Ragam Media Perupa Bali di Jogja Contemporary

0
421

Pameran ‘Arus Bawah’ di Jogja Contemporary menjadi ajang pameran karya dengan berbagai media. Ada yang memakai serat kain ataupun fiber dan dacron, ada yang menggunakan tepung beras, ada pula yang memakai cat akrilik tanpa kanvas. Yang juga patut dicatat adalah para pesertanya berasal dari Bali, dan berusia muda, sekitar 20 tahunan.

Karya Putu Adi Suanjaya berbahan dacron dan fiber. Foto: Barata
Karya Putu Adi Suanjaya berbahan dacron dan fiber. Foto: Barata

Ada enam perupa yang berpartisipasi, yakni Kadek Marta Dwipayana, Made Agus Darmika, Made Pande Giri Ananda, Putu Adi Suanjaya, Putu Sastra Wibawa dan Ngakan Putu Agus Arta Wijaya. Lima perupa yang pertama adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, sedangkan yang terakhir adalah lulusan ISI Denpasar yang baru setahun ini menetap di Yogyakarta.

Karya Kadek Marta Dwipayana dengan media burlap dan kanvas. Foto: Barata
Karya Kadek Marta Dwipayana dengan media burlap dan kanvas. Foto: Barata

Dalam pengantar pameran dijelaskan bahwa tajuk ‘Arus Bawah’ merujuk pada perasaan atau tendensi tersembunyi yang seringkali berbeda dengan apa yang mudah dilihat dan dipahami. “Proses mempertanyakan dan memeriksa ‘kebalian’ dalam diri tiap-tiap seniman dan karya-karya mereka bisa disejajarkan dengan proses mengecek apa yang mengalir di bawah permukaan. Pun ia juga dipahami sebagai usaha untuk melihat perasaan atau tendensi berkarya yang dimiliki oleh tiap-tiap seniman yang bisa jadi berbeda dengan apa secara umum dilekatkan pada seniman Bali,” begitu tulis Sita Magfira.

Kaya Putu Sastra Wibawa berbahan cat akrilik. Foto: Barata
Kaya Putu Sastra Wibawa berbahan cat akrilik. Foto: Barata
Macrocosm karya Made Agus Darmika yang terbuat dari tepung beras. Foto: Barata
Macrocosm karya Made Agus Darmika yang terbuat dari tepung beras. Foto: Barata

Kadek Marta Dwipayana bereksperimen dengan media benang, serat kain. Ia mengurai serat kain menurut lajurnya. Misalnya pada karya ‘Hujan’ ia membuang semua serat yang mendatar sehingga yang tertinggal hanya serat yang vertikal berwarna putih, yang mengesankan hujan. Lantas ia membentuk lekukan-lekukan dengan cara menghilangkan semua serat pada bagian tertentu. Berlatar warna biru, lekukan tersebut menjadi awan putih.

Kadek juga membuat karya dekoratif yang cantik melalui stilisasi garis lengkung serat-serat vertikal dan horisontal. Karyanya yang lain, ‘Save’, terkesan ekspresif dengan memakai serat burlap (bahan karung goni). Lingkaran seperti bulan purnama berserat horizontal berdampingan dengan bulan sabit berserat vertikal, dialasi goresan cat putih yang berdampingan warna coklat asli burlap, menjadikan karya ini terasa lebih liar dan ekspresif.

Senjata I karya Made Pande Giri Ananda. Foto: Barata
Senjata I karya Made Pande Giri Ananda. Foto: Barata

Menarik pula karya Putu Sastra Wibawa karena media yang digunakannya adalah cat akrilik itu sendiri. Cat yang mengering, lalu dikelupas dan dipajang dalam pigura kaca. Dipajang berderetan dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam, jadilah karya yang estetis. Karya-karya abstrak bukan di atas kanvas.

Dari enam perupa ini, karya Agus Darmika paling kental identitas kultural Balinya. Ia membuat jajan suci yang digantung di tengah ruang pamer. Jajan suci adalah penganan ringan yang terbuat dari tepung beras yang disertakan pada upacara ritual adat di Bali. Agus membuat sesuai bentuk aslinya, yang beraneka bentuk dan berwarna-warni. Bentuk asli jajan suci sebenarnya memang sudah menarik. Menurut Darmika, karyanya tidak berbeda dengan jajan suci yang dipakai dalam ritual. Hanya bedanya ia menyemprotkan cairan pengawet sehingga jajan suci ini tidak bisa dimakan.

Pameran ini dilengkapi dengan workshop teknis pembuatan jajan suci pada 14 Februari serta diskusi pada 16-17 Februari. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR