Merasakan Senyap Malam Lewat Foto

0
634

Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya yang merepresentasikan nuansa klasik. Terasa pas saat Eri Rama Putra mengambil Yogya sebagai obyek foto-fotonya dalam pameran bertajuk ‘Steps in Silence’ di ViaVia, Prawirotaman. Pameran yang berlangsung pada 15 April-10 Mei 2017 ini memajang sekitar 30 foto.

Area Tugu yang terkesan anggun. Foto: Barata
Area Tugu yang terkesan anggun. Foto: Barata

Pengantar singkat pameran menjelaskan bahwa ‘Steps in Silence’ merupakan upaya Rama untuk menangkap karakter sudut-sudut kota dalam keadaan yang sepi. Tiap malam, seorang diri, Rama memaksa dirinya untuk berkeliling membuat beberapa foto, hingga pada satu titik Rama tidak lagi menyadari apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Malam hari dan suasana sepi menjadikan Rama lebih sensitif untuk melihat dan merasakan serta melakukan refleksi dan berdialog dengan diri sendiri.

Pengantar pameran juga menjelaskan, Rama adalah lulusan Fotografi ISI Yogyakarta, dan salah satu seniman Ruang MES 56. Karya-karyanya banyak menggunakan fotografi sebagai medium atau perspektif yang kemudian dikombinasikan dengan intuisinya saat mengamati sebuah obyek atau fenomena dalam kesehariannya.

Lorong yang terasa kian lengang. Foto: Barata
Lorong yang terasa kian lengang. Foto: Barata

Foto-foto yang dipamerkan tidak disertai label judul. Tidak ada pula katalog atau brosur yang menjelaskan foto-foto ini. Hanya selembar pengantar singkat di atas. Namun kekuatan fotonya memang tidak memerlukan penjelasan. Foto-fotonya sudah cukup berbicara mengenai keheningan malam.

Kereta api yang bergemuruh memecah sunyi. Foto: Barata
Kereta api yang bergemuruh memecah sunyi. Foto: Barata
Kawasan usaha yang biasa ramai di saat senyap. Foto: Barata
Kawasan usaha yang biasa ramai di saat senyap. Foto: Barata

Setidaknya bagi saya, ada tiga hal yang mengesankan hal itu. Pertama, foto-foto yang dipamerkan menampilkan suasana lengang tanpa adanya sosok manusia. Ada satu foto tentang tukang becak yang tertidur di jok becaknya, itu pun dengan angle berfokus pada badannya, sebagai seonggok tubuh, tak tampak kepala dan wajahnya. Kelengangan tanpa manusia menguatkan tidak adanya aktivitas, tidak adanya dinamika. Sepi lebih terasa menggigit. Hidup serasa berhenti.

Saat beristirahat berselimut malam. Foto: Barata
Saat beristirahat berselimut malam. Foto: Barata

Kedua, format hitam putih yang mengentalkan kesan klasik. Format ini juga mengesankan keteduhan, misteri dan statis. Bahkan kereta melaju yang seharusnya membawa bunyi berisik terasa senyap di dalam foto ini. Ketiga, dalam format hitam putih ini, Rama memainkan cahaya dengan apik. Ia memanfaatkan cahaya lampu jalan dan lampu rumah yang terbatas.

Dua jalan yang lengang. Foto: Barata
Dua jalan yang lengang. Foto: Barata

Melalui foto-foto Rama ini, pada akhirnya kita tidak sebatas melihat sudut-sudut Yogya yang sunyi di waktu malam tetapi juga merasakan kesenyapan yang menyelimutinya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here