Potret Dunia Cyber yang Kian Hingar Bingar

0
413

Walking stalking (rasa keingintahuan yang mengusik privasi orang secara berlebihan) di dunia cyber mengusik tiga perupa muda yakni Cahaya Novan, Erza Q-Pop, dan Arif Hanung. Disadari atau tidak banyak orang menjadi pelaku walking stalking atau juga menjadi korban para stalker. Dunia cyber sangat memudahkan penyebaran informasi sekaligus pencarian informasi. Pada sisi lain kemajuan dunia cyber ini barangkali juga menjadi penyakit baru atau sarana baru yang memiliki daya ganggu yang bahkan bisa berkecenderungan jahat atau kriminal.

Monolog 18, variable dimension, acrylid, marker on manekin, 2017, karya Cahaya Novan. Foto: A. Sartono
Monolog 18, variable dimension, acrylid, marker on manekin, 2017, karya Cahaya Novan. Foto: A. Sartono

Kegelisahan akan hal itulah yang mendorong ketiga perupa itu menggelar pameran seni rupa dengan topik # KZL (Hastag Kazetel). Pameran dilangsungkan di Bentara Budaya Yogyakarta mulai tanggal 15-22 Maret 2017. KZL sendiri adalah sebuah singkatan dari kata kesel yang dalam bahasa Jawa berarti lelah (capai). Istilah ini beriring dengan istilah-istilah lain seperti titi dj, lelekong, bingit, mekong, cucok, baper, damn !, ppft, f**k, huft, dan lain-lain di dunia maya demikian menggejala dan bahkan menjadi semacam gaya hidup baru di dunia itu. Istilah-istilah tersebut digunakan dengan tujuan agar pengungkapan yang bersifat rahasia tidak mudah dimengerti oleh masyarakat yang masih konservatif.

Dexterity, 200 x 300 cm (3 panel) acrylic on canvas, 2017, karya Arif Hanung. Foto: A. Sartono
Dexterity, 200 x 300 cm (3 panel) acrylic on canvas, 2017, karya Arif Hanung. Foto: A. Sartono

#KZL dalam pameran ini hanyalah sebuah pintu pembuka untuk memahami paradigma dan banyaknya fenomena baru tentang dunia kekinian. Ruang kekinian bisa didapati di night club, mall, café dan lain-lain. Di sinilah para stalker sering bertemu secara offline dalam suasana yang cenderung hedonis. Wanita ber-hotpants dan bersepatu high heels dalam suasana party, minuman beralkohol, musik DJ yang bergairah menjadi gambaran dunia kekinian itu. Mereka kemudian melakukan selfie atau wefie dengan smartphone yang kemudian di-share kepada teman seperti menunjukkan selera dan kelas sosial mereka yang kekinian sekaligus hedonis. Stalking menjadi semacam kebutuhan yang menagih terus-menerus tanpa bisa berhenti. Hal demikianlah yang ingin dipresentasikan ketiga perupa tersebut di atas.

Position Favors, 80 x 110 cm dan Hours Says Fondling, 80 x 110 cm, acrylic on canvas, 2017 karya Erza Q-Pop. Foto: A. Sartono
Position Favors, 80 x 110 cm dan Hours Says Fondling, 80 x 110 cm, acrylic on canvas, 2017 karya Erza Q-Pop. Foto: A. Sartono

Tidak ada hedonisme yang tanpa risiko. Pameran ini memberikan isyarat atau warning akan hal itu bagi para hedonis yang mungkin bermula dari interaksi cyber. Melalui pameran ini audien dapat menangkap potret kekinian untuk merekonstruksi pemikiran menuju masyarakat yang berkualitas dan menjadi bangsa yang besar. Pameran ini mungkin hanya merupakan secuil dari berjuta kasus yang terjadi di dunia atas dampak adanya saling interkoneksi. Demikian papar Heri Kris selaku kurator dalam pameran ini.

Trisam @ 40 x 30 cm (3 panel) digital image on phopaper, 2017, karya Cahaya Novan. Foto: A. Sartono
Trisam @ 40 x 30 cm (3 panel) digital image on phopaper, 2017, karya Cahaya Novan. Foto: A. Sartono

Secara sederhana dapat disampaikan bahwa hendaknya semua orang tetap smart dalam menggunakan smartphone-nya yang semakin canggih program dan aplikasinya. Hendaknya tidak pernah “kezel” untuk selalu mengkaji dan mencermati perkembangan budaya kekinian yang paling up to date yang kehadirannya mungkin seperti sebuah pisau tajam dimana pisau tersebut bisa digunakan untuk memotong sayur dengan baik namun juga bisa jadi alat untuk membunuh/kejahatan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here