Partitur dalam Pameran Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta

0
450

Sanggar Dewata Indonesia Yogyakarta (SDIY) pada tahun 2017 ini telah berusia 46 tahun. Pada tahun ini pula SDIY menyuguhkan pameran karya-karya 49 seniman terpilih dengan mengambil tema Partitur. Tema ini tampak sejalan dengan semboyan gilik saguluk, salunglung sabayantaka, paras-paras sarpanaya yang mendasarkan diri pada rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan gotong royong. Spirit lokal bebanjaran yang sarat akan nilai kekeluargaan, kebersamaan dan gotong royong menjadi pondasi utama SDIY untuk tetap dapat bertahan dan bergerak ke depan.

Berlapis-lapis di Dalam, oil on canvas, 120 x 90 cm, 2016, karya Ivan Sagita. Foto: A. Sartono
Berlapis-lapis di Dalam, oil on canvas, 120 x 90 cm, 2016, karya Ivan Sagita. Foto: A. Sartono

Partitur sengaja diambil sebagai bingkai dari pameran ini dengan konteks bahwa pameran ini sebagai bagian dari aransemen lagu.notasi yang hendak menangkap lapisan pemikiran dan kekuatan ritme harmoni perupa SDIY dalam membicararakan gagasan dan aspek objek yang menjadi kajian artistiknya. Karya perupa SDIY sangat variatif, penuh layer, tema terkini, dan metaphor yang penuh kegelisahan. Melalui kuratorialnya A Anzieb hendak menemukan benang merah dari gugusan pemikiran antarseniman muda SDIY dengan seniman senior yang telah mapan secara teks dan estetika.

Dari kiri A. Anzieb (kurator), Agus Putu Suyadnya (Ketua SDIY), dan dr. Oei Hong Djien (kolektior senior) dalam pembukaan pameran Partitur di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono
Dari kiri A. Anzieb (kurator), Agus Putu Suyadnya (Ketua SDIY), dan dr. Oei Hong Djien (kolektior senior) dalam pembukaan pameran Partitur di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono

Pertautan pemikiran yang muda (yunior) dan yang tua (senior) dipandang sebagai sebuah sublimasi regenerasi menjadi kunci bagi sebuah komunitas seni seperti SDIY untuk tetap menafasi keseniannya dan memompa semangat kompetitif seniman mudanya. Kualitas juara hanya akan lahir dari sebuah kompetisi yang positif. Kerja keras, kepekaan artistik, dan kedalaman rasa hanya bisa dilahirkan dari sebuah sikap inovasi yang terbuka. Demikian sambutan I Made Agus Darmika selaku Ketua Pameran Partitur SDIY yang digelar di Jogja Gallery, 25 Februari – 5 Maret 2017.

Keluarga Buta, painted fiber glass, 75 x 85 x 50, 2015, karya Putu Adi Gunawan. Foto: A. Sartono
Keluarga Buta, painted fiber glass, 75 x 85 x 50, 2015, karya Putu Adi Gunawan. Foto: A. Sartono

Anzieb selaku kurator dalam pameran ini antara lain menyampaikan bahwa partitur dalam dunia musik Barat berbeda dengan musik Timur. Pada musik Timur misalnya gamelan, masing-masing pemain harus mendengarkan dan memahami bunyi alat musik yang dimainkan oleh orang lain, jauh dari watak egoisme. Sementara musik Barat kurang memperhatikan hal ini. Nalarnya adalah si seniman antargenerasi pada SDIY ini seperti intuisi orang bermain musik tradisional (gamelan), saling mendengarkan, merasakan dan melahirkan pemahaman yang selaras, harmonis sekaligus membawa sifat rendah hati antargenerasi.

The Impact of Globalization, acryllic, oil, on canvas, 150 x 120 cm, 2016 karya I Kadek Suardana. Foto: A. Sartono
The Impact of Globalization, acryllic, oil, on canvas, 150 x 120 cm, 2016 karya I Kadek Suardana. Foto: A. Sartono

Intuisi pada sisi ini menjadi hal yang dikedepankan karena budaya Timur adalah budaya intuitif yang tidak bisa diukur dengan logika dalam cara pandang Barat. Budaya Timur sangat dekat dengan budaya lisan atau tutur. Artinya pula intuisi dalam budaya Timur adalah kata batin atau hati nurani. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here