Masa Kejayaan Kerajaan Ternate

2
15520

Kepulauan Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah seperti cengkeh, lada dan pala yang melimpah. Cengkeh, misalnya setiap tahun dapat dipanen sampai enam kali. Dengan hasil yang seperti itu, Maluku dengan pulau-pulaunya seperti Ternate dan Tidore menjadi sasaran jalan atau jalur sutra (silk road). Banyak pedagang asing yang berlayar ke Maluku untuk mencari rempah-rempah yang merupakan komoditas perdagangan yang sangat penting dan menguntungkan. Interaksi ini membawa dampak pada berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, sosial bahkan budaya.

Pedagang-pedagang Cina masuk Maluku sekitar abad X. Tetapi mulai abad XIV pedagang-pedagang Cina yang semula sangat dominan mulai tergantikan oleh pedagang-pedagang dari Sumatera, Jawa, Makassar dan Tagalok. Untuk kepentingan, kemajuan dan kerukunan bersama, Kerajaan Ternate dengan tiga kerajaan lain (Tidore, Bacan dan Jailolo) membentuk semacam ‘aliansi’. Pembentukan ini terjadi pada abad XV, dengan nama “Maloku Kie Raha” dan Ternate terpilih sebagai pemimpin.

Ternate Pulau Penghasil Rempah-rempahTernate sebagai bandar jalur sutra mengalami masa kejayaan pada abad XVI. Pada masa itu pengaruh Kerajaan Ternate dan Tidore sampai wilayah yang terbentang antara Sulawesi dan Papua. Kekuasaan yang begitu luas ini tentu saja didukung sumber daya manusia dan sumber daya alam serta peralatan yang memadai.

Masuknya pedagang Barat (Portugis, Spanyol dan terutama Belanda) mengakibatkan peranan Maluku terutama Ternate pada abad XVII sebagai bandar jalur sutra menurun. Penyebabnya, karena mereka tidak hanya sekadar berdagang, tetapi juga ikut campur tangan masalah politik atau urusan kerajaan.

Setelah menguasai perdagangan, mereka melanjutkan dengan pembuatan benteng-benteng pertahanan, yang tujuan akhirnya adalah untuk menguasai atau menjajah wilayah tersebut.Tentu saja hal ini menimbulkan banyak penolakan baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Perang atau pertempuran adalah salah satu bentuk penentangan secara terbuka dan terang-terangan terhadap Portugis, Spanyol dan Belanda.

Konten Terkait:  Barahmus DIY Pameran Koleksi Unggulan di Museum Benteng Vredeburg

Ternate pada masa jayanya adalah kerajaan yang cukup diperhitungkan dalam percaturan politik dan ekonomi. Pengaruhnya bahkan sampai saat ini masih tetap ada. Salah satunya adalah dalam hal bahasa. Sebagai pusat ekonomi dan perdagangan, Ternate mempunyai hubungan komunikasi jauh ke luar. Bahasa-bahasa yang berkembang di Ternate memperlihatkan suatu kegiatan interaktif yang kompleks antara bahasa Ternate, bahasa-bahasa etnis Non-Austronesia maupun Austronesia. Bahasa Ternate mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Belanda serta Portugis memang berhasil menguasai sistem politik, militer dan ekonomi tetapi gagal dalam masalah budaya. (*)

  • Ternate Pulau Penghasil Rempah-rempahJudul:
    Ternate sebagai Bandar Jalur Sutra
  • Penulis:
    RZ. Leirissa, dkk
  • Penerbit:
    Depdikbud, 1999, Jakarta
  • Bahasa:
    Indonesia
  • Jumlah halaman:
    x + 92

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here