Ahmadun, Penyair dan Wartawan

0
674

Ini kali pertama Ahmadun datang dan membaca puisi di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, setelah beberapa kali tidak bisa datang karena keperluan lain. Nama lengkapnya Ahmadun Yosi Herfanda, tapi lebih sering dipanggil Ahmadun, atau malah disingkat AYH. Dia lahir di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah,17 Januari 1958. Pernah lama tinggal di Yogyakarta dan sekarang tinggal di Tangerang Selatan.

Selain dikenal sebagai penyair, Ahmadun adalah seorang wartawan. Sastra dan jurnalistik dua area yang dia rengkuh dan dia geluti dengan sungguh-sungguh. Ketika tinggal di Yogya dia pernah menjadi wartawan Harian Kedaulatan Rakyat (1986-1989) dan di Harian Yogya Post (1989-1992), Majalah Amanah (1993), Harian Republika (1993-2009) dan sejak 2010 mengajar di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong.

Ahmadun Yosi Herfanda. Foto: Dok. Tembi
Ahmadun Yosi Herfanda. Foto: Dok. Tembi

Secara formal, dia telah pensiun sebagai wartawan di Harian Republika, tetapi dia masih aktif di dunia jurnalistik, dan lebih-lebih di area sastra. Keduanya dia rengkuh dan telah menjadi denyut bagi kehidupannya.

Sebagai penyair dia telah menerbitkan sejumlah antologi puisi di antaranya Penari (1991), Fragmen-Fragmen Kekalahan (1996), Sembayang Rumputan (1996), Ciuman Pertama Untuk Tuhan ( (2004), Resonansi Indonesia (2014), Sajadah Kata (2014) dan Ketika Rumputan Bertemu Tuhan (2016).

Selain puisi, Ahmadun juga sudah menerbitkan kumpulan cerpen, di antaranya berjudul Sebelum Tertawa Dilarang ( 1997), Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (2004), dan satu buah novel berjudul Teror Subuh Di Kanigoro (1996).

Di Tembi Rumah Budaya, dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi ke-64, Ahamdun Yosi Herfanda melaunching antologi puisinya yang terbaru ‘Ketika Tuhan Bertemu Tuhan’. Antologi puisi ini mendapat penghargaan Hari Puisi Indonesia 2016.

“Dua kali diundang di Sastra Bulan Purnama saya belum bisa datang ya Ons,” kata Ahmadun saat kami ngobrol.

Pada launching antologi puisi dengan judul ‘Gondomanan 15’ satu antologi bersama yang menghimpun para penyair yang aktifi menulis puisi tahun 1980-an di rubrik Renas Harian Berita Nasional Yogyakarta, di mana Ahmadun aktif di dalamnya, dan ikut dalam antologi puisi ini, sedianya Ahamdun ingin datang, tetapi batal karena sedang sakit.

“Mestinya saya datang dan bertemu teman-teman lama yang tergabung dalam Renas dulu, yang puisinya masuk dalam antologi puisi Gondomanan 15, tetapi karena saya sakit, sehingga urung datang,” kata Ahmadun.

Ketika tampil di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya, Ahmadun seperti kembali ke kampung halamannya. Dia kembali bertemu dengan sahabat lamanya, yang sudah cukup lama tidak saling bersua. Selain itu, dia juga bertemu dengan teman kuliahnya dulu di IKIP Negeri Yogya, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesa (sekarang UNY). Pendek kata, di Tembi, Ahamadun seperti ‘reuni kecil’ dengan teman-teman lamanya.

“Saya akan membacakan dua puisi karya saya, sebagai obat kangen saya pada Yogya dan teman-teman penyair Yogya,” kata Ahamdun mengawali sebelum memulai membaca puisi.

Dua puisi dia bacakan dengan penuh ekspresi. Ahmadun, kiranya merupakan tipikal seorang penyair yang piawai menulis puisi sekaligus membacakan puisi karyanya. Sebab, tidak semua penyair mempunyai kemampuan membaca puisi. Ahmadun, salah satu dari beberapa penyair yang bisa menjalani keduanya: menulis puisi sekaligus membaca puisi dengan bagus. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here