Ki Ragil Jalu Pangestu Mendalang Lokapala Bedah

0
125

Kekejaman Dasamuka ketika mbedhah (menghancurkan) Negara Lokapala ditampilkan oleh Ragil Jalu Pangestu dalam pentas wayang kulit purwa pada Sabtu, 13 Mei 2017 di Desa Ponggok I, Jetis Bantul, Yogyakarta. Remaja kelas 2 SMP, putra pasangan Slamet Sutopo SSn dan Suharyani tampil memikat di Pendapa rumah Camat Sukirno.

Ki Ragil Jalu Pangestu saat berada di bawah blencong. Foto: Herjaka
Ki Ragil Jalu Pangestu saat berada di bawah blencong. Foto: Herjaka

Menurut penuturannya ia belajar mendalang dari bapaknya. Sejak sebelum bisa menulis, Jalu Pangestu sudah bisa mendalang. Dikarenakan bakat dan ketekunannya dalam belajar seni pakeliran pedalangan, beberapa kali Jalu menjadi juara, diantaranya; Juara I pada festival dalang cilik Tingkat Nasional V Tahun 2015 dalam rangka Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta ke-51. Juara II pada Festival Dalang Cilik VI di Museum Pendidikan Indonesia (MPI) Yogyakarta.

Batara Narada melerai perang tanding antaraDasamuka (kanan) dan Danaraja. Foto: Herjaka
Batara Narada melerai perang tanding antaraDasamuka (kanan) dan Danaraja. Foto: Herjaka

Sebagai remaja berprestasi dalam bidang pakeliran pedalangan, Ragil Jalu Pangestu tidak bisa dengan serta-merta mengajak teman-temannya untuk mencintai wayang, karena ia menyadari bahwa zaman sekarang hal itu sangat sulit. Lebih baik memberi teladan bahwa seni pewayangan masih relevan, dan dapat dijadikan sarana untuk belajar mengenai moral, budi pekerti dan tingkah laku positif.

Ki Jalu seusai pementasan, di apit oleh kedua orang tuanya, Slamet Sutopo dan Suharyani. Foto: Herjaka
Ki Jalu seusai pementasan, di apit oleh kedua orang tuanya, Slamet Sutopo dan Suharyani. Foto: Herjaka

Sejak mendapat predikat dalang anak, hingga sekarang menjadi dalang remaja, Ki Jalu berpegang pada pakeliran klasik gaya Yogyakarta. Walaupun pada kenyataannya pakeliran dewasa ini sudah mencampuradukkan antara pakeliran Yogyakarta dan pakeliran Surakarta, pilihan cucu almarhum Ki Timbul Cermomanggala ini sangat dibutuhkan untuk kelangsungan pakeliran masa depan, terutama gaya Yogyakarta. Seiring dengan cita-cita Ki Ragil Jalu Pangestu yang ingin menjadi dalang kondang, para dalang senior titip agar pakeliran gaya Yogyakarta tetap dipertahankan dan dikembangkan.

Cerita ‘Bedhahe Lokapala’ yang bersumber pada kitab Ramayana, mengawali pagelaran wayang kulit purwa Pepadi Komda Bantul yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. Ada pesan yang disampaikan dalam lakon ini, bahwa di balik kehancuran Lokapala, ada anugerah besar yang diturunkan. Prabu Danaraja raja Lokapala diangkat ke kahyangan untuk dijadikan dewa, menggenapi jumlah dewa yang ada, dengan gelar Batara Daneswara.

Suasana pentas wayang dengan dalang remaja Ki Ragil. Foto: Herjaka
Suasana pentas wayang dengan dalang remaja Ki Ragil. Foto: Herjaka

Mungkin itulah yang menjadikan wayang masih relevan dan mempunyai kontribusi positif di zaman global ini, baik pementasannya maupun pesan ceritanya. Sehingga sayang jika generasi muda sengaja meninggalkan budaya wayang tinggalan nenek moyang bernilai tinggi. Dan Jalu telah memberi contoh, bagaimana seharusnya menjadi pewaris kesenian yang adi luhung ini, khususnya seni pedalangan dan pakeliran. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR