Anoman Berumur Sangat Panjang

0
120

Kera putih yang hidup sejak jaman Ramayana, belum berakhir seiring dengan tamatnya cerita Ramayana. Ia masih perkasa di jaman sesudahnya, yaitu jaman Mahabarata. Hal tersebut dikarenakan Anoman adalah abdi dewa Batara Wisnu yang setia. Maka ketika Batara Wisnu mampu melintasi jaman, dari jaman Ramayana ke jaman Mahabarata dari menitis pada Prabu Ramawijaya berpindah menitis pada Prabu Sri Batara Kresna maka Anoman pun mengikuti dewanya.

Anoman melawan Yaksadewa yang adalah Batara Kala. Foto: Herjaka
Anoman melawan Yaksadewa yang adalah Batara Kala. Foto: Herjaka

Lebih panjang lagi, ketika jaman Mahabarata berakhir karena peperangan habis-habisan, negara Yawastina kembali menjadi hutan, dan jaman pun memasuki jaman baru, jaman Mamenang Kediri, Anoman pun masih hidup. Dikarenakan hidupnya amatlah panjang ia merasa lelah dan bosan. Dalam puncak kebosanan hidupnya, ia menjalani laku tapa untuk memohon agar hidupnya segera berakhir.

Karawitan pengiring pagelaran sebagian besar dari ISI Yogyakarta. Foto: Herjaka
Karawitan pengiring pagelaran sebagian besar dari ISI Yogyakarta. Foto: Herjaka

Permohonan Anoman didengarkan, Batara Guru dan Batara Narada turun dari Kahyangan untuk menemui Anoman. Dikatakannya bahwa Anoman dapat segera mukswa, hilang nyawa dan raganya, jika sudah berhasil menyatukan darah Yawastina dengan darah Mamenang Kediri. Untuk melakukan hal itu, Anoman diberi petunjuk agar berjalan ke arah Timur. Jika nanti bertemu dengan tiga ksatria yang diemong oleh Semar, itulah tanda bahwa kematian Anoman akan segera tiba.

Ki Catur Cang Pamungkas foto: Herjaka
Ki Catur Cang Pamungkas foto: Herjaka

Kisah ini diwujudkan dalam pentas Wayang Kulit Purwa pada 29 April 2017 di Taman Budaya Yogyakarta yang dibawakan oleh Ki Catur Cang Pamungkas SSn. Dalang muda berbakat ini menuturkan bahwa pakeliran padat selama 3 jam ini merupakan hasil garapan yang dipakai untuk ujian pendadaran sarjana di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Jika ditilik dari tokoh-tokoh dalam cerita ini, -selain Anoman, Panakawan dan para dewa, tidak ada dalam seri Ramayana maupun seri Mahabarata. Hal itu dibenarkan oleh Ki Catur Cang, bahwa sesungguhnya pekeliran ini adalah pakeliran wayang Madya bukan pakeliran wayang Purwa. Namun ‘apa-apa’nya masih meminjam pakeliran wayang Purwa termasuk juga wayangnya seperti tokoh: Prabu Jaya Purusa dari Widarba atau Prabu Sri Aji Jayabaya dari Mamenang, beserta anak-anaknya yaitu Raden Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti, Patih Saksara. Juga tokoh dari Negara Yawastina Prabu Sri Wahono beserta ke tiga anaknya yaitu: Darmokusuma, Darmosarana dan Hastodharma.

Pentas pakeliran di siang hari ini merupakan rangkaian pentas sepanjang tahun yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, dan Pepadi Komda Bantul pimpinan Ki Sujanto S Sn.

Anoman berhadapan dengan Yaksadewa yang adalah Batara Kala. Foto: Herjaka
Anoman berhadapan dengan Yaksadewa yang adalah Batara Kala. Foto: Herjaka

Pengabdian Anoman yang total, tulus dan tanpa pamrih kepada manusia titisan Wisnu telah menelusuri waktu yang amat panjang, dari jaman Ramayana, ke jaman Mahabarata dan menembus jaman Mamenang Kediri. Di Jaman Kediri inilah Anoman mengakhiri pengabdiannya. Ketika Sri Aji Jayabaya yang adalah titisan Wisnu memerintahkan agar Anoman berperang melawan Yaksa Dewa, Anoman taat melaksanakan perintah junjungannya. Dan rupanya itulah pengorbanan Anoman yang terakhir. Ia gugur di medan perang terkena gada inten. Namun sebelum meninggal Anoman telah berhasil merukunkan antara keturunan Yawastina dan keturunan Kediri. Dengan mengawinkan ketiga ksatria anak Prabu Sri Wahono dari Yawastina dengan ketiga putri anak Prabu Jayabaya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR