58 Tahun Sanggarbambu: Mengajak Tersenyum dalam Semua Situasi

0
375
Suasana pameran 58 Tahun Sanggarbambu. Foto: A. Sartono
Suasana pameran 58 Tahun Sanggarbambu. Foto: A. Sartono

Ada masanya kita tak paham betul dimana pangkal persoalan dan ke mana ujungnya. Sementara arus semakin deras dan gelombang kian menggila, semakin keruh pula informasi dan fakta yang berbaur, bertindih peristiwa aksi reaksi, spekulasi, isu, rumor yang berkabut hoax. Ada masanya warga bangsa ini mengalami lunglai massal demi menyaksikan para wakil rakyatnya saling kalap berteriak mencaci dan berkelahi dalam sidang.

Namun beban tegangan di bibir jurang putus asa nasional itu perlahan melunak oleh ungkapan nyleneh sang kepala negara yang bernada spontan tanpa beban, seolah ia berada di posisi tak berkepentingan dengan peristiwa yang sedang berlangsung. Ungkapan itu kurang lebih berbunyi, “Sidang wakil rakyat kok seperti taman kanak-kanak.” Ada juga ungkapan lainnya, “Gitu aja kok repot.”

Anti Goreng, diameter 30 cm, minyak cat di atas metal, 2017, karya Sri Yadi Srinthil. Foto: A. Sartono
Anti Goreng, diameter 30 cm, minyak cat di atas metal, 2017, karya Sri Yadi Srinthil. Foto: A. Sartono

Ungkapan ini secara tiba-tiba seperti menyadarkan tentang perlunya heling lan waspada sebagai obat yang dibutuhkan di tengah sumpeknya kebuntuan. Obat itu rupanya semacam “ruang selo” atau oase yang berisi udara segar yang berkemampuan merangsang senyum dan tawa.

Sanggarbambu sebagai komunitas seni juga meyakini bahwa ketahanan sebuah negara dan bangsa salah satunya ditopang oleh keterampilan masyarakatnya dalam memproduksi, meningkatkan, dan mempertahankan kualitas senyum dan tertawanya. Sejak awal didirikannya pada tanggal 1 April 1959 di Yogyakarta oleh Soenarto Pr Sanggarbambu telah mengakadkan diri sebagai “Tempat Pertemuan dan Medan Persahabatan” dengan beberapa motto yang sempat populer di antaranya “Anda datang mau bekerja kami ikut. Anda datang mau bicara kami dengar.” Demikian antara lain paparan Kumbo Adiguno dalam pengantarnya untuk ulang tahun Sanggarbambu yang ke-58.

Patung Semar, anonim dalam pameran 58 Tahun Sanggarbambu. Foto: A. Sartono
Patung Semar, anonim dalam pameran 58 Tahun Sanggarbambu. Foto: A. Sartono

Perhelatan ulang tahun Sanggarbambu yang dimeriahkan dengan pameran lukisan mulai 1-7 April 2017 yang menampilkan lebih dari 400 karya dari ratusan perupa dan mengambil tempat di Galeri SMSR Yogyakarta ini bukanlah semata-mata pesta kegembiraan sebuah keluarga. Akan tetapi juga dihasratkan untuk mengenang dan meneladani para pendahulu, mensyukuri dan menjaga berkah kebhinekaan dalam persaudaraan, menyerukan dan merayakan kemanusiaan dalam kekerabatan kreatif yang menjamin keberlangsungan peradaban masyarakat pancasilais yang damai sejahtera.

Tampilnya sekian ratus karya oleh ratusan perupa barangkali menjadi semacam tanda bagi Sanggarbambu bahwa Sanggarbambu lebih menyerupai sebuah lingkaran trah atau marga pelaku dan pecinta seni yang terbuka, tidak dibatasai oleh ikatan darah, wilayah, ras, agama, atau etnis tertentu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here