Antagonisme Surealis dalam Karya Agni Saraswati

0
433

Sepintas karya Agni Saraswati dalam pameran seni lukis tunggalnya di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta dengan tema “Antagonisme” menunjukkan corak surealis. Pameran yang dihelat mulai tanggal 1-15 Maret 2017 dengan menampilkan 20-an karya rupa ini bila dicermati seperti bisa mengeluarkan kekuatan teror dan suasana horor dengan cara yang ganjil, namun sekaligus juga padat dengan humor-satire.

The Magic Box, acryllic on canvas, 150 x 125 cm, 2016, karya Agni Saraswati. Foto: A. Sartono
The Magic Box, acryllic on canvas, 150 x 125 cm, 2016, karya Agni Saraswati. Foto: A. Sartono

Sebagai individu yang besar di Yogyakarta, dimana surealisme matang di kota ini corak karya Agni bisa dengan perkembangan lanjut dari surealisme yang ada di Yogya dengan gejala yang berbeda. Corak penggambarannya berbeda dengan pengalaman surealisme Ivan Sagita atau Lucia Hartini. Namun mungkin bisa diperbandingkan dengan karya novelistik Wara Anindyah, Sekar Jatiningrum, dan Ayu Arista Murti. Apa yang ditempuh Agni menunjukkan eksplorasi yang memungkinkan dirinya bermain dengan simbol-simbol imajiner.

Unforgivable Sinner, acryllic on canvas, 150 x 125 cm, 2017, karya Agni Saraswati. Foto: A. Sartono
Unforgivable Sinner, acryllic on canvas, 150 x 125 cm, 2017, karya Agni Saraswati. Foto: A. Sartono

Seperti kuratorial yang dituliskan oleh A. Sudjud Dartanto, Agni mengakui ia seperti membuat film atas karya-karyanya. Subjek dan objek-objek pada karyanya ditata dengan kesan filmis, dan ini menolongnya untuk mencapai efek-efek dramatis pada tiap lukisannya. Pada karya ini kita tidak sedang melihat sesuatu penggambaran realisme, yakni ekspresi yang merekam objek apa adanya, namun Agni melakukan personifikasi atas subjek dan objek itu sebagai distorsi atas realisme, ini khas praktik surealisme: penggambarannya tidak menunjukkan objek langsung, namun diungkapkan secara simbolik, semacam pengalaman apokaliptik Agni atas imajinasi yang ia lihat dan ia rasakan. Tentu saja fase dimana ia memahami antagonisme sebagai sesuatu yang nyata.

Word Parade, acryllic on canvas, 60 x 80 cm, 2014, karya Agni Saraswati. Foto: A. Sartono
Word Parade, acryllic on canvas, 60 x 80 cm, 2014, karya Agni Saraswati. Foto: A. Sartono

Karya Agni bisa menjadi jalan psikoanalitiknya. Ia leluasa mengungkapkan berbagai hal yang ia alami, rasakan dengan segala benturan, tekanan, paksaan, dan hukum-hukum kenyataan. Karya-karyanya menjadi sebuah ruang percakapan antara aku yang berhasrat dengan aku yang harus tunduk pada prinsip-prinsip realitas. Dalam tautannya dengan pengalaman psiko-sosial kita, pengalaman psikoanalitik Agni bisa berarti sebuah jeritan atas persoalan psiko-sosial kita. Tidakkah kita juga merupakan bagian dari antagonism ini di tengah pertarungan abadi atas cara bagaimana seharusnya masyarakat dibentuk, yaitu dorongan menyatukan masyarakat ke dalam satu ide saja, satu imajinasi, dimana hal ini asimetris dengan kenyataan bahwa masyarakat justru terbangun secara alami melalui antagonism-antagonismenya. Demikian pungkas A. Sudjud Dartanto dalam catatan kuratorialnya atas pameran ini. (*)

Konten Terkait:  Hibernasi Yassir Malik dalam Dunia Seni Rupa

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here