Toleransi Bagi Perupa Bagelen Jadi Teloransi

0
518

Teloransi, demikian tema yang disuguhkan oleh Komunitas Pelukis Bagelen dari Purworejo, Jawa Tengah dalam pameran bersama di Bentara Budaya Yogyakarta,3-11 Maret 2017. Pameran yang dibuka secara resmi oleh Bupati Purworejo, H Agus Bastian SE MM dan dimeriahkan dengan pentas seni dolalak ini sepertinya hendak menyindir dengan sinis tentang riuhnya situasi di dalam negeri yang akhir-akhir ini persoalan toleransi telah mengalami kenyataan yang benar-benar tela.

Crescent in Jail, acryllic on canvas, 150 x 200 cm, karya Bramantyo AST. Foto: A. Sartono
Crescent in Jail, acryllic on canvas, 150 x 200 cm, karya Bramantyo AST. Foto: A. Sartono

Toleransi menjadi sedemikian tela-nya karena seseorang/kelompok tertentu kemudian seperti hendak menihilkan orang/kelompok lain dengan berbagai alasan. Tela pada idiom ini menjadi semacam gambaran (bahkan umpatan halus) dalam masyarakat Jawa, yang mungkin mirip dengan umpatan yang menggunakan kata kadal, wedhus, tekek, dan seterusnya.

Ketika istilah toleransi dibelokkan atau diplesetkan menjadi teloransi, ini menunjukkan kekecewaan, ketidaksukaan, ketidaktepatan dalam menerima fakta perihal toleransi. Kelompok seniman Purworejo ini gundah mempersoalkan wacana tentang toleransi yang tergerus oleh berbegai persoalan. Agama yang diharapkan mampu membawa nilai-nilai toleransi, kebersamaan, tenggang rasa, namun justru sebaliknya. Agama masuk dalam pusaran persoalan yang merobohkan toleransi. Agama telah diserobot dan digadaikan oleh sekelompok orang menjadi telo yang mereduksi nilai-nilai luhur toleransi. Demikian antara lain yang disampaikan Kuss Indarto selaku penulis seni rupa dalam pameran ini.

Crying, acryllic on canvas, 110 x 150 cm, karya Amin Al Arif. Foto: A. Sartono
Crying, acryllic on canvas, 110 x 150 cm, karya Amin Al Arif. Foto: A. Sartono

Lebih lanjut disampaikan bahwa secara umum pameran ini masih menyimpan persoalan, yakni adanya dua hal penting dalam seni rupa: dunia bentuk dan dunia gagasan. Dunia bentuk menyangkut problem teknis dalam praktik kekaryaan seni rupa, yakni bagaimana seorang seniman itu memperhatikan aspek teknis menggambar yang baik dan terampil. Sementara dunia gagasan lebih menyangkut pada persoalan bagaimana seorang seniman memiliki kepekaan atau sensibilitas dalam mengisi karyanya lewat gagasan dan konsep yang jelas, tegas, dan cerdas.

Bupati Purworejo, H Agus Bastian SE MM melakukan pemukulan bedug sebagai tanda dibukanya pameran seni rupa Teloransi di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono
Bupati Purworejo, H Agus Bastian SE MM melakukan pemukulan bedug sebagai tanda dibukanya pameran seni rupa Teloransi di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: A. Sartono

Problem bentuk itu menyoal dunia visual. Sedangkan problem gagasan menyoal dunia substansial. Ini menjadi persoalan besar yang sebaiknya diagendakan untuk ditingkatan dan diperbarui terus-menerus oleh para anggota komunitas ini. Memang seni itu bebas, namun hal yang lebih mendasar dari tuntutan akan kebebasan itu adalah bahwa seni itu sebaiknya juga cerdas. Bisa cerdas visual, maupun cerdas substansial.

Komunitas Pelukis Bagelen ini merupakan komunitas yang masih belia, didirikan oleh Bramantyo Astadi pada 24 Maret 2016. Pendirian komunitas ini bertujuan untuk mengakomodasi para pelukis yang datang dari berbagai usia dan latar belakang yang ada di Purworejo agar dapat memotivasi dan berkarya bersama dan berusaha memberikan warna pada dunia seni rupa di Purworejo. Bahkan juga berkeinginan untuk mengangkat dunia seni rupa Purworejo agar setara dengan wilayah-wilayah lain di sekitarnya, yakni Magelang, Wonosobo, bahkan kalau mungkin sedikit mengejar keterpautan yang jauh dari perkembangan seni rupa yang ada di Yogyakarta sebagai tetangga dekatnya.

Guyub, acryllic on canvas, 80 x 100, karya OOS AB. Foto: A. Sartono
Guyub, acryllic on canvas, 80 x 100, karya OOS AB. Foto: A. Sartono

Sebagai perbandingan perlu disampaikan bahwa 2-3 tahun terakhir ini Yogyakarta dihujani dengan 300-400-an perhelatan seni rupa yang digelar di saentero kawasan. Mulai dari ruang-ruang seni yang dibuat dadakan, permanen milik swasta, hingga ruang permanen yang mengantongi surat legal formal dari negara. Sementara di Purworejo dalam setahun hanya ada satu-dua pameran seni rupa yang dihelat oleh perupa lokal, dengan segala keterbatasannya. Pada sisi frekuensi perhelatan seni rupa ini saja sebenarnya telah ditunjukkan bahwa Purworejo dalam hal pertumbuhan dan perkembangan seni (rupa) jauh tertinggal dibandingkan dengan Yogyakarta.

Lenggak Lenggok, korek gas, kunci bekas, di atas kaca, diameter 105 cm, karya Dibyo Sumantri. Foto: A. Sartono
Lenggak Lenggok, korek gas, kunci bekas, di atas kaca, diameter 105 cm, karya Dibyo Sumantri. Foto: A. Sartono

Sekalipun demikian, api semangat dan kreasi dari Kelompok Pelukis Bagelen ini patut diapresiasi dan didorong untuk terus maju dan berkembang. Pameran mereka di Yogyakarta barangkali merupakan sebagai salah satu cara mereka menggodog diri di kawah candradimukanya ibukota seni rupa, Yogyakarta, yang begitu penuh spirit kompetisi yang sangat tinggi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here