Upacara Adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri

0
96

Salah satu adat yang terus dilestarikan di kawasan Pantai Selatan Yogyakarta, tepatnya di Pedukuhan Mancingan, Kelurahan Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DIY adalah adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Bekti dapat dimaknai sebagai berbakti, pertiwi adalah bumi, sedangkan pisungsung dapat diartikan sebagai persembahan dan jaladri adalah samudera atau laut.

Kembang Sangga Buwana dan ubarampe lain siap dillabuh di Laut Selatan dalam adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono
Kembang Sangga Buwana dan ubarampe lain siap dillabuh di Laut Selatan dalam adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono

Secara keseluruhan istilah itu dapat diartikan sebagai berbakti pada ibu pertiwi dan memberikan ungkapan persembahan (syukur) dengan melarung ubarampe (kelengkapan atas segala sesuatu hajat) ke laut. Semuanya itu merupakan wujud syukur masyarakat Mancingan atas segala anugerah Tuhan yang mereka terima selama satu tahun ini. Baik itu berkah panenan, hasil usaha (berdagang), sebagai pegawai, maupun hasil yang mencukupi dalam menangkap ikan.

Bregada Lombok Abang Mancingan berkirab di pinggir Pantai Parangtritis dalam adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono
Bregada Lombok Abang Mancingan berkirab di pinggir Pantai Parangtritis dalam adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono

Untuk tahun 2017 ini adat atau merti dusun Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri dilaksanakan pada hari Selasa, 9 Mei 2017 mulai pukul 10.00-16.00 WIB dengan mengambil tempat di Pendapa Pariwisata Parangtritis dilanjutkan perarakan ke Cepuri Parangkusuma, yang dilanjutkan dengan labuhan ke laut.

Persiapan sesaji untuk dilabuh di laut dalam adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono
Persiapan sesaji untuk dilabuh di laut dalam adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono
Salah satu peserta dalam kirab adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono
Salah satu peserta dalam kirab adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri. Foto: A. Sartono

Rangkaian upacara ini diawali dengan acara ngguwangi atau memberikan sesaji pada tempat-tempat yang dianggap sakral atau keramat. Sesaji buwangan ini diletakkan dalam ancak kecil yang terbuat dari pelepah pisang dan bambu. Acara ngguwangi ini dilakukan pada hari Senin Pon, 8 Mei 2017. Hari Selasa Wage, 9 Mei 2017 kemudian dilaksanakan kenduri massal yang diikuti oleh warga RT 01- RT 08 di Pedukuhan Mancingan. Usai acara itu dilaksanakan andrawina (makan bersama). Setelah itu warga siap melaksanakan kirab gunungan dari hasil bumi dan berbagai ubarampe lain yang akan dilabuh di laut. Kirab dari Pendapa Parangtritis ke Cepuri Parangkusuma untuk caos dahar dilakukan dengan menyusuri tepian pantai.

Caos dhahar di atas sela gilang di dalam Cepuri Parangkusuma dilakukan sebagai wujud permohonan ijin kepada Ratu Kidul dan Panembahan Senapati bahwa warga Mancingan akan melaksanakan hajat upacara pisungsung jaladri atau labuhan sedekah laut. Usai caos dahar di Cepuri Parangusuma pisungsung jaladri dilaksanakan dengan melarung ubarampe sesaji ke laut. Ratusan pengunjung pun ikut menceburkan diri ke laut untuk dapat memperebutkan barang-barang yang dilabuh. Umumnya mereka percaya dengan mendapatkan barang-barang tersebut mereka akan beroleh rejeki, sehat, dan terhindar dari bahaya.

Sunarto SH MM selaku Kepala Dinas Kebudayaan Bantul secara resmi melepas kirab adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri di Pendapa Parangtritis: A. Sartono
Sunarto SH MM selaku Kepala Dinas Kebudayaan Bantul secara resmi melepas kirab adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri di Pendapa Parangtritis: A. Sartono
Masyarakat mencoba ikut mask ke laut untuk berebut sesaji dan ubarampe yang dilabuh. Foto: A. Sartono
Masyarakat mencoba ikut mask ke laut untuk berebut sesaji dan ubarampe yang dilabuh. Foto: A. Sartono

Upacara adat ini menjadi agenda rutin tahunan yang dilaksanakan di Mancingan sejak tahun 1989. Adat yang telah dilaksanakan oleh para leluhur di Mancingan sejak masa lalu ini semula dilaksanakan secara sederhana. Namun pada perkembangannya dilakasanakan secara lebih meriah dan semarak. Acara ini akhirnya juga menjadi acara yang ditunggu oleh banyak warga dan wisatawan mancanegara maupun wisatawan Nusantara. Oleh karena itu tidak aneh pula jika warga Mancingan bersepakat tidak membuka toko, kios, dan warungnya pada saat itu. Demikian pun para petani dan nelayan meliburkan di hari itu untuk dapat melaksanakan upacara adat tersebut. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR