Karnaval Selendang Sutera, Merawat Kebhinekaan

0
287

Rwaneka dhatu winuwus Budha Siwa
Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa

(Konon Budha dan Siwa merupakan zat yang berbeda
Mereka memang berbeda tetapi bagaimana bisa dikenali
Sebab kebenaran Jina (Budha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran)

Bregada Taruna Manggala dari Tuksono Kulon Progo dalam Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono
Bregada Taruna Manggala dari Tuksono Kulon Progo dalam Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono

Demikian kutipan dari Kitab Sutasoma karya Empu Tantular di abad ke-14 M semasa Kerajaan Majapahit masih berjaya. Hal itu yang menginspirasi dan menjadi salah satu pedoman utama pendirian bangsa Indonesia. Yogyakarta yang disebut sebagai miniatur Indonesia dimana ada berbagai ras, suku, agama, dan lain-lain yang hidup dan bertumbuh bersama di kota ini wajib mewadahi dan mengelola semua itu dalam landasan bhinneka tunggal ika. Yogyakarta yang didatangi ribuan mahasiswa/pelajar dari berbagai penjuru tanah air sudah semestinya menjadi pelopor untuk merawat kebhinekaan itu.

Para mahasiswa-pelajar itu tergabung dalam IKPMD (Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah) di Yogyakarta. Dengan antusias mereka terlibat dalam Karnaval Selendang Sutera yang dilaksanakan oleh Seksi Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan DIY. Karnaval Selendang Sutera kali ini yang penyelenggaraannya dilaksanakan pada hari Minggu siang, 30 April 2017 serta melibatkan 20 kelompok IKPMD dan berbagai desa budaya dengan mengambil start dari Benteng Vredeburg dan finish di Alun-alun Sewandanan Pura Paku Alaman ini menyedot ribuan penonton.

Bregada Prajurit Plangkir dari Paku Alaman dalam Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono
Bregada Prajurit Plangkir dari Paku Alaman dalam Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono

Istilah Selendang Sutera dalam karnaval ini merupakan kependekan dari Semarak Legendang Dendang Suku Nusantara). Hal ini merupakan rangkaian program yang dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan DIY sejak tahun 2015. Kegiatan atau program ini merupakan wadah untuk mempertemukan serta saling memahami nilai-nilai budaya antaretnis sekaligus juga untuk memperkenalkan potensi kekayaan budaya dari berbagai desa/komunitas yang ada di Yogyakarta.

Komunitas Jathillan Arum Sari berfoto bersama di akhir Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono
Komunitas Jathillan Arum Sari berfoto bersama di akhir Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono
Atraksi dari Sanggar Srandakan Bantul dalam Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono
Atraksi dari Sanggar Srandakan Bantul dalam Karnaval Selendang Sutera. Foto: A. Sartono

Selain dalam bentuk karnaval acara ini juga dilengkapi dengan kegiatan lain seperti seminar, kemah budaya, dan gelar budaya. Kegiatan atau ajang budaya ini dirayakan semarak dengan semangat kebhinekaan dan diharapkan mampu menjadi modal bagi pembangunan bangsa yang adil, makmur, damai, dan tenteram.

Ada pun rombongan dari iring-iringan karnaval ini adalah Bregada Prajurit Plangkir, Bregada Prajurit Lombok Abang, Marching Band Bahana Jaya Samudera dari Akademi Maritim Yogyakarta, Komunitas Jeron Beteng, Barongsai dan Jathilan, Rumah Garuda, kelompok seni/budaya dari sejumlah desa budaya di DIY seperti dari Srandakan Bantul, Tuksono Kulon Progo, Turi Sleman, Wukirsari Bantul, Difabel Motorcycle Community, Jogja Garuk Sampah, dan lain-lain. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR