Pameran Representasi, Mendiskusikan Kembali Perihal Kenyataan

0
27
Arena Tanpa Muka, 160 x 140 cm, akrilik di atas kanvas, 2017, karya Edo Pop. Foto: A. Sartono
Arena Tanpa Muka, 160 x 140 cm, akrilik di atas kanvas, 2017, karya Edo Pop. Foto: A. Sartono

Pameran Representasi yang dibuka Sabtu tanggal 6 Mei 2017 menandai pembukaan secara resmi galeri senirupa Pendhapa Art Space yang baru. Galeri baru yang beralamat di Jl Ring Road Selatan, Tegal Krapyak RT 01, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY ini terdiri dua ruang berbentuk letter L dengan luas 5 m x 20 m dan 5 m x 15 m dengan konsep kubus putih. Galeri ini diharapkan dapat menjadi ruang alternatif yang dapat mendukung karya-karya seniman untuk dapat bertemu dan berinteraksi dengan penikmatnya.

Pameran dengan tajuk Represntasi yang dilaksanakan hingga tanggal 16 Mei 2017 ini selain dimaksudkan sebagai bentuk peresmian galeri baru juga bertujuan untuk mendiskusikan kembali persoalan kenyataan dalam berbagai karya seni rupa. Sejumlah perupa yang berkarya dengan wujud dua dan tiga dimensi yang ditengarai karya-karyanya mempersoalkan realitas dan bekerja atas pendekatan realistik diundang sebagai peserta dalam pameran ini. Ada 27 orang perupa yang memamerkan karyanya.

#awaspoor# yang berlalu datang kembali, 180 x 250 cm, 2017, karya Rismanto. Foto: A. Sartono
#awaspoor# yang berlalu datang kembali, 180 x 250 cm, 2017, karya Rismanto. Foto: A. Sartono
Ibu Pahlawan Sejati, marbie polyester, 18 x 26 x 57 cm, 2017, karya Dunadi. Foto: A. Sartono
Ibu Pahlawan Sejati, marbie polyester, 18 x 26 x 57 cm, 2017, karya Dunadi. Foto: A. Sartono

Melalui karya-karya mereka itulah diharapkan persoalan realitas, realistik, dan realisme dapat dipercakapkan kembali. Karya-karya dalam pameran ini berada dalam konteks ‘realitas’ (pada kanvas atau tiga dimensional) sebagai tafsir realitas sebagai narasi spiritualitas. Kemudian dapat dipertanyakan, apakah realitas yang diolah para perupa ini merupakan realitas yang sungguh-sungguh dipahami atau hanya sekadar rasa haru yang melintas sekilas.

Orang bisa terus bertanya tentang apakah realitas. Realitas yang mana dan untuk siapa dan dimana ? Apakah dengan demikian, apa yang disebut realitas atau kenyataan itu menjadi relatif ? Lebih-lebih di era sekarang dimana jagad maya dan nyata hadir bersama dalam ruang dan waktu. Akibatnya kenyataan bisa tereduksi dan yang maya bisa menjadi sangat nyata. Inilah simulacra, yang maya dianggap (semakin) nyata.

Tentang Sejarah, perunggu, 76 x 58 x 57 cm, 2017, karya Komroden Haro. Foto: A. Sartono
Tentang Sejarah, perunggu, 76 x 58 x 57 cm, 2017, karya Komroden Haro. Foto: A. Sartono

Pada pameran ini dapat dicermati bahwa realitas yang sungguh dipahami (bukan sekadar rasa haru yang melintas sekilas) kemudian diendapkan dalam pikiran serta jiwa, diolah dengan metafora yang tepat, berpotensi menghadirkan kejutan-kejutan. Mengejutkan karena karya tersebut menghadirkan ‘realitas baru’ yang memprovokasi dan menggugah kesadaran kritis serta kesadaran reflektif. Kejutan juga bisa berarti ketidakterdugaan, yang- meminjam Goenawan Muhammad- memunculkan sesuatu yang ‘indah’.

Bongo Mengaum # 2, 162 x 110 x 90 cm, fiber (rencana perungu), 2017, karya Win Dwi Laksono. Foto: A. Sartono
Bongo Mengaum # 2, 162 x 110 x 90 cm, fiber (rencana perungu), 2017, karya Win Dwi Laksono. Foto: A. Sartono

“Keindahan tak sama dengan keapikan, kemolekan, dan kerapian, terutama di suatu ketika yang apik, yang molek, dan yang rapi jadi komoditas. Di zaman ini, keindahan adalah penampikan dari jerat komodifikasi, ketika sebuah hasil kerja, bahkan sebuah kehidupan, tak lagi unik, tak tergantikan, karena bisa ditukar dan dijadikan alat, kata lain dari benda,” demikian kalimat dari kurator pameran ini, Suwarno Wisetrotomo. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR