Pameran Terawang Borobudur di Jogja Gallery

0
864

Candi Borobudur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, yang berarti bahwa Candi Borobudur mendapatkan penilaian yang tinggi oleh dunia internasional. Penyampaian informasi yang meluas kepada masyarakat tentang eksistensi Candi Borobudur diantaranya dilakukan dengan menyelenggarakan pameran bertopik Terawang Borobudur Abad X.

Mengemban Tugas, 100 x 140 cm, oil on canvas, 2017 karya Kristy YN. Foto: A. Sartono
Mengemban Tugas, 100 x 140 cm, oil on canvas, 2017 karya Kristy YN. Foto: A. Sartono

Pameran yang diselenggarakan di Jogja Gallery Jl. Pekapalan Yogyakarta mulai tanggal 14-26 Maret 2017 ini dilaksanakan oleh Balai Konservasi Borobudur berkolaborasi dengan Jogja Gallery, PT Taman wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Komunitas Seniman Borobudur yang tergabung dalam KSBI 15 dan sektor kreatif lokal Lidiah Art dari Dusun Jawahan Borobudur.

Unfinished Budha, arca Budha yang belum selesai pengerjaan fisiknya namun sangat disakralkan. Foto: A. Sartono
Unfinished Budha, arca Budha yang belum selesai pengerjaan fisiknya namun sangat disakralkan. Foto: A. Sartono

Visual yang dikemas untuk pameran ini meliputi foto-foto lama, sketsa lama, relief yang berkaitan dengan kehidupan sosial pada abad X, relief alat musik, koleksi arca Budha, kala, makara, prasasti logam, nampan perunggu, teknik sambung batu, buku lama Borobudur, inspirasi Borobudur melalui hasil kerajinan craft lokal dan lukisan imajinatif terawang Borobudur abad X. Tujuan utama dari pameran ini adalah meningkatkan rasa kepedulian masyarakat terhadap kelestarian Candi Borobudur sebagai salah satu karya agung masa lampau dan diakui sebagai world heritage.

Materi pameran Terawang Borobudur Abad X dikelompokkan menjadi beberapa subtema sesuai dengan alur dan story line yang telah dibuat. Sub-subtema tersebut yakni Kondisi Candi Borobudur abad ke-10. Pada bagian ini materi berupa lukisan yang dibuat oleh para pelukis yang tergabung dalam KSBI. Lukisan-lukisan tersebut menggambarkan kondisi pembangunan Candi Borobudur serta masyarakat yang ada di sekitarnya. Kelompok kedua adalah masa penemuan kembali Candi Borobudur yang ditunjukkan dengan materi berupa replika prasasti Karan Tengah dan Sri Kahulunan.

Under The Silent, 140 x 190 cm, acryllic on canvas, 2017, karya Nurrochim. Foto: A. Sartono
Under The Silent, 140 x 190 cm, acryllic on canvas, 2017, karya Nurrochim. Foto: A. Sartono

Kelompok ketiga adalah gambaran pemugaran Candi Borobudur tahap I dan II serta naskah dan buku lama sebagai arsip dokumentasi pemugaran. Kelompok keempat adalah Candi Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia. Bagian ini berisi materi berupa poster dengan informasi terkait dengan kompleks Candi Borobudur, kriteria Warisan Dunia, monitoring, serta ancaman yang terjadi.

Kelompok kelima adalah koleksi Museum Borobudur, di antaranya Arca Budha, arca Unfinished Budha, Kala, Relung, Sambungan Batu, dan beberapa temuan ekskavasi. Kelompok terakhir menampilkan beberapa produk kerajinan dan industri masyarakat lokal yang terinspirasi oleh Candi Borobudur, seperti alat musik tradisional, batik, souvenir, kerajinan tangan, gerabah, dan lain-lain.

Gambaran pembangunan tahap I Candi Borobudur menurut Jaques Dumarcay (arsitek Perancis). Foto: A. Sartono
Gambaran pembangunan tahap I Candi Borobudur menurut Jaques Dumarcay (arsitek Perancis). Foto: A. Sartono

Candi Borobudur adalah mahakarya peradaban tinggi leluhur bangsa Indonesia yang di dalamnya ditemukan berbagai ilmu kehidupan seperti ilmu struktur dan konstruksi bangunan, arsitektur, ilmu gaya, ilmu ukur, sistem saluran air, seni pahat, tata ruang, pertukangan, pertanian, perikanan. Peternakan, seni gambar, seni musik, seni tari, seni suara, seni lukis, seni pertunjukan, tata krama, hubungan kemasyarakatan, transportasi, religi, moral, dan lain sebagainya. Candi ini dibangun selama tiga generasi, memerlukan 2 juta kubik potong batu, memuat 2672 panel, menggambarkan 40 lebih jenis alat musik, dan lain-lain. Kebesaran, kemegahan, keadiluhungan karya ini menjadi bukti tentang kejayaan dan “kedigdayaan” leluhur kita dari sisi budaya. Kita patut bangga, hormat, dan wajib melestarikannya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here