Macapatan Malam Rabu Pon putaran ke-154: Hidupnya Terarah Kepada Allah

0
377

Acara macapat malam Rabu Pon yang diadakan rutin setiap 35 hari sekali di Tembi Rumah Budaya pada Selasa lalu 21 Februari 2017 telah memasuki putaran yang ke-154. Tembang-tembang yang dilantunkan masih mengambil dari Serat Centhini. Para pecinta macapat yang selalu hadir setiap ‘selapan’ hari, dapat diibaratkan ikut berpetualangan dengan tokoh-tokoh yang ada dalam Kitab Centhini. Di antaranya adalah Mas Cebolang Seh Amongraga.

Pengrawit Ibu-ibu Laras Pertiwi. Foto: Herjaka
Pengrawit Ibu-ibu Laras Pertiwi. Foto: Herjaka

Dikisahkan, penggembaraan Jayengresmi, putra sulung Giri Prapen yang kemudian berganti nama menjadi Seh Amongraga sampailah di Padukuhan Andongtinunu. Ia beserta kedua abdinya Gathak-Gathuk yang berganti nama Jamal dan Jamil terkagum-kagum menyaksikan keindahan padukuhan di kaki Bukit Sendhara tersebut.

Regenerasi Waraanggana dari yang senior ke yang yunior terjadi di Karawitan Ibu-ibu Laras Pertiwi. Foto: Herjaka
Regenerasi Waraanggana dari yang senior ke yang yunior terjadi di Karawitan Ibu-ibu Laras Pertiwi. Foto: Herjaka

Siapa gerangan yang tinggal di padukuhan nan indah asri tersebut? Tak lain dan tak bukan adalah Ki Seh Suksma sidik. Ia hidup selibat, dibantu dengan delapan sobatnya serta satu anak perempuan berparas ayu, Rara Pamegatsih namanya. Oleh Ki Suksma Sidik, Rara Pamegatsih dididik menjadi anak yang rajin bersembahyang. Saking suntuk dalam belajar ilmu gaib, tak terpikirkan olehnya untuk hidup berumah tangga. Sejatinya banyak petinggi yang jatuh hati dan melamar Rara Pamegatsih. Namun mereka pulang dengan tangan hampa. Karena kalah berbantah ilmu dengan Sang Dyah.

PUPUH 342
Pangkur

11. Klangkung karêm ing ibadah
   saking dening ginulang siyang ratri
   mring kang rama yêktinipun
   marma sang dyah tan nyipta
   palakrama saking kasêngsêm ing ngèlmu
   pasêmon ladak agawat
   ngêgungkên yèn sugih ngèlmi

12. Inguni pan wus kalakyan
   pan akathah sagung para pêtinggi
   kang sami kasmaran ngrungu
   ing wartane ni rara
   andhatêngi akathah ingkang kawangsul
   saking dening tan kaduga
   sang rara panjaluknèki

13. Tan anjaluk raja brana
   mung angajak bantah kang ngèlmu gaib
   nadyan para santri agung
   kang prapta tan kawawa
   angêsorna ing ngèlmunira sang ayu
   undure amèt upaya
   dhuyung sumbaga lan dhêsthi

Angger Sukisno, ikut nembang Palaran. Foto: Herjaka
Angger Sukisno, ikut nembang Palaran. Foto: Herjaka

Bagi Rara Pamegatsih harta benda bukanlah segalanya. Oleh karenanya para pelamar yang mengandalkan kekayaannya tidak berhasil meminang Rara Pamegatsih. Lalu siapa yang akan menang berbantah ilmu dengan putri Seh Suksma Sidik dan berhasil meminangnya? Apakah Seh Amongraga yang akan singgah di Padukuhan Andongtinunu? Jawabnya ada pada acara macapat putaran selanjutnya yang akan digelar 28 Maret 2017.

Macapatan malam itu dipandu oleh Angger Sukisno serta dimeriahkan oleh Karawitan Ibu-ibu Laras Pertiwi dari Klaras Candhen Bantul pimpinan Ibu Mardiyem. Dikarenakan kepiawaian sosok pemandu, acara Macapat dan gendhing-gendhing Jawa yang hanya dihadiri oleh segelintir orang tetap semarak dan menghibur.

Suasana Macapatan. Foto: Herjaka
Suasana Macapatan. Foto: Herjaka

Tepat pada pukul 23.00 acara macapatan berakhir. Pendapa Yudonegaran Tembi Rumah Budaya kembali sepi. Ada pertanyaan yang masih tersisa, adakah di zaman ini, sosok wanita seperti Rara Pamegatsih? yang hidupnya berserah dan terarah hanya kepada Allah? (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here