Pertempuran Heroik Surabaya 1945

0
1052

Merdeka atau mati adalah semboyan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indoneia (NKRI), yang diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta pada hari Jumat 17 Agustus 1945. Berita tentang proklamasi tersebut dengan cepat menyebar di daerah Surabaya dan sekitarnya karena kecerdikan penyiar Radio Surabaya. Penyiar Radio Surabaya membacakan berita tentang Proklamasi Kemerdekaan tersebut pada hari Sabtu 18 Agustus 1945 pukul 7 malam. Agar tidak diketahui oleh Kempeitai (polisi militer Jepang yang terkenal sangat kejam) serta “pengawas”/petugas sensor Jepang yang masih “berkuasa”, penyiaran dilakukan dalam bahasa Madura (di Surabaya banyak berdiam orang-orang Madura).

Surabaya adalah kota dengan rakyat dan pejuang yang tangguh dan sering kali nekat. Masa akhir Agustus 1945 secara de facto adalah masa vakumnya kekuasaan di Surabaya. Jepang telah kalah perang dan menyerah kepada Sekutu, tetapi Sekutu belum tiba di Surabaya. Selama Sekutu (dalam hal ini Inggris) belum datang, Jepanglah yang diminta oleh Sekutu untuk mengendalikan situasi. Tetapi rakyat Surabaya menolak dan tetap mengadakan perlawanan. Berbagai fasilitas seperti gedung bekas Jepang atau Belanda tiba-tiba penuh tulisan Milik RI. Mereka bertekad menolak kembali datangnya penjajah Belanda yang membonceng Sekutu.

Mulai 22 Agustus 1945 rakyat Surabaya secara terang-terangan berani membangkang pada Jepang. Pada hari itu puluhan ribu Sang Saka Merah Putih dalam berbagai ukuran dan bahan bertebaran di mana-mana. Di bulan September 1945, rakyat mulai merampas senjata dari pasukan Jepang, sebuah proses yang terus berlangsung selama lima minggu ke depan. Pada tanggal 19 September 1945 bendera merah putih biru yang berkibar di hotel Yamato (Oranje) dirobek sehingga tinggal warna merah putih. Ini adalah peristiwa yang sangat berani.

Tanpa sepengetahuan Jakarta, pada akhir September 1945 kaum republik di Surabaya sukses mengambil kendali atas wilayah yang cukup luas di Jawa Timur. Tiga Serangkai (Gubernur Suryo, Residen Sudirman dan Dul Arnowo) menjadi penggerak utama bagi peran serta rakyat yang kemudian menjadi people’s power (kekuatan rakyat). Dalam situasi sulit, kaum republikan di Surabaya dan Jawa Timur mengkonsolidasikan administrasi negara, kantor-kantor pemerintahan, pelayanan publik, transportasi, komunikasi, media massa, dan instalasi militer di bawah satu komando. Bendera merah putih berkibar di mana-mana dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan di setiap acara resmi.

Inggris yang tidak mengetahui keadaan sesungguhnya di Surabaya mendaratkan pasukannya pada tanggal 25 Oktober 1945. Pasukan yang pertama mendarat adalah Brigade Infanteri India ke 49, dan dalam hitungan jam telah menduduki lebih dari 20 titik penting di dalam kota. Rakyat Surabaya dengan gigih melawan, lebih-lebih karena di belakangnya ada Belanda yang ingin kembali menjajah. Berbagai pertempuran terjadi seperti pertempuran tiga hari (27-29 Oktober). Merasa terdesak, Inggris menawarkan gencatan senjata. Di pihak Surabaya sebenarnya menolak, tetapi karena Jakarta menyetujui akhirnya gencatan senjata pun terjadi.

Gencatan senjata tersebut oleh Inggris dipakai untuk menyiapkan serangan balasan. Suatu hal yang sudah diduga oleh pihak Indonesia, terutama tokoh-tokoh pejuang Surabaya. Dan serangan balasan itu pasti lebih dahsyat. Inggris saat itu adalah salah satu negara dengan armada tentara yang kuat dan disegani. Tentu saja tidak terima dikalahkan dan dipermalukan oleh pejuang-pejuang Surabaya yang kualitasnya dianggap sangat rendah dan tidak sekelas. Apalagi salah seorang perwiranya yaitu Brigadir Jendral A.W.S. Mallaby tewas. Indonesia saat itu memang belum memiliki angkatan bersenjata secara resmi, kecuali satuan-satuan paramiliter bentukan Jepang seperti Pembela Tanah Air (PETA).

10 November 1945, sekitar pukul 6 pagi Surabaya dibangunkan dengan suara gemuruh pesawat terbang. Serangan balasan Inggris telah datang dan meletuslah pertempuran yang sangat dahsyat di mana-mana. Pertempuran berlangsung berhari-hari, dan Inggris sedikit demi sedikit berhasil “menguasai” kota Surabaya. Tetapi para pejuang tetap tidak mau menyerah, sambil mundur ke luar kota mereka tetap melakukan perlawanan. Mereka siap mati demi NKRI, tanah tumpah darahnya.

Pertempuran Surabaya adalah konflik bersenjata yang sangat penting dalam sejarah bangsa, diukur dari segi kekuatan senjata yang terlibat, jangka waktu pertempuran, kedahsyatan konflik, jumlah korban (baik nyawa maupun harta benda) serta efek pertempuran pada gerakan kemerdekaan. Selain masyarakat Surabaya sendiri, juga berdatangan pejuang dan relawan dari daerah lain dengan berbagai etnik seperti Bali, Madura, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Tidak ketinggalan pula etnik Tionghoa yang mencintai Republik Indonesia.

Pejuang Surabaya dengan keberaniannya mencapai tiga hal yaitu menaklukan dan melucuti tentara Jepang, melawan dan menggagalkan kekuatan Belanda yang hendak mengambil alih jajahannya kembali, serta menentang tentara gabungan Inggris-India yang mempunyai misi memulangkan pasukan Jepang dan membantu Belanda untuk berkuasa kembali.

Pertempuran Surabaya menjalar dan mempengaruhi kawasan lain. Perlawanan dan pengorbanan yang penuh darah ini bahkan menjadi topik perdebatan di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), parlemen Inggris, Belanda dan Australia. Juga dibahas secara serius di India. India menyatakan penyesalannya mengapa Inggris menggunakan pasukan Gurkha dari India dalam pertempuran tersebut. Padahal India dan Indonesia sama-sama berjuang untuk kemerdekaan.

  • Pertempuran Heroik Surabaya 1945Judul:
    Surabaya 1945. Sakral Tanahku
  • Penulis:
    Frank Palmos
  • Penerbit:
    Obor, 2016, Jakarta
  • Bahasa:
    Indonesia
  • Jumlah halaman:
    xviii+ 415

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here