Srikandi Menggugat Ketidakadilan

0
387

Srikandi Gugat adalah lakon yang dipilih Nyi Wulan Sri Panjang Mas sewaktu pentas di Tembi Rumah Budaya pada Jumat 17 Maret 2017. Pagelaran tersebut dalam rangka pentas apresiasi, memperingati hari jadi ke-6 paguyuban dalang muda Sukrokasih Yogyakarta. Rupanya ada kesengajaan untuk menyuarakan kesetaran gender di dunia pakeliran dan pedalangan. Mengingat bahwa profesi dalang selama ini didominasi kaum laki-laki, Nyi Wulan ingin membuktikan bahwa kaum hawa pun bisa menjalani profesi dalang dengan baik.

Dalang Muda Sukrakasih bersenda gurau dengan Nyi Wulan pada adegan Limbukan.
Dalang Muda Sukrakasih bersenda gurau dengan Nyi Wulan pada adegan Limbukan.

Berkaca pada tokoh Srikandi, Wulan ingin menunjukkan bahwa seorang wanita dapat mengambil alih kepemimpinan, seperti halnya Srikandi yang berani mengambil keputusan untuk meminta kembali Negara Hastina. Karena selama ini, walaupun Hastina menjadi haknya Pandawa, kelima laki-laki anak Pandu tersebut tidak mau memintanya. Alasannya tidak pantaslah jika hanya gara-gara warisan, sesama saudara saling membunuh.

Namun ketika Srikandi dengan didampingi Antasena sampai di Hastina, di sana telah bercokol Srikandi palsu yang bersuamikan Prabu Nila Pideksa dari Negara Tawangalun. Prabu Duryudana dan para Kurawa terpikat dengan tawaranan Nila Pideksa yang mengatakan bahwa ia telah berhasil memenjarakan Pandawa, dan siap untuk membinasakannya. Para Kurawa semakin percaya ketika raja dari Tawangalun ini berhasil mengalahkan Srikandi yang didampingi Antasena.

Nyi Wulan menunjukkan bahwa kemampuan berolah vokal dan sabet wayang tidak kalah dengan dalang laki-laki.
Nyi Wulan menunjukkan bahwa kemampuan berolah vokal dan sabet wayang tidak kalah dengan dalang laki-laki.

Atas kekalahannya, Srikandi naik di Kahyangan Alang-alang Kumitir, menggugat kepada Sang Hyang Wenang, mengapa keadilan dan kebenaran selalu kalah? Ya karena musuhnya adalah orang-orang sakti, orang-orang besar, yang mempunyai kekuatan besar dengan modal yang besar pula. Lalu bagaimana sebaiknya? Jangan khawatir Srikandi, engkau dapat mengalahkan kekuatan besar tersebut.

Sang Hyang Wenang menunjukkan jalan serta memberikan kekuatan kepada Srikandi agar dapat menegakkan keadilan dan kebenaran. Maka kemudian Srikandi didandani sebagai seorang ksatria, dengan nama Bambang Taliwangsa. Sementara itu Petruk dan Gareng ditugaskan untuk mengambil pakaian Batara Guru dan pakaian Batari Durga yang ditinggalkan pemiliknya di dalam goa.

Empat dalang putri diundang naik ke pentas oleh Nyi Wulan Panjangmas.
Empat dalang putri diundang naik ke pentas oleh Nyi Wulan Panjangmas.

Keadaan pun kemudian berbalik, siapa ‘salah bakal seleh.’ Prabu Nila Pideksa dan Srikandi dapat dikalahkan oleh Bambang Taliwangsa. Mereka yang sejatinya adalah Batara Guru dan Batari Durga kebingungan mencari pakaian mereka. Semar muncul sebagai penengah. Pakaian Guru dan Durga akan dikembalikan jika keduanya bertobat dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya kembali.

Pertobaan Batara Guru yang adalah seorang pemimpin, dunia untuk sementara menjadi tenteram dan damai. Sumber dari keonaran telah kembali kepada tugasnya. Menjadi raja Kahyangan Jonggring Saloka yang bertugas ngayomi serta melindungi kawulanya agar sejahtera dan bahagia.

Nyi Wulan terampil dalam memainkan Adegan Jaranan.
Nyi Wulan terampil dalam memainkan Adegan Jaranan.

Pentas wayang enam bulanan tersebut terselenggara atas kerja sama paguyuban dalang-dalang muda Sukrokasih Yogyakarta, Tembi Rumah Budaya, Radio MBS Yogyakarta dan Yogya TV Tradisi Tiada Henti. Tepat pada jam empat pagi, Nyi Wulan Sri Panjang Mas yang telah mendalang di depan umum pada usia 12 tahun, mengakhiri cerita Srikandi Gugat. Ada pesan yang disampaikan oleh putri dari Ki Kadino Hadi Carito tersebut, bahwa seorang wanita jangan dianggap ‘Krubyuk Kabotan Pinjung.’ Karena jika diberi kesempatan seperti halnya Srikandi, akan mampu mengatasi masalah bangsa dan negara.

Di belakang cucu dari Ki Prawirodiharjo dan buyut dari Ki Guno Wasita ada banyak calon dalang wanita. Pada mereka para pecinta seni pakeliran dan pedalangan boleh berharap bahwa kesenian ‘adi luhung’ tersebut akan lestari dan dapat menjadi sarana pencerahan bagi masyarakatnya dalam menjalani hidup berbangsa dan bernegara yang menyejukan dan membahagiakan. Semoga. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here