Born Premature, Pemihakan Rangga Lawe pada Petani

0
222

Kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan, baik penambangan tembaga, batu bara, biji besi maupun pasir, sering terjadi. Yang kerap terjadi adalah pengerukan dan penggalian terus-menerus tanpa menyiapkan antisipasi dampak lingkungannya. Seniman Rangga Lawe mengangkat fenomena ini pada pameran tunggalnya ‘Born Premature’ di Simple Plant, Prawirotaman, Yogyakarta, yang berakhir pada 18 Mei 2017.

Born Premature, mix media . Foto: Barata
Born Premature, mix media . Foto: Barata

Pameran ini mengangkat sekaligus menggugat praktik penambangan pasir dan biji besi di daerah pesisir Kulon Progo, Yogyakarta. Dampak negatifnya bukan sebatas alam namun juga kehidupan para petani yang selama ini bercocok tanam di kawasan pasir tersebut. Pameran ini merupakan hasil pertemuan Rangga yang intens dengan para petani di sana.

Perangkap Hijau & Labirin Industri, drawing pen. Foto: Barata
Perangkap Hijau & Labirin Industri, drawing pen. Foto: Barata

Menurut Rangga, konflik kepentingan petani dengan penambang pasir menimbulkan masalah yang tak kunjung usai. Rusaknya lahan produktif petani berpengaruh pada kualitas lingkungan hidup, hasil lahan produktif dan kesejahteraan petani.

Gesik Kanggo Panguripan, drawing pen. Foto: Barata
Gesik Kanggo Panguripan, drawing pen. Foto: Barata

Widodo, salah seorang petani, mengatakan bahwa kedatangan alat berat penggerus pasir justru berdampak buruk bagi petani. Ia mengaku marah, kecewa bercampur luka ketika mendengar lahan tanam akan diubah menjadi tempat penambangan pasir. Selama ini mereka merasa cukup sejahtera tanpa tambang. “Lahan yang subur dan asri sudah kami anggap sebagai ibu,” ujar Widodo.

Tajuk ‘Born Premature’ mengacu pada produk-produk modernisasi yang dibuat tanpa persiapan antisipatif atas dampaknya. Seniman Ferry Edwin Sirait menjelaskan, salah satu anak modernitas adalah teknologi. “Anak-anak modernitas itu dilahirkan prematur, karena seperti hanya dicukupi persenggamaan ambisi, dan dipaksa tergesa lahir oleh kebutuhan sepihak sekelompok manusia,” katanya.

Tetap Hidup & Terampas, wood cut on paper. Foto: Barata
Tetap Hidup & Terampas, wood cut on paper. Foto: Barata
Pohon Terakhir, drawing pen on paper. Foto: Barata
Pohon Terakhir, drawing pen on paper. Foto: Barata

Pada karya-karya Rangga, kendaraan berat penggali pasir cukup dominan. Kendaraan ini mengeruk pasir untuk diambil biji besinya. Rangga mengonfrontirnya dengan pohon-pohon, manifestasi alam. Tidak sebatas pohon tumbang atau pohon meranggas namun pohon yang ditumpangi kendaraan pengeruk ini yang menempel seperti benalu. Selain pengeruk dan pohon, pipa-pipa panjang sebagai wujud industri juga ditampilkan Rangga, mengesankan kekuatan yang menggurita sekaligus labirin yang memusingkan.

Karyanya ‘Born Premature’, yang merupakan mix media, menampilkan perspektif tiga dimensi. Jaring-jaring hijau seperti janin menyimpan pengeruk pasir yang siap lahir, di atas drawing pipa-pipa industri. Yang satu telah terurai, bayi pengeruk siap bergerak. Semuanya ditempatkan dalam kotak kaca seperti etalase yang hanya bisa dilihat.

Berdiri di Atas Industri, drawing pen. Foto: Barata
Berdiri di Atas Industri, drawing pen. Foto: Barata

Selain karya ini, Rangga memakai teknik cukil kayu dan drawing di kertas. Kesederhanaan medianya tidak berarti keserderhanaan visualisasinya. ‘Berdiri di Atas Industri’ dan ‘Pohon Terakhir’ menunjukkan penguasaan dan ketelatenan drawingnya yang ciamik. Sedangkan cukil kayunya tidak kalah detail seperti pada karyanya ‘Tetap Hidup’.

Selain itu, secara estetis, Rangga juga mementingkan kesimetrisan dan komposisi yang enak dilihat. Drawing ‘Gesik Kanggo Panguripan’, yang menyeramkan, menyambungkan ujung asap industri dan ujung pohon yang meranggas di belakang wajah tengkorak para petani. Sosok normal hanyalah hasil bumi buah-buahan dan sayur-sayuran. Hasil bumi ini mendesak pengeruk pasir sehingga macet tak bergerak. Sulur-sulur tanaman merambah ke mana-mana. Mungkin inilah sisi optimisme Rangga bahwa alam akan terus bertumbuh dan berkembang walaupun dirangsek teknologi dan industri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR