Lakon Matah Ati Ditampilkan dengan Apik oleh Paguyuban Hastungkara

0
631

Ketenteraman, kedamaian, kemakmuran adalah idaman semua orang. Akan tetapi apa yang terjadi jika di tengah masyarakat atau komunitas muncul orang-orang yang hanya berpikir dan berorientasi untuk kepentingan dirinya sendiri? Orang itu egois, tidak mempedulikan kesakitan dan kesengsaraan orang lain. Bahkan ia ikut menindas, merendahkan, dan mengorbankan orang lain demi kenikmatan hidupnya sendiri. Orang macam ini tentu akan menimbulkan perlawanan, pertikaian, dan bahkan peperangan.

Rubiyah diwisudah menjadi Raden Ayu Matah Ati dan memimpin pasukan wanita, Wira Pertiwi. Foto: A. Sartono
Rubiyah diwisudah menjadi Raden Ayu Matah Ati dan memimpin pasukan wanita, Wira Pertiwi. Foto: A. Sartono
Raden Mas Said dan Rubiyah (Raden Ayu Matah Ati) terlibat percintaan di tengah perjuangan. Foto: A. Sartono
Raden Mas Said dan Rubiyah (Raden Ayu Matah Ati) terlibat percintaan di tengah perjuangan. Foto: A. Sartono

Demikianlah, pada suatu ketika di Dusun Nglaroh, Raden Mas Said yang kemudian dikenal juga dengan sebutan Pangeran Sambernyawa dan kemudian bertahta dengan nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I, sedang menonton pertunjukan wayang kulit. Pada tengah malam ia melihat ada serombongan gadis remaja tidur bersama. Salah satu dari mereka memancarkan sinar dari pusarnya.

Dari peristiwa itu gadis yang bernama Rubiyah kelak diperistri oleh RM Said dan diberi gelar Raden Ayu Matah Ati. Cinta keduanya bersemi sejak semula dan ternyata Matah Ati yang berasal dari Dusun Matah dan merupakan putri dari Kyai Nur Alim ini memiliki kemampuan bela diri dan kemudian menjadi pemimpin prajurit wanita, Wira Pertiwi.

Perlawanan Mas Garendi bersama orang-orang Cina dan RM Said di Kartasura pada tahun 1742 menyebabkan Sunan Paku Buwana II melarikan diri ke Ponorogo. Akhirnya Sunan Paku Buwana II terpaksa menerima tawaran bantuan dari Kumpeni untuk merebut keratonnya kembali. Patih Pringgoloyo yang condong ke Kumpeni turut memperkeruh suasana.

RM Said dan RA Matah Ati siap melawan pasukan Humpeni-Kartasura. Foto: A. Sartono
RM Said dan RA Matah Ati siap melawan pasukan Humpeni-Kartasura. Foto: A. Sartono

Kepahlawanan Matah Ati tampak dalam perang melawan pasukan gabungan Kumpeni-Kartasura. Pasukan gabungan ini dapat didesak oleh pasukan Wira Pertiwi pimpinan Matah Ati. Namun akibat pengkhianatan Trinil yang kalah bersaing cinta dengan Matah Ati, Matah Ati dapat disandera oleh Kumpeni. Pringgoloyo yang hampir terbunuh oleh RM Said dapat diselamatkan Kumpeni dengan menyerahkan Matah Ati yang semula disandera kepada RM Said sebagai ganti nyawa Pringgoloyo.

Demikian suguhan ketoprak di gedung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta oleh Paguyuban Hastungkara Fakultas Pendidikan Bahasa Daerah A 2014 Universitas Negeri Yogyakarta pada Jumat malam, 28 April 2017. Suguhan ketoprak berdurasi kurang lebih 2 jam ini terasa memikat karena kemampuan rata-rata personilnya sekalipun masih muda (mahasiswa/sarjana baru) relatif cukup terasah, lebih-lebih mereka semua berlatih cukup intensif selama kurang lebih 2 bulan lama.

Dalam kebimbangan Sunan Paku Buwana II menerima tawaran Kumpeni untuk merebut tahtanya kembali dari Raden Mas Garendi (Sunan Kuning). Foto: A. Sartono
Dalam kebimbangan Sunan Paku Buwana II menerima tawaran Kumpeni untuk merebut tahtanya kembali dari Raden Mas Garendi (Sunan Kuning). Foto: A. Sartono

Pengadeganan kelihatan tertata cukup rapi demikian pun iringan gendingnya yang tampak templek (melekat) pada setiap adegan. Dengan demikian efek dramatisnya menjadi semakin kuat. Fokus adegan di Dusun Matah oleh para gadis desa tampak menonjol karakterisasinya sehingga adegan ini relatif menyihir penonton dengan ketegangan sekaligus gelak tawa karena kelucuannya yang tampak natural.

Trinil yang gagal mendapatkan cinta dari RM Said menangis jengkel karena diledek oleh teman-temannya. Foto: A. Sartono
Trinil yang gagal mendapatkan cinta dari RM Said menangis jengkel karena diledek oleh teman-temannya. Foto: A. Sartono

Naskah karya Bondan Nusantara yang disutradari oleh Hendra dan pimpinan produksi oleh Sukma Aji Pratama tampak berhasil secara keseluruhan sebagai buah kerja sama tim yang kompak dan serius. Tidak heran jika kemudian penonton demikian antusias menikmati sajian mereka dari awal hingga adegan berakhir tanpa beranjak dari kursi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here