Raden Puru, Leluhur Trah Pandawa dan Kurawa

1
2379

Raden Puru adalah putra Prabu Yayati yang berkuasa di Negara Prayasa. Di antara kelima saudara-saudaranya, Raden Puru merupakan anak yang paling berbakti kepada orangtua. Hal tersebut dapat ditengarai, saat Prabu Yayati mempunyai masalah besar, Raden Purulah yang sanggup dan bersedia menolong ayahnya.

Dikisahkan pada awalnya, ketika Prabu Yayati melamar Dewayani pujaan hatinya, Resi Sukra sebagai orangtua Dewayani memperbolehkannya tetapi dengan syarat, bahwa anaknya tidak boleh dimadu. Prabu Yayati menyanggupi. Dari Dewayani istrinya, Prabu Yayati mempunyai dua anak yaitu Raden Yadu dan Raden Turwasu.

Namun di tengah perjalanan bahtera rumah tangganya, Prabu Yayati jatuh hati kepada Dewi Sarmistha, sahabat dari Dewayani istrinya. Dikarenakan sudah berjanji tidak akan mendua, maka hubungannya dengan Dewi Sarmistha sembunyi-sembunyi. Dari hasil hubungan gelap yang berlangsung cukup lama tersebut, Prabu Yayati mempunyai tiga putra yaitu Raden Drahyu, Raden Anu dan Raden Puru.

Walaupun sudah disimpan rapat-rapat, aib yang diperbuat Raja Prayasa akhirnya terkuak juga. Prabu Yayati telah melanggar janji setia. Dewi Dewayani hancur hatinya. ibarat ditusuk gunting yang meninggalkan dua luka. Ia dikhianati oleh suaminya dan dikhianati oleh sahabatnya. Hatinya berontak tidak terima. Ia pulang untuk mengadu kepada orangtuanya.

Tokoh ini jika mukanya dibuat menunduk namanya Raden Puru. Wayang buatan Kaligesing Purworejo koleksi museum Tembi Rumah Budaya.
Tokoh ini jika mukanya dibuat menunduk namanya Raden Puru. Wayang buatan Kaligesing Purworejo koleksi museum Tembi Rumah Budaya.

Maharesi Sukra marah besar mendapat laporan dari putrinya. Kurang ajar! Perlu diberi pelajaran orang yang sombong dan melanggar janji. Resi Sukra yang adalah parampara atau penasihat bangsa Asyura tidak kuasa membendung amarahnya. Ia mengutuk menantunya menjadi jompo agar tidak dapat berselingkuh lagi. Sebagai seorang linuwih apa yang di “sabda’ kan menjadi kenyataan.

Saat itu juga kulit Prabu Yayati mengeriput, rambutnya memutih, wajahnya menjadi tua. Prabu Yayati yang sebelumnya berkuasa menjadi orang nomor satu di Negara Prayasa itu, kini tak berdaya. Badannya bongkok dan jalannya tertatih-tatih. Ia sangat sedih mengalami nasib seperti ini. Ampun Bapa Resi Sukra ampunilah aku. Resi Sukra berkata bahwa yang sudah terjadi tetap terjadi. Kutukan menjadi renta tak mungkin ditarik kembali. Hanya saja, jika ada orang yang mau menggantikannya, kutukan tersebut dapat lepas dari dirinya.

Ada secercah harapan di balik ucapan Resi Sukra. Dan harapan itu ia harapkan dari kelima anaknya. Oleh karenanya ia mengumpulkan kelima anaknya untuk dimintai pertolongan. Siapa di antara kalian yang mau menggantikan aku menjadi orang jompo tak berdaya seperti ini? Raden Yadu sebagai anak pertama, disusul Raden Turwasu anak kedua dan kemudian Raden Drahyu anak ketiga menyatakan tidak mau menggantikan menjadi jompo. Demikian pula Raden Anu anak keempat menyatakan ketidaksanggupannya menggantikan ayahandanya menjadi jompo.

Prabu Yayati semakin sedih, mengapa keempat anaknya tidak mau berbakti kepada dirinya? “Jika demikian, he engkau Yadu kelak anak keturunanmu tidak akan ada yang menjadi ratu. Dan he engkau Turwasu kelak anak cucumu tidak ada yang berbudi luhur. Demikian juga he Drahyu negaramu kelak akan selalu banjir sehingga tidak dapat hidup tenteram. Juga he Anu, engkau akan mati dalam usia muda,” ujar Prabu Yayati mengutuk empat anaknya.

Setelah berucap yang tidak baik kepada keempat anaknya, kini tinggal satu lagi anak yang belum menyatakan diri yaitu Raden Puru si anak bungsu. Ketika Raden Puru menghadap, tidak dinyana oleh Prabu Yayati serta kakak-kakaknya bahwa Si bungsu yang ingusan dan pemalu, dengan mantap menyatakan diri sanggup menanggungkan kutukan Sang Resi pada dirinya.

Begitu ajaibnya, setelah sang anak menyatakan kesanggupannya mengambil alih penderitaan ayahandanya, saat itu juga Raden Puru menjadi tua. Sebaliknya Prabu Yayati kembali seperti semula. Selanjutnya antara bapak dan anak tersebut menjalani hidup dalam dunia yang bertolak belakang.

Prabu Yayati tidak mau belajar dari peristiwa masa lalu. Setelah badannya dipulihkan atas jasa anaknya, ia tidak menjadi jera bermain wanita yang bukan istrinya, malahan semakin menjadi-jadi. Prabu Yayati justru mengumbar hawa nafsunya dengan banyak wanita termasuk juga para bidadari. Sedangkan Raden Puru dengan fisiknya yang renta menjauhi keramaian dunia. Ia pergi bertapa di kesunyian untuk mendekatkan diri kepada Hyang Maha Tunggal.

Dalam hitungan umur yang sangat panjang, setelah Prabu Yayati benar-benar menjadi tua, kutukan yang digendong anaknya dimintanya kembali. Sebelum sang Prabu Yayati memasuki keabadian, ia mewariskan Negara Prayasa kepada Raden Puru. Dan Si Bungsu pun menjadi raja.

Prabu Puru membangun Kerajaan Prayasa menjadi besar dan makmur. Ia menikah dengan Dewi Kusalya dan menurunkan anak bernama Raden Janamejaya. Selanjutnya Janamejaya menurunkan dinasti Kuru di antaranya yang terkenal adalah Prabu Duswanta. Prabu Duswanta menikah dengan Sakuntala dan menurunkan Raden Sarwadamana. Setelah menjadi raja Raden Sarwadamana bergelar Prabu Barata. Pandawa dan Kurawa adalah keturunan Prabu Barata. Maka ketika pecah perang antara Pandawa dan Kurawa, perang tersebut disebut Baratayuda, perang sesama darah Barata. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here