Kirab Tebu Manten, Tradisi untuk Mengawali Proses Giling-Suling di PG Madukismo

0
323

Untuk mengawali masa giling dan suling secara rutin Pabrik Gula (PG) Madukismo Yogyakarta menyelenggarakan tradisi Cembengan yang puncaknya dilakukan dengan Kirab Tebu Manten. Cembengan yang dimeriahkan dengan pasar malam selama seminggu dilaksanakan dengan mengambil lokasi di emplasemen PG Madukismo.

Sepasang Tebu Manten memasuki kompleks PG Madukismo. Foto: A. Sartono
Sepasang Tebu Manten memasuki kompleks PG Madukismo. Foto: A. Sartono

Kirab Tebu Manten sebagai puncak dari serangkaian tradisi itu dilaksanakan pada hari Jumat, 21 April 2017, mulai jam 14.00-18.00 WIB. Start Kirab Tebu Manten dilaksanakan di Gedung Madu Candya menuju Masjid An Nuur Padokan kemudian berkeliling di sekitar kompleks pabrik gula dan masuk ke Stasiun Giling di dalam kompleks pabrik gula. Kirab Tebu Manten ini diiringi dan dikawal oleh beberapa bregada prajurit, kelompok-kelompok kesenian, organisasi masyarakat, marching band, edan-edanan, dan lain-lain yang kesemuanya mencapai sekitar 20-an kelompok.

Rombongan Kirab Tebu Manten menuju Stasiun Giling PG Madukismo. Foto: A. Sartono
Rombongan Kirab Tebu Manten menuju Stasiun Giling PG Madukismo. Foto: A. Sartono

Tebu manten laki-laki diberi nama Kyai Sukra sedangkan tebu manten perempuan dinamakan Nyai Manis. Tebu Kyai Sukra berasal dari perkebunan tebu di Purworejo (Jawa Tengah) sedangkan tebu manten perempuan berasal dari perkebunan tebu di wilayah Bantul (DIY). Sepasang tebu manten ini “diijabkan” di Masjid An Nuur dan dikirab setelah itu diserahterimakan dari peserta kirab kepada pihak PG Madukismo untuk kemudian ditempatkan di mulut mesin giling sebagai tebu yang pertama (sebagai cucuk lampah) untuk digiling.

Penonton berjubel siap menyaksikan Kirab Tebu Manten. Foto: A. Sartono
Penonton berjubel siap menyaksikan Kirab Tebu Manten. Foto: A. Sartono

Setelah tebu manten ditempatkan di mesin giling kemudian diadakan doa bersama oleh seluruh tamu, pimpinan dan karyawan PG Madukismo, pemegang saham agar proses giling-suling berjalan lancar dan aman. Selain itu diharapkan dengan demikian laba perusahaan akan diperoleh dengan nilai yang sangat memuaskan. Usai doa kemudian dilakukan penanaman kepala kerbau di depan Stasiun Giling yang dilakukan oleh Menperindag Inggartiasto Lukita yang diikuti oleh Komisaris Utama PG Madukismo, GKR Mangkubumi, jajaran pimpinan PG Madukismo, wakil bupati Bantul Abdul Halim Muslih, dan para tamu undangan dengan menyekop pasir untuk menimbun kepala kerbau yang telah dimasukkan ke dalam lubang.

Enggartyasto Lukita, Menteri Perdagangan meresmikan masa giling-suling di PG Madukismo dengan melakukan penanaman kepala kerbau. Foto: A. Sartono
Enggartyasto Lukita, Menteri Perdagangan meresmikan masa giling-suling di PG Madukismo dengan melakukan penanaman kepala kerbau. Foto: A. Sartono

Berkaitan dengan itu tebu yang akan digiling oleh PG Madukismo tahun 2017 ini diperkirakan sebanyak 550.000 ton yang berasal dari tebu rakyat kemitraan maupun tebu rakyat mandiri dari 10 kabupaten di wilayah DIY dan Jawa Tengah, yakni Bantul, Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul, Magelang, Temanggung, Purworejo, Kebumen, Purbalingga, dan Sragen. Pelaksanaan giling-sulin itu akan dimulai pada tanggal 6 Mei 2017 dan diharapkan selesai pada akhir bulan Oktober 2017.

Sesaji dan ubarampe dalam Upacara Kirab Tebu Manten. Foto: A. Sartono
Sesaji dan ubarampe dalam Upacara Kirab Tebu Manten. Foto: A. Sartono

Jadi, proses giling akan berjalan selama kurang lebih 160 hari dengan kapasitas giling harian rata-rata 3.500 ton tebu per hari. Dengan perkiraan rendeman rata-rata yang akan dicapai sekitar 7,15 %, maka jumlah gula yang akan dihasilkan diperkirakan sebanyak 39.325 ton. Selain itu, PG Madukismo juga akan mengolah raw sugar sebanyak 25.000 ton yang diperkirakan akan menjadi gula pasir sebanyak 23.500 ton. Seluruh produksi ini akan dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan gula konsumsi langsung masyarakat DIY dan Jateng selatan yang diperkirakan mencapai 120.000 ton. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR