Biennale Jogja XIV Equator #4 Didahului dengan Pameran Pra Biennale

0
426
Goddes Pramani, oil on canvas, 50 x 60 cm, 2015, karya Roby Dwi Antono. Foto: A. Sartono
Goddes Pramani, oil on canvas, 50 x 60 cm, 2015, karya Roby Dwi Antono. Foto: A. Sartono

Biennale Jogja XIV Equator #4 mengawali kegiatannya dengan pameran Pra Biennale guna mengumumkan nama-nama perupa Indonesia yang terpilih kepada publik. Selain itu juga untuk memberikan materi perkenalan berkaitan dengan Brasil sebagai negara mitra pilihan Biennale Jogja XIV kali ini.

Brasil dipilih menjadi mitra dalam kegiatan ini dengan alasan bahwa kedua negara ini memiliki beberapa kesamaan, yakni jumlah populasi yang besar. Selain itu, memiliki tingkat keragaman hayati yang tinggi. Persaingan hidup yang panas dan beragam persoalan yang muncul di kedua negara ini akan menjadi medan eksplorasi Biennale Jogja XIV. Kreativitas menghadapi persoalan yang mencemaskan hingga cara-cara memperjuangkan hidup dalam usaha menemukan harapan, menjadi gagasan yang ingin ditampilkan dalam Biennale Jogja XIV Equator #4 yang akan datang.

Guyub Rukun (two panel) mixed media on wood, 150 x 350 cm, 2017, karya Tattoo Merdeka. Foto: A. Sartono
Guyub Rukun (two panel) mixed media on wood, 150 x 350 cm, 2017, karya Tattoo Merdeka. Foto: A. Sartono

Pemilihan perupa Indonesia yang akan berkiprah dalam Biennale Jogja XIV Equator #4 ini dilakukan dengan mengumpulkan nama-nama mereka yang aktif dalam berkegiatan antara tahun 2011-2016. Rekam jejak mereka selama lima tahun terakhir menjadi rujukan utama panitia untuk melacak para seniman yang aktif di beberapa kota. Ada sekitar 900 nama terkumpul. Dari 900 nama itu kemudian diproses melalui tiga tahap penyaringan sehingga diperoleh jumlah 40 orang perupa, termasuk di dalamnya kelompok atau komunitas perupa yang aktif membuat kegiatan-kegiatan mandiri.

Perusahaan Kantor #2 digital print on laser cutting, acrylic, instalation variable dimension, 2017 karya Narpati Awangga a.k.a Oomleo. Foto: A. Sartono
Perusahaan Kantor #2 digital print on laser cutting, acrylic, instalation variable dimension, 2017 karya Narpati Awangga a.k.a Oomleo. Foto: A. Sartono

Proses penyaringan itu sendiri tentu saja bukan perkara yang mudah. Salah satu kriteria yang ditetapkan adalah persoalan usia dan para seniman tersebut belum pernah berkiprah dalam tiga Biennale Jogja sebelumnya. Selain itu panitia juga mendatangi studio kerja mereka dan melakukan wawancara untuk lebih mendalami kegelisahan dan konsep serta gagasan yang melatarbelakangi proses kreatif mereka serta tahapan-tahapan yang hendak mereka capai. Akhirnya diperolehlah 27 nama perupa terpilih.

Konstruksi Semesta, canvas, thread, dacron, frame, glass, 113 x 113 cm, 2015, karya Made Wiguna Valasara. Foto: A. Sartono
Konstruksi Semesta, canvas, thread, dacron, frame, glass, 113 x 113 cm, 2015, karya Made Wiguna Valasara. Foto: A. Sartono

Para perupa yang terpilih dalam Biennale Jogja Equator #4 ini adalah AdiDharma a.k.a Stereoflow, Aditya Novali, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cinanti Astria Johansjah, Faisal Habibi, Farid Stevy Asta, Gatot Pujiarto, Indieguerillas, Julian “Togar” Abraham, Kinez Riza, Lugas Syllabus, Made Wiguna Valasara, Maria Indriasari, Mulyana, Narpati Awangga a.k.a Oomieo, Ngakan Made Ardana, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Roby Dwi Antono, Sangkakala, Syaiful Garibaldi, Tattoo Merdeka, Timoteus Anggawan Kusno, Wisnu Auri, Yudha Kusuma Putera a.k.a Fehung, Yunizar, dan Zico Albaiquni.

Pameran Pra Biennale Jogja XIV Equator #4 itu dilaksanakan di Gedung PKKH UGM selaku lembaga yang digandeng panitia Biennale Jogja XIV Equator #4. Pameran dilaksanakan tanggal 20-25 Maret 2017. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here