Dua Hero Nusantara dalam Pandangan Dua Perupa Bali

0
429

Dua perupa Bali, I Gede Arya Sucitra dan Agus Putu Suyadnya yang mengalami proses inkulturasi dan akulturasi dengan budaya lokal (Bali dan Jawa) sekaligus juga dengan budaya global dan kekinian, kemudian mencoba melakukan reinterpretasi lapisan kultural mereka dan mengekspresikannya dalam karya-karya mereka. Keduanya memandang dan menuangkan interpretasi mereka atas tokoh Kebo Iwo, yakni tokoh super hero Bali yang memiliki kemampuan spiritualitas tinggi dan menjadi teladan generasi kini dan ke depan dengan caranya sendiri-sendiri. Sosok Kebo Iwo sering disejajarkan tingkat keilmuan, kesaktian, dan kedalaman spiritualitasnya dengan Mahapatih Gadjah Mada.

The Guardian Series, Babad Pengabdian, Akrilik Di Atas Kanvas, 100 x 200 cm, 2017, karya Agus Putu Suyadnya. Foto: A. Sartono
The Guardian Series, Babad Pengabdian, Akrilik Di Atas Kanvas, 100 x 200 cm, 2017, karya Agus Putu Suyadnya. Foto: A. Sartono

Kebo Iwo bagi masyarakat Bali demikian terkenal. Tidak mengherankan jika namanya diabadikan sebagai nama jalan, pura, nama bangunan dan sebagai mitos, sejarah, legenda atau percampuran dari semuanya itu dari generasi ke generasi. Ia adalah seorang patih dan panglima Kerajaan Bedaulu pada masa pemerintahan Raja Sri Gajah Waktera yang bergelar Sri Astasura Ratna Bumi Banten.

The Guardian Series Janji Sang Penakluk, Akrilik Di Atas Kertas, 200 x 200 cm, 2017, karya Agus Putu Suyadnya. Foto: A. Sartono
The Guardian Series Janji Sang Penakluk, Akrilik Di Atas Kertas, 200 x 200 cm, 2017, karya Agus Putu Suyadnya. Foto: A. Sartono

Ia dikenal sangat kuat seperti kerbau. Ilmu dan kekuatannya sangat diperhitungkan oleh Gadjah Mada yang bertugas untuk menaklukkannya demi persatuan Nusantara. Ia hanya bisa ditaklukkan oleh karena ia dengan rela menyerahkan kunci kematian atau keapesan dirinya pada Gadjah Mada. Semua itu demi penyatuan Nusantara. Topik Keboiwalogi yang mengangkat tokoh Kebo Iwo inilah yang kemudian menjadi tema pameran seni rupa mereka berdua di Bentara Budaya Yogyakarta, 21-28 Februari 2017.

Ritus Semesta (Sabara Ai Namasiwaya), Tulang Tengkorak Kerbau, Variabel Dimensi, 2017, karya I Gede Arya Sucitra. Foto: A. Sartono
Ritus Semesta (Sabara Ai Namasiwaya), Tulang Tengkorak Kerbau, Variabel Dimensi, 2017, karya I Gede Arya Sucitra. Foto: A. Sartono

Agus Putu Suyadnya mencoba menangkap dan mengekspresikan jiwa ksatria Kebo Iwo yang rela mati dengan menjadikan dirinya caru (korban) demi kepentingan Nusantara. Karyanya Agus Putu menunjukkan betapa sebenarnya sifat-sifat heroik (kepahlawanan) dan kerelaan berkorban sangat diperlukan dalam merawat ke-Nusantara-an.

Pertemuan Strategi, Akrilik Di Atas Kanvas, 100 x 200 cm, 2017, karya I Gede Arya Sucitra. Foto: A. Sartono
Pertemuan Strategi, Akrilik Di Atas Kanvas, 100 x 200 cm, 2017, karya I Gede Arya Sucitra. Foto: A. Sartono

Arya Sucitra mencoba mengekspresikan lebih dalam dengan tidak hanya menampilkan Kebi Iwo dalam perspektif fisik, namun juga nuansa spiritualitasnya. Pengorbanan dan penyerahan diri secara totalitas menunjukkan bahwa Kebo Iwo tidak hanya seorang mahapatih yang hanya memikirkan kerajaannya belaka namun juga berkorban demi kepentingan yang lebih luas. Hal itu tercermin dalam karya-karya Arya Sucitra. Arya Sucitra juga mencoba mengekspresikan nilai-nilai Kebo Iwo dalam berbagai dimensi dan media menuju pada penajaman dan pendalaman nilai-nilai tersebut. Demikian catatan kuratorial mengenai pameran kedua perupa Bali oleh seorang antropolog, Pande Made Kutanegara. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here