Festival Pisungsung Ruwahan Kelurahan Kadipaten

0
121

Bulan Ruwah (Sya’ban) menjelang bulan Puasa/Ramadhan merupakan bulan yang dikhususkan oleh banyak suku bangsa di Indonesia sebagai bulan untuk menghormat dan mendoakan arwah leluhur atau arwah orang yang telah meninggal dunia. Masyarakat Jawa umumnya mengisi bulan ini dengan kegiatan antara lain membersihkan makam dan melakukan kenduri. Kenduri ini biasanya dilaksanakan sebagai bentuk silaturahmi, sedekah, sekaligus mendoakan arwah orang yang meninggal agar diampuni segala dosa dan kesalahannya dan hidup abadi di surga.

Wujud gunungan apem yang dikirab warga dalam acara Pisungsung Ruwahan di Kadipaten, Keraton, Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Wujud gunungan apem yang dikirab warga dalam acara Pisungsung Ruwahan di Kadipaten, Keraton, Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Dalam kenduri ini salah satu ubarampe atau kelengkapan makanan yang sepertinya wajib ada adalah apem, kolak, dan ketan. Istilah apem dianggap berasal dari bahasa Arab, afwan yang artinya memohon pengampunan. Sedangkan kolak dianggap berasal dari kata khalaqa atau khaliq yang diartikan sebagai Sang Pencipta. Istilah ketan dianggap berasal dari kata khatam yang bermakna tamat. Ada versi lain yang menyatakan bahwa ketan berasal dari istilah khotan yang berarti kesalahan. Sementara versi lain lagi menyatakan bahwa ketan berasal dari istilah kraketan (rapat/lengket) yang mengacu pada pengertian persaudaraan atau hubungan silaturahmi yang demikian erat.

Persiapan pemberangkatan rombongan Festival Pisungsung Ruwahan Kelurahan Kadipaten Kota Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Persiapan pemberangkatan rombongan Festival Pisungsung Ruwahan Kelurahan Kadipaten Kota Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Jika ketiga nama makanan atau istilah itu dirangkum maka dapat diartikan sebagai bahwa orang harus berani mengakui kesalahan, kelemahan dan kekurangannya serta berani mohon pengampunan, serta selalu ingat Sang Khalik dan mengikuti semua kehendakNya. Dengan demikian diharapkan semua orang selalu introspeksi, berkaca diri, dan terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sambil tidak lupa mendoakan orang yang telah meninggal.

Pada masa lalu untuk merayakan atau memperingati acara itu orang biasa pula saling memberi makanan berupa ketan, kolak, apem kepada tetangga dengan maksud seperti di atas. Demikian pun yang terjadi di Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Keraton, DIY. Namun pada empat tahun terakhir hal itu dikemas dalam bentuk atraksi budaya yang lebih meriah dan melibatkan lebih banyak orang.

Peserta Festival Pisungsung Ruwahan berfotoria sebelum kirab. Foto: A. Sartono
Peserta Festival Pisungsung Ruwahan berfotoria sebelum kirab. Foto: A. Sartono

Atraksi tersebut berupa perarakan gunungan ketan, kolak, apem dari Dalem Kaneman-Pasar Ngasem-Pertigaan Andalas-Kecamatan Keraton dengan jarak tempuh sekitar 1,5 kilometer. Atraksi dibingkai dalam tema Festival Ruwahan Kelurahan Kadipaten: Art, Religious, and Cultural Performance. Acara ini melibatkan 14 RW dari 15 RW yang ada di Kalurahan Kadipaten dan dilaksanakan hari Sabtu, 13 Mei 2017 mulai pukul 15.00. Pada pagi hari hingga siang sebelum perarakan berlangsung kegiatan berupa pembuatan apem, ketan, kolak secara masal di masing-masing RW. Ada sekitar 1.000 butir apem beserta ketan kolak yang dikirab dan kemudian diperebutkan dalam acara ini.

Salah satu peserta Festival Pisungsung Ruwahan sedang keluar dari gerbang Dalem Kaneman. Foto: A. Sartono
Salah satu peserta Festival Pisungsung Ruwahan sedang keluar dari gerbang Dalem Kaneman. Foto: A. Sartono

Perarakan gunungan dilakukan dengan berbagai atraksi lain, di antaranya adalah rombongan jathilan, masyarakat umum, anak-anak, drum band, mobil hias kayuh, dan lain-lain. Ke depan acara ini diharapkan menjadi agenda budaya dan pariwisata rutin dari Kadipaten untuk masyarakat luas. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR