Menginang, Tradisi Masyarakat Jawa yang Telah Hilang

0
949

Ada satu tradisi masyarakat Jawa yang sudah mulai hilang, yaitu tradisi menginang atau sering juga disebut dengan mengunyah sirih. Sebelum kemerdekaan, tradisi menginang masih kuat dilakukan bagi masyarakat Jawa, tetapi berjalannya waktu yang kian modern, sudah banyak yang meninggalkannya, kecuali beberapa orang saja, terutama di daerah pedesaan. Hilangnya tradisi menginang, termasuk di kalangan kerajaan dan bangsawan Jawa membuat pakinangan, yaitu peralatan tempat menginang, hanya tinggal menjadi benda kenangan.

Pakinangan dari kuningan koleksi museum Sonobudoyo Yogyakarta. Foto: Suwandi
Pakinangan dari kuningan koleksi museum Sonobudoyo Yogyakarta. Foto: Suwandi
Pakinangan bentuk lain koleksi museum Sonobudoyo Yogyakarta. Foto: Suwandi
Pakinangan bentuk lain koleksi museum Sonobudoyo Yogyakarta. Foto: Suwandi

Benda pakinangan tersebut sekarang ini sudah tidak dikenali lagi oleh generasi muda Jawa. Namun begitu, bukan berarti benda itu telah hilang. Beberapa museum di Yogyakarta, sebut saja Museum Tembi Rumah Budaya, dan Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta, masih menyimpan benda pakinangan sebagai salah satu koleksi. Setidaknya, benda yang terbuat dari kuningan atau perunggu itu (terutama yang berkualitas bagus) sekarang ini bisa dipakai untuk media pembelajaran bagi generasi muda dan sebagai salah satu benda budaya yang pernah dipakai oleh masyarakat Jawa pada suatu periode tertentu.

Pakinangan biasanya berupa satu set wadah, satu wadah besar sebagai alas, dan empat atau lima wadah lainnya yang berukuran kecil. Masing-masing wadah kecil berfungsi sebagai tempat ubarampe kinang yang telah diracik, seperti daun sirih, gambir, tembakau susur, dan enjet. Kadang-kadang ditambah dengan buah jambe. Kemudian, satu persatu ubarampe, mulai dari sirih, gambir, dan enjet ditumbuk di wadah yang memiliki alu kecil. Setelah lembut, diambil dan dikunyah di mulut. Hal ini biasanya dilakukan untuk memudahkan pelumatan daripada langsung dikunyah di mulut, terutama untuk perempuan tua. Namun untuk kaum yang masih muda, biasa langsung dikunyah di mulut. Baru kemudian dimasukkan tembakau di mulut.

Pakinangan koleksi museum Tembi Rumah Budaya. Foto: Suwandi
Pakinangan koleksi museum Tembi Rumah Budaya. Foto: Suwandi
Pakinangan dari kuningan koleksi museum Tembi Rumah Budaya. Foto: Suwandi
Pakinangan dari kuningan koleksi museum Tembi Rumah Budaya. Foto: Suwandi

Orang yang biasa menginang akan merasakan rasa kinang menjadi hal yang biasa, yaitu antara rasa getir, manis, dan sepet. Makanya kalau orang dulu sudah terbiasa menginang, kemudian berhenti menginang, rasanya akan pahit atau hambar. Ibarat orang merokok, lalu berhenti merokok, rasanya akan pahit. Begitu kata orang-orang yang pernah akan berhenti merokok untuk sementara waktu. Maka orang dulu akan terus melakukan tradisi menginang, walaupun ada efek negatif dan positifnya. Efek negatif, gigi akan terlihat kemerah-merahan sedikit dikatakan kotor. Namun begitu, efek positifnya, gigi akan bertambah kuat. Maka tidak heran jika gigi para orang tua yang sering menginang, terlihat lebih kuat jika dibandingkan dengan orang yang tidak menginang.

Ada hikmah lain yang bisa dipetik dari tradisi menginang yang dilakukan masyarakat Jawa atau masyarakat lainnya di Nusantara. Hikmah itu antara lain, apabila bertamu, maka sebagai pembuka pembicaraan, biasanya tamu diajak untuk melakukan tradisi mengunyah sirih dahulu, kemudian baru menginjak pada topik utama. Hal itu dilakukan untuk menghormati dan memuliakan tamu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here