Pentas Baca dan Lagu Puisi Tarian Hujan di Solo

0
472

Dua payung diletakkan di panggung, yang seluruhnya dibalut kain hitam. Suasana itu memberi tanda mendung menggelayut, padahal di luar panggung, di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko, Jl Slamet Riyadi 284 Solo, cuaca cerah, bahkan terasa panas. Dalam suasana seperti itu, komunitas pecinta sastra dari Yogyakarta, Solo dan Jakarta, Selasa, 23 Mei 2017 mementaskan ‘Tarian Hujan’, satu antologi puisi karya Jane Ardaneshwari.

Annisa Hertami Kusumastuti
Annisa Hertami Kusumastuti

Dari Yogya dimotori aktor teater sekaligus penyair Landung Rusyanto Simatupang, yang membawa para pecinta sastra seperti Annisa Hertami Kusumastuti, yang dikenal sebagai artis; Choen Supriyatmi, seorang guru sekaligus penyair; Gendis Pawestri; Endah Sr; Ami Simatupang; Rindunya Rindi dan sejumlah nama lain. Selain itu ada seorang dokter mata dan pecinta sastra dari Solo, Halida Wibawaty dan Jane Ardaneshwari, penyair, penulis antologi puisi ‘Tarian Hujan’. Dua pemain musik, Rimawan Ardono dan Otokbima Sidharta berkolaboarsi gitar dan kendang.

Diawali tarian pembuka oleh Enji, nuansa puitis dihadirkan melalui gerak. Tak ada kata dalam setiap gerak, dan gerakan demi gerakan itu adalah bentuk lain dari kata-kata. Selesai tarian, Choen Supriyatmi membacakan dua puisi berjudul ‘Buat JB’ dan ‘Train of Rain’. Puisi demi puisi terus mengalir, Halida Wibawaty, seorang dokter mata yang tinggal di Solo membacakan tiga puisi berjudul ‘Catatan 27 Maret’, ‘Definisi’ dan ‘Di Arafah’.

Ardaneshwari
Ardaneshwari

Annisa Hertami, yang mengenakan pakaian hitam dan dibalut selendang warna merah, membacakan dua puisi berjudul ‘Anomali dan ‘Dalam Kenangan’. Setiap penampil membaca dengan gaya yang teduh, tidak meledak-ledak dan asal teriak, tetapi semuanya mencoba menghayati puisi yang dibacakan. Halida Wibawaty misalnya, membaca puisi dalam suasana teduh, dengan suara pelan tetapi intonasinya tidak monoton.

Landung Simatupang dan Jane Ardaneshwari, menutup penampilan pentas baca dengan membacakan puisi secara bergantian. Puisi-puisi yang dibacakan di anataranya berjudul ‘Tentang Rita’, “Elegy’ dan beberapa puisi lainnya.

“Sungguh, saya merasa terhormat bisa tampil bersama seorang Landung Simatupang,” kata Jane Ardaneshwari mengawali sebelum membaca puisi.

Landung Simatupang
Landung Simatupang

Landung Simatupang, di manapun tampil membaca puisi, selalu mempesona dan seolah seperti menyihir penonton untuk tidak pergi. Ekspresi wajahnya memperlihatkan betapa Landung menghayati puisi yang dibacakan.

“Sungguh, saya kagum pada penampilan para pembaca malam ini, lebih-lebih penampilan Landung Simatupang,” ujar Ardus mewakili Bentara Budaya Balai Soejatmoko dalam pengantar penutup acara.

Pertunjukan diakhiri dengan permainan musik kolaborasi gitar dan gendang oleh Rimawan Ardono dan Otokbima Sidharta. Keduanya mengolah puisi ‘Tarian Hujan’ karya Jane Ardenashwari, yang sekaligus menjadi tajuk acara dan judul antologi puisi, Perpaduan gitar dan gendang yang indah menambah lagu ‘Tarian Hujan enak untuk didengar, dan terlihat, hadirin yang duduk lesehan menikmati sajian lagu puisi tersebut.

Rimawan Ardono mengalunkan lagu Tarian Hujan.
Rimawan Ardono mengalunkan lagu Tarian Hujan.

Puisi ‘Tarian Hujan’ sangat pendek, hanya terdiri dari dua alinea, sehingga agar lagunya terasa agak panjang, Donas, panggilan Rimawan Ardono, sengaja lagunya diulang-ulang pada alinea pertama, dan ketika puisi telah dilagukan secara utuh, kembali diulang pada alinea kedua. Semua penampil ikut melagukan ‘Tarian Hujan’, terutama pada kata: tetes, demi tetes, dan detik demi detik, yang dilagukan secara koor.

“Saya sengaja mengulang-ulang puisinya dalam melagukan, karena puisinya pendek dan cepat selesai kalau tidak saya ulang-ulang terus,” kata Donas. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here