Sunawi, Buruh yang Menggeluti Puisi

0
820

Sunawi bukanlah nama yang dikenal di area kepenyairan di Yogya, lebih-lebih di Indonesia. Namun ketekunan dia menulis puisi dan mengumpulkannya secara diam-diam, kiranya menunjukan bahwa dia tidak main-main dengan puisi, meskipun dia tidak dianggap sebagai penyair. Rasanya, bagi Sunawi, predikat penyair bukan tujuan, melainkan hanyalah efek dari aktivitas dia menulis puisi tiada henti.

Dia menulis puisi, ketika media cetak tidak lagi ‘memanjakan’ puisi dengan memberi ruang untuk ajang (calon) penyair ‘menguji’ puisi-puisinya. Karena itu, pada tahun 1970 sampai akhir 1980-an, mungkin malah tahun 1990-an, media cetak masih memberi ruang karya sastra, dalam konteks ini puisi.

Sunawi saat membacakan puisi di Tembi. Foto: Dok. Tembi
Sunawi saat membacakan puisi di Tembi. Foto: Dok. Tembi

Sunawi bukan orang yang ‘lahir’ pada masa itu, tetapi dia muncul ketika media sosial begitu dominan, dan orang bisa mempublikasikan puisinya melalui media sosial, tanpa ada seleksi dari redaksi. Celakanya, di tengah media sosial mudah sekali diakses, Sunawi tidak mampu melakukannya. Sebutlah dia gaptek. Dia hanya mampu menggunakan handphone dan hanya untuk sms dan telepon. Itu saja.

Sehari-hari, Sunawi adalah seorang buruh, bahkan dia menyebut diri sebagai buruh serabutan. Tetapi jenis pekerjaan yang dia geluti tidak menyurutkan semangat dia menulis puisi. Bahkan, seorang penyair perlu memiliki pekerjaan lain sehingga kebutuhan hidupnya bisa dipenuhi dari sana, bukan mengandalkan dari menulis puisi.

Dari jenis pekerjaan dan ketekunannya menulis puisi, agaknya, Sunawi sudah bisa membedakan dua kegiatan yang berbeda. Kegiatan pertama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Kegiatan kedua, adalah upaya untuk menumbuhkan minatnya di bidang sastra, dalam hal ini kreativitasnya dalam menulis puisi.

Dua jenis kegiatan itu, dia lakukan dengan kesungguhan yang sama, dan salah satu tidak saling menggangu, bahkan, mungkin malah saling menguatkan. Saya kira, melalui dunia kehidupannya, Sunawi mencoba menghayati dan mengekspresikannya melalui puisi.

Buku Puisi karya Sunawi. Foto: Dok. Tembi
Buku Puisi karya Sunawi. Foto: Dok. Tembi

Setiap acara Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan oleh Tembi Rumah Budaya, Sunawi selalu rajin datang. Orang mungkin tidak memperhatikan kehadiran dia. Tetapi, diam-diam, Sunawi belajar dari interaksi sosial di Sastra Bulan Purnama, dan hal itu menumbuhkan semangatnya untuk terus menulis puisi. Maka, antologi puisi pertama darinya, yang diberi judul “Lelaki Mengulum Senyum” ini adalah hasil dari ketekunannya dalam belajar secara diam-diam.

Antologi puisi pertama yang diberi judul ‘Lelaki Mengulun Senyum’ di-launching di Sastra Bulan Purnama, Senin 13 Maret 2017 bersama dengan tiga penyair lainnya. Sunawi yang rajin datang di Sastra Bulan Purnama, dan diam-diam selalu memperhatikan para penyair tampil membaca puisi, rupanya membuat semangatnya untuk menulis puisi semakin membara, dan dia terus menulis puisi, walalu tidak dikirimkan di media cetak.

“Malam ini, saya senang sekali bisa tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Satu acara sastra yang selalu saya hadiri dan membuat hati saya merasa senang,” kata Sunawi ketika tampil sebelum membaca puisi di Sastra Bulan Purnama Tembi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here