Kirab Apem Malioboro 2017

0
392
Gunungan sayuran dan hasil bumi juga dikirab dalam Kirab Apem Malioboro 2017. Foto: A. Sartono
Gunungan sayuran dan hasil bumi juga dikirab dalam Kirab Apem Malioboro 2017. Foto: A. Sartono

Menyambut bulan Sya’ban (Ruwah) sekaligus menyongsong akan bulan Puasa (Ramadhan) banyak warga masyarakat, khususnya Jawa, melaksanakan kegiatan yang disebut ruwahan atau sadranan. Pada bulan Ruwah ini umumnya masyarakat melakukan bersih makam, ziarah ke makam, dan bahkan banyak juga yang dipadukan dengan bersih dusun (merti dusun).

Pada masyarakat Jawa atau masyarakat Nusantara bulan Ruwah identik dengan dibuatnya makanan berupa ketan, kolak, dan apem yang mengandung arti simbolik agar manusia mau berintrospeksi mengakui kesalahan dan kekurangannya sekaligus mau memohon maaf pada orang lain sekaligus juga memohon kepada Sang Khalik. Makanan yang dibuat dan dibagikan ke tetangga kanan kiri juga merupakan wujud dari berderma, berbagi, atau bersedekah kepada sesama. Selain itu, hal demikian juga merupakan wujud dari silaturahmi, syukur, kemurahan, keramahan, dan cinta sesama.

Hal demikian juga dilakukan oleh Komunitas Malioboro of Art (Koma) Yogyakarta. Komunitas ini membuat apem secara mandiri dan kemudian menyusunnya menjadi gunungan dan dikirab pada hari Minggu, 21 Mei 2017 pukul 15.00 WIB. Ada pun rute yang ditempuh adalah dari Kantor Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta-Malioboro-hingga Titik Nol. Acara ini sengaja digelar untuk melestarikan budaya Ruwahan, sehingga diharapkan tradisi ini tidak luntur ditelan zaman.

Keluarga mahasiswa Nusa Tenggara ikut memeriahkan Kirab Apem Malioboro 2017. Foto: A. Sartono
Keluarga mahasiswa Nusa Tenggara ikut memeriahkan Kirab Apem Malioboro 2017. Foto: A. Sartono

Ada sekitar 5.000 butir apem yang dikirab dalam acara ini. Selain gunungan yang dibuat dari apem, ada pula gunungan dari hasil bumi yang ikut diarak dalam acara ini. Kirab dikawal oleh beberapa bregada/pasukan prajurit tradisional dan komunitas. Sambil berkirab ditampilkan juga tarian yang mengiringi perjalanan kirab sembari membagikan apem kepada para penonton. Seperti makna simboliknya, pembagian apem juga menjadi semacam tanda permohonan maaf, syukur, sekaligus berbagi.

Rombongan penari mengiringi Kirab Apem Malioboro 2017. Foto: A. Sartono
Rombongan penari mengiringi Kirab Apem Malioboro 2017. Foto: A. Sartono

Sebelumnya juga diserahkan hantaran apem dari Panita Apeman Malioboro 2017 kepada seluruh kabupaten dan kota di DIY. Acara ini merupakan event tahunan yang pada tahun 2017 ini telah menginjak gelaran yang ke delapan. Seluruh rangkaian acara berkait dengan Apeman Malioboro 2017 itu sesungguhnya telah dimulai sejak 14 Mei 2017 sekalipun puncak acaranya jatuh pada Minggu, 21 Mei 2017. Rangkaian acara yang mengawali puncak acara tersebut di antaranya adalah pameran seni rupa, pendirian stand seni, hantaran seperangkat apem ke semua kabupaten/kota, karnaval/kirab, dan pagelaran seni di Parangtritis, Bantul.

Diharapkan kegiatan semacam ini terus dapat berlangsung sebagai wujud pelestarian budaya, syukur, silaturami, kerukunan, perdamaian, memelihara semangat kebhinekaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here