Gombal Artistik Arwin Hidayat

0
462
Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata
Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata

Direktur Artistik Kedai Kebun Forum (KKF) Agung Kurniawan sempat terkesiap saat Arwin Hidayat mengeluarkan selembar kain mori bergambar dari dalam tas kresek. Bukan semata lantaran banyak monster tergambar dalam kainnya tapi karena kain itu berhiaskan lukisan batik. Bagi Agung, batik dalam kenangan adalah benda yang setengah suci. Ia teringat batik milik neneknya yang digunakan untuk menutup jenasahnya bahkan diperebutkan oleh anak-anaknya.

Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata
Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata

Agung juga teringat pada medio 70–80-an batik sampai pada titik puncak kepopulerannya. Batik tidak hanya punya nilai ekonomi tetapi juga punya nilai simbolik yang sangat kaya. Batik lebih daripada hanya sebuah hiasan. Batik dipakai untuk membungkus bayi saat lahir, gendongan saat anak kian besar, pelengkap mahar dan pakaian saat dewasa, bahkan menutupi tubuh saat meninggal. Batik, lanjut Agung, kemudian dipilih sebagai identitas nasional dalam seni lukis Indonesia. Dikenallah seni lukis batik, dengan berbagai gaya dan corak seperti halnya lukisan-lukisan modern lainnya.

“Yang semula dikenakan sebagai kain penutup tubuh, diperlakukan dengan hormat dan hati-hati, diwariskan bahkan sampai bisa dijadikan jaminan utang, dipentang di atas spanram, disorot lampu kencar-kencar. Setelah sekian tahun diperlakukan seperti itu, perlahan namun pasti seni lukis batik mati. Diawali dengan sekarat lama akhirnya pada sekitar medio 90-an, bendera setengah tiang dikibarkan; seni lukis batik Indonesia mati. Bela sungkawa tak berlangsung lama bahkan tak sempat ada karangan bunga,” tutur Agung.

Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata
Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata

Menurut Agung, kain batik Arwin adalah perjumpaan kembali dengan batik setelah sekian lama dipaksa melihat lukisan batik ala modern itu. “Tentu berbeda dengan kain batik lama yang motifnya dipenuhi semua simbol budaya, yang tidak saja menunjukkan nilai-nilai yang luhur tapi juga feodal dan fasistik. Selembar kain batik kuno adalah kompleksitas budaya dengan seluruh spektrumnya,” katanya.

Agung menulis ini dalam pengantar pameran tunggal Arwin Hidayat di KKF Yogyakarta yang berakhir pada 31 Maret lalu. Pemilik KKF ini melanjutkan, “Dalam kain batik Arwin, sepertinya soal-soal rumit dan membuat kening mengernyit hilang. Figur-figur aneh dan sepintas terasa seperti lukisan-lukisan surealis memenuhi seluruh bidang gambar. Isen-isennya tidak seluruhnya berupa titik atau pola yang berulang, tetapi bentuk-bentuk ganjil yang melayang di sekitar obyek utama. Kain sering dibiarkan putih polos, sehingga monster monster itu semakin jelas terlihat.”

Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata
Batik karya Arwin Hidayat. Foto: Barata

Pameran Arwin ini memang menarik. Figur-figur yang ditampilkannya imajinatif, deformasi bentuk yang enak dilihat, plastisitas anatomi yang dibentuknya dengan leluasa. Bentukan figur-figurnya lebih khayali dibandingkan beragam mutan yang pernah saya lihat di film atau komik. Sebelumnya saya sudah kepincut saat melihat karya grafisnya pada pameran bersama di Miracle Prints. Terasa sensasi aneh saat menikmati karya-karya Arwin.

Entah kenapa pameran ini diberi tajuk ‘Gombal’, yang kesannya berseberangan jauh dengan batik. Gombal adalah kain yang tidak berharga, biasanya dipakai untuk membersihkan noda kotoran. Apakah ini pemosisian ‘rendah hati’ Arwin dalam spektrum keadiluhungan batik karena ia tidak menampilkan visual anggun dan indah seperti pada batik konvensional?

Karya-karya Arwin yang dipamerkan ini terasa lebih pas jika dipakai sebagai hiasan rumah ketimbang sebagai pakaian. Artinya, jika memang begitu, batik Arwin adalah karya seni rupa modern yang diperuntukkan untuk dipajang sebagaimana banyak karya seni rupa lainnya. Dalam konteks ini, batik karya Arwin bukan produk kerajinan tetapi karya seni rupa Apalagi dalam pameran ini, Arwin tak hanya menampilkan batik tetapi juga sejumlah karya grafisnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here