Nyi Wulan Sri Panjang Mas Mewarisi Darah Dalang Leluhurnya

0
374

Kesalahan yang dilakukan orang-orang kecil dampaknya kecil, kesalahan orang-orang biasa dampaknya biasa pula. Namun tidak demikian jika yang melakukan kesalahan adalah seorang pemimpin tertinggi, dampaknya akan luas dan menyeluruh. Dalam jagad pakeliran, Batara Guru sebagai pimpinan raja di Kahyangan, telah melakukan kesalahan fatal, yaitu menjatuhkan kama tidak pada tempat yang semestinya, kama salah, sehingga lahirlah Kala.

Nyi Wulan Sri Panjang Mas bersiap mendalang di Tembi Rumah Budaya. Foto: Herjaka
Nyi Wulan Sri Panjang Mas bersiap mendalang di Tembi Rumah Budaya. Foto: Herjaka

Kala kemudian meminta jatah makan kepada Batara Guru berupa manusia. Batara Guru memberi izin, orang sukerta (kotor) boleh menjadi makanannya. Namun kasihan juga orang-orang sukerta, bisa habis dimakan Kala. Oleh karenanya ia mengutus Batara Wisnu turun ke dunia menjelma menjadi Dalang Kandhabuwana untuk melindungi orang-orang sukerta dengan cara meruwat, agar tidak dimakan Batara Kala.

Dalang Kandhabuwana melaksanakan tugasnya turun ke dunia dibantu oleh penggender Surani penjelmaan Batara Brama dan pengendang Kalunglungan penjelmaan dari Batara Narada. Ketiganya tinggal di Desa Medhangkawit di rumah Mbok Randa Sumampir.

Setelah beberapa lama tinggal, dalang Kandhabuwana bertanya kepada Randha Sumampir:

Sinom
Ki dhalang Kandhabuwana
tanya mring Randha Sumampir
nyai ing salawasingwang
manggon ing wismanireki
apa ta boya dadi
ribet miwah katunanmu
sarehning nganti lawas
randha matur mangenjali
dhuh kyai estu mboten pisan pisan

Yen kadi kang pangandika
tan saged matur kang abdi
mulyaning badan kawula
rejane kang Medhangkawit
saestu awit saking
sawabipun Sang Linuhung
kang sarira Batara
punapa wales mami
tan lyan namung sumungkem bekti kawula
(serat Centhini Pupuh 160, pada 25 dan 26)

Terjemahan:
Ki Dhalang Kandhabuwana bertanya kepada Randha Sumampir: “Dikarenakan sudah lama tinggal di rumah ini apakah tidak merepotkan dan merugikanmu?” Randha Sumampir berkata dengan penuh hormat: ”Tidak sekali-kali seperti yang paduka katakan. Keberadaan Ki Dhalang yang adalah dewa, menjadikan diri hamba mulia dan Desa Medhangkawit sejahtera. Dengan cara apa hamba dapat membalasnya kecuali sembah bakti hamba.”

Cerita berlanjut, keturunan dalang Kandhabuwana ke-19 yang bernama Nyi Wulan Sri Panjang Mas, dari Kepuhsari Manyaran Wonogiri, Jawa Tengah, tiba-tiba muncul di Tembi Rumah Budaya pada 17 Maret 2017. Kedatangannya atas undangan Sukrokasih untuk mendalang pada peringatan hari jadi ke-6 paguyuban dalang-dalang muda Yogyakarta itu. Nama Panjang Mas nunggak semi dari keturunan Kandhabuwana ke-3, seorang dalang yang sangat terkenal pada masa pemerintahan Amangkurat Agung (1646 – 1677).

Menurut pengakuan Nyi Wulan, para leluhurnya adalah keturunan Kandhabuwana yang semuanya dalang. Ia lahir pada Minggu Paing 20 Juli 1980. Mulai mendalang sejak kelas 5 sekolah dasar.

Gaya Nyi Wulan saat berinteraksi dengan wayang yang di mainkan. Foto: Herjaka
Gaya Nyi Wulan saat berinteraksi dengan wayang yang di mainkan. Foto: Herjaka

Sarjana seni lulusan ISI Surakarta jurusan Pedalangan itu sudah tidak terhitung lagi pengalaman pentasnya. Tetapi ia menyebutkan beberapa pengalamannya mendalang, yaitu mendalang di Singapura, di luar Jawa, pentas 3 dalang bersama Ki Manteb Sudarsono dan Ki Purbo Asmara di Tugu Proklamasi tahun 2015 dan pentas 11 dalang pada Dies Natalis Universitas Negeri Surakarta pada tengah Maret ini.

Pada awalnya Dalang Kandhabuwana mempunyai tugas untuk meruwat anak sukerta (Serat Centhini Pupuh 160 s/d Pupuh 170). Wulan Sri Panjang Mas membenarkan, bahwa keturunannya hingga saat ini bisa meruwat, termasuk kakaknya yang tidak berprofesi sebagai dalang. Namun ia belum berani meruwat, karena belum mantu. Nanti pasti akan tiba saatnya ia mendapat tugas meruwat orang-orang sukerta seperti para leluhurnya.

Kini ia sedang berproses untuk memperdalam serta mematangkan profesinya sebagai dalang wanita. Nyi Wulan Sri Panjang Mas bertekad untuk handarbeni dan hangrungkebi seni pakeliran pedalangan warisang leluhurnya. Harapannya agar generasi muda peduli dengan kesenian adiluhung ini. Jangan sampai kalah oleh tontonan dangdut. Sedangkan orang luar saja banyak yang tertarik dengan kesenian yang menampung cabang seni paling lengkap ini.

Mudah-mudahan keberadaan dalang wanita Nyi Wulan Sri Panjang Mas membawa berkah serta kesejahteraan bagi Desa Manyaran Wonogiri dan sekitarnya, seperti keberadaan dalang Kandhabuwana di Desa Mendhangkawit. Dan pada saatnya nanti Nyi Wulan dapat meruwat orang-orang sukerta, baik orang-orang besar maupun orang-orang kecil agar tidak melakuan kesalahan fatal yang dapat merugikan orang-orang di sekitarnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR