dan Ronie (Ethnic Percussion). Di tengah konser, mereka sempat menyampaikan pesan, keadaan Indonesia sedang dirudung krisis kebhinekaan, mereka mengajak untuk saling merangkul, jangan lagi ada isu SARA, karena kita Indonesia.

Melaynesia, salah satu penampil di panggung Musik Tradisi Baru. Foto: Owae
Melaynesia, salah satu penampil di panggung Musik Tradisi Baru. Foto: Owae

Semakin larut, kelompok NOS dengan mengusung musik instrumental mampu menggabungkan idiom etnis dan alat musik barat. Terbentuk sejak tahun 2012, kelompok musik kontemporer ini tampil dengan formasi Andre (Gitar), Ucok (biola), Erwin (bass), Argo (instrumen etnik), Vancho (keyboard) dan Yosef (drum).

Masih banyak lagi keseruan yang menyapa para pengunjung Festival Musik Tembi 2017. Dari mulai stand-stand yang menyediakan ragam dagangan nan menarik, hingga suguhan musik dengan beragam nuansa yang siap memberi satu pengalaman berharga. Berbagai pengalaman dan ilmu juga akan dibagikan dalam sesi lokakarya bersama pakar dan narasumber berpengalaman.

Rubah Di Selatan. Foto: Owae
Rubah Di Selatan. Foto: Owae

Di hari kedua, Jumat, 19 Mei 2017 Festival Musik Tembi diawali dengan lokakarya bersama Gayagayo dan Poovalur Sriji tentang body percussion dan kreativitas ritmik. Gayagayo sendiri merupakan kelompok yang sedang mengembangkan tradisi Nusantara terutama kaitannya dengan musik dan komposisi. Saat ini, Gayagayo sedang berfokus untuk mengembangkan musik ritmik body percussion berdasarkan tari Saman dan Gidong yang berasal dari suku Gayo, NAD. Sedangkan Poovalur Sriji merupakan seorang Maestro Ritem India Karnataka, India Selatan.

Sebagai tuan rumah, malam hari panggung amphiteater dibuka oleh Forum Musik Tembi (fOMbi) Alabama, kemudian penonton diarahkan menuju panggung pendopo untuk menyaksikan penampilan dari enam kelompok Musik Tradisi Baru yang telah melalui tahap kurasi awal sebelumnya, diantaranya : Agneszia Ujma, Jaeko, Tanatodea, Melaynesia, Biramananta, dan Ganzer. Masing-masing kelompok menyuguhkan keunikan warna musik Nusantara pada penonton yang hadir.

Menurut Fauzan Ashikin selaku koordinator program festival, di awal terlihat seperti festival yang terkesan protokoler, sebab dalam panggung musik tradisi baru berlangsung live recording dalam rangka persiapan album kompilasi Musik Tradisi Baru 2017. Namun di akhir disuguhkan sebuah pertunjukan dari Orkes Kampung Wangak yang mengangkat tradisi Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur dan mampu mencairkan suasana dan menutup hari ke-2 dengan sempurna.

Seorang penonton, Nandita Destriana, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, mengaku senang karena musik yang disuguhkan unik. Di samping itu ia merasa bangga karena acara ini dapat kembali menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri sendiri dengan warna-warni nuansa nada yang tersuguhkan.

Perhelatan ketujuh, Festival Musik Tembi (FMT) 2017 memasuki hari ketiga. Mercusuara yang dipilih menjadi tema besar acara mulai terlihat pada penampilan musisi-musisi di hari terakhir ini, Sabtu 20 Mei. “Mercusuara dalam Festival Musik Tembi kali ini bukan hanya menggambarkan sebuah bangunan, tapi juga simbol dan semangat untuk membangun estetika luhur melalui ragam musik Nusantara,” ungkap Sheila, koordinator dari fOMbi yang merupakan penyelenggara acara ini.

Konten Terkait:  Mengenang Mainan Masa Lalu dalam Pameran Montor-montor Cilik
Workshop bersama Poovalur Sriji. Foto: Owae
Workshop bersama Poovalur Sriji. Foto: Owae

Pada malam penutup ini FMT 2017 dibuka dengan panggung komunitas. Sore hari sekitar pukul 16.45 acara dibuka oleh penampilan Estehanget di panggung pendopo. Estehanget merupakan kumpulan pemuda pecinta musik tradisi khususnya gamelan yang juga sering berlatih di Tembi Rumah Budaya setiap minggu. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Stickman di panggung Amphitheater, kelompok musik dari UKM Musik UAD yang berjumlah 6 orang. Seluruh anggota Stickman menampilkan keterampilan mereka dan dikolaborasikan hingga menjadi satu harmonisasi yang indah.

Selain penampilan dari panggung komunitas, panggung festival kembali dibuka dengan penampilan dari Whansetiyawan ft Jaeko dengan menampilkan musik sape dari tradisi suku Dayak, Kalimantan, yang dikolaborasikan dengan musik tabuh alau-alau dari tradisi Lampung. Pada penampilan ini juga dibumbui oleh tari-tarian khas suku Dayak. Dilanjutkan dengan penampilan band indie asal Yogyakarta Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC). Band ini terbentuk sejak tahun 2012 dengan mengusung musik pop dengan alat musik folk dengan menjumput sedikit aliran swing, bahkan rock steady hingga reggae. Beranggotakan orang-orang dengan latar belakang dan selera musik yang berbeda AATPSC melakukan debut pertamanya pada tahun 2013 dalam albumnya yang berjudul “Self Tittled”.

Panggung berpindah kembali ke Amphitheater, dengan pembukaan kolaborasi antara Poovalur Sriji dengan Musisi Indonesia, diantaranya Biramananta dan Subkultur Artifisial.

OM Pancaran Sinar Petromaks. Foto: Owae
OM Pancaran Sinar Petromaks. Foto: Owae

Poovalur Sriji sendiri, merupakan seorang maestro ritmik yang berasal dari India Selatan. Selain pernah berkolaborasi dengan musisi dunia, dalam albumnya yang berjudul “Tabula Rasa” yang ia garap bersama Bela Vleck, V.M. Bhatt, dan J.P. Chen berhasil masuk menjadi nominasi Grammy Award. Pendiri sekaligus anggota dari grup “Brahmah” juga pendiri sekaligus direktur dari “SNEW” dan “South Indian Cross Culture Ensemble”, pengajar di University of North Texas, Calarts dan San Diego State University ini juga telah membuat beberapa komposisi yang menggambarkan idiom-idiom musik India Selatan.

Setelah dua kali kolaborasi yang begitu apik, penonton disuguhi oleh kemasan lain dari tradisi tutur suku Gayo yaitu Saman dan Gidong yang dikolaborasikan bersama alat musik gitar dan biola. Salah satu komposer utama dan pendiri kelompok Gayagayo ini adalah Joel Tampeng. Ia telah dikenal sebagai gitaris, komposer, dan arranger. Karyanya pernah tercatat dalam album musik etnis progresif Anane “Slebar-Slebor”, solo gitar Ă„ngin Timur”, “#Reborn”, grup legendaris Sirkus Barock dan Kantanta Barock, serta kolaborasi dengan beberapa artis daerah dan nasional.

Kali ini, FMT ditutup oleh reuni dari Orkes Melayu Pancaran Sinar Petromaks (OM PSP). “Panitia sengaja mengundang OM PSP sebagai penutup acara, selain karena aliran yang dibawa adalah melayu yang berbentuk orkes, akan sangat fenomenal sekali apabila grup yang terakhir pentas di Yogyakarta sekitar tahun 1978-1979 ini kembali dipersatukan dan tampil di Yogyakarta setelah hampir 40 tahun silam,” ungkap Fauzan, koordinator divisi Program FMT 2017. “Kami yakin, reuni ini akan membawa energi dan warna yang berbeda pada “mercusuara” yang menjadi tema acara FMT 2017 kali ini,” lanjutnya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here