Serpihan Provokatif Yudi Yudoyoko

2
586

Seniman Yudi Yudoyoko memamerkan karya-karya videonya di Langgeng Art Foundation, Yogyakarta, yang berakhir pada 28 Februari 2017. Menonton video Yudi sejak awal sampai selesai serasa disengat dengan gambar dan kalimat yang aneh dan menohok. Yang menarik, dengan imajinasi liarnya ini penonton tetap ditarik ke dunia realita Yudi sendiri sehingga menjadi membumi.

'Aku besembunyi di dalam jaringan'. Foto: Barata
‘Aku besembunyi di dalam jaringan’. Foto: Barata

Pameran bertajuk ‘Serpihan-serpihan’ ini diselenggarakan oleh Langgeng Art Foundation dan Equator Art Projects. Ada dua karya video yang dipamerkan, yakni ‘Serpihan-serpihan’ (durasi 14 menit) yang dibuat pada tahun 2012-2016, dan ‘Aku bukanlah siapa yang semestinya diriku, aku bukan yang mereka kira apakah aku’ (durasi 12 menit) yang dibuat pada tahun 2016. Masing-masing video ini dibagi lagi dalam fragmen-fragmen foto yang disertai teks yang muncul secara bergantian. Dalam ‘Serpihan-serpihan’, topeng, pemeran, fotografi, teks dan video dikerjakan oleh Yudi. Begitu pula dalam ‘Aku bukanlah…’, foto, model, teks dan video dikerjakan Yudi. Kecuali musik, yang mengalun sendu, kelam, dan mencekam.

'Aku bersembunyi di balik kata-kataku'. Foto: Barata
‘Aku bersembunyi di balik kata-kataku’. Foto: Barata

Kurator pameran Rifky Effendy menjelaskan dua karya video Yudi ini merupakan karya mutakhir yang merepresentasikan capaian artistik dan estetiknya. Rifky menuturkan, sejak bermigrasi ke Uruguay, Yudi seolah mendapatkan kembali duniannya, sehingga bisa lebih bebas menggali gagasan dan mengekspresikan dirinya.

Seniman kelahiran Jakarta ini sudah lama terpengaruh dunia artistik dari Latin terutama ikonografinya yang di luar nilai arus utama dan aneh. Menurut Rifky, gagasan Yudi memang selalu cenderung menerobos batasan formal dan norma masyarakat umum di Indonesia. “Seringkali karya-karyanya menohok, provokatif, sinis, kadang vulgar, menyindir dengan cara yang menyayat dan menusuk. Bermain dengan batas kefatalan, tetapi sekaligus menampilkan garapan artistik yang apik, dan intelek,” ujar Rifky.

'Aku bersembunyi di balik jiwaku'. Foto: Barata
‘Aku bersembunyi di balik jiwaku’. Foto: Barata

Secara keseluruhan, Rifky menafsirkan karya-karya Yudi banyak membincangkan tentang dosa, hasrat, dan kekelaman lain, yang disampaikan melalui dirinya. Yudi sekaligus menyelami kehakikian manusia yang mendalam sehingga nilai–nilainya juga menyangkut persoalan manusia secara umum dan universal.

Menurut Rifky, dalam ‘Serpihan-serpihan’, topeng gubahan Yudi menjadi sangat eksploratif dengan berbagai bentuk yang sangat mutakhir dan kontemporer, disesuaikan dengan artikulasi melalui tubuh dan ekspresinya. Topeng merupakan fokus dari karya ini yang berhubungan dengan nilai tersembunyi manusia. Sedangkan karyanya, ‘Aku bukanlah …’, menurut Rifky, mengambil beberapa elemen dari karya pelukis Belanda abad ke-16, Hieronymus Bosch. Rifky menjelaskan, karya Bosch banyak menggambarkan dunia aneh yang penuh mahluk hybrid, dengan adegan penyiksaan yang aneh dan janggal yang oleh banyak sejarawan ditafsirkan sebagai siksa neraka abad pertengahan di Eropa. Rifky menilai, video ini menunjukkan manusia dengan berbagai jati dirinya yang paradoks.

Teks fragmen Serpihan dalam ‘Serpihan-serpihan’ mungkin bisa menjelaskan. “Di setiap sudut dan setiap belokan di kehidupanku aku tinggalkan seserpih dari diriku, dan setelah bertahun-tahun dan perubahan yang tak terhitung, sekalipun aku gunakan semua kesabaran serta semua kepandaianku, tak bisa aku menyatukan kembali dan mengenali wajahku yang sebenarnya.”

'Anatomi dari Kenangan'. Foto: Barata
‘Anatomi dari Kenangan’. Foto: Barata

Estetika karyaYudi bukan saja diwujudkan dalam karya visual tetapi juga dalam teks-teks yang tajam dan provokatif, serta menelanjangi dirinya. Misalnya teks dalam fragmen Kerikil (‘Serpihan-serpihan’), “Kerikil tak pernahlah terbang. Suatu ketika aku percaya bahwa aku adalah sebongkah emas yang hanya sekadar menunggu untuk ditemukan. Keparat, satu-satunya yang aku ketemukan adalah bahwa setiap manusia sama histerisnya untuk mendapatkan perhatian dan menempatkan dirinya di pusat. Aku sebelumnya bercahaya dan sesudah berpuluhan tahun debu menutupiku kembali, lalu bukan apa-apa, aku hanyalah sebuah kotoran di bawah tanah.”

Topeng-topeng karya Yudi. Foto: Barata
Topeng-topeng karya Yudi. Foto: Barata

Sedangkan dalam ‘Aku bukanlah…’, Yudi selalu mengawali judul fragmen-fragmennya dengan ‘Aku bersembunyi di’, yang diikuti dengan rambutku, kulitku, egoku, dan lainnya. “Aku tak dihargai sebagaimana diriku, melainkan melalui apa yang menutupiku,” tulisnya. Pada fragmen ‘Aku bersembunyi di balik pandangan mataku’, ia mengatakan, “Kedua mata yang terbuka, atau ketika memejam rapat, menghasilkan sebuah lapisan tipis berupa topeng dari kebenaran itu sendiri. Barang siapa yang menginginkan untuk melihat ruh melaluinya, maka ia hanya sekedar terperangkap dalam kekosongan.”

Karya-karya Yudi sungguh terasa kelam. Tapi dalam fragmen Gotik (‘Serpihan-serpihan’), ia menjelaskkan bahwa kegelapan maupun kesuraman merupakan pintu untuk mengenali kelemahan diri sendiri dan berdoa karena pada saat terang ia tidak khawatir apapun.

'Wajah Geometris'. Foto: Barata
‘Wajah Geometris’. Foto: Barata

Yudi Yudoyoko, tamatan Fakultas Seni Rupa dan Desain jurusan Seni Lukis Institut Teknologi Bandung, sejak 2003 menetap di Montevideo, Uruguay. Di sana ia mendapat berbagai penghargaan serta beasiswa sebagai seniman dan peneliti, antara lain penghargaan seni rupa nasional Uruguay dan penghargaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Uruguay untuk proyek riset serta pameran internasional yang mengartikulasikan seni rupa dan desain. Profil dan karyanya diterbitkan dalam sejumlah buku. Sebagai seniman ia aktif berpameran secara tunggal dan kolektif di negara-negara di Asia, Amerika Serikat, Amerika Latin, dan Eropa. (*)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here