Manusia Istana Sajikan Dramatik Puisi Gaya Baru

0
506

Tata artistik panggung dengan menggunakan teknologi modern, video streaming dan video mapping, sampai ada hologram salah satu pembaca puisi membuat pertunjukan puisi dramatik ‘Manusia Istana’ sangat hidup dan lebih bermakna. Tiap puisi dibacakan dengan sangat baik, sesekali membuat bulu kuduk merinding.

Ekspresi Maudy Koesnaedi. Foto: Rosiana
Ekspresi Maudy Koesnaedi. Foto: Rosiana

Seperti pada puisi ‘Warisan Akhirmu, Soekarno’ yang dibawakan Olivia Zalianty, berpakaian ala pejuang perang zaman dulu, Oliv membacakan karya Radhar Panca Dahana dengan sangat khidmat, sesekali suaranya bergetar seakan benar-benar merasakan tiap bait kata dalam puisi.

Marcella Zalianty membaca karya Air Mata Umara. Foto: Rosiana
Marcella Zalianty membaca karya Air Mata Umara. Foto: Rosiana

Ditemui usai pertunjukan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jumat, 27 Januari 2017, ia mengaku sempat grogi karena takut kerasukan Soekarno. “Entah kenapa pas sebelum membacakan ‘Warisan Akhirmu, Soekarno’, di belakang tiba-tiba tubuhku gemeteran sampai nggak bisa masuk (ke panggung). Nggak tahu grogi karena keadaan panggung, atau karena kemasukan Soekarno,” ucapnya seraya bercanda.

Olivia Zalianty hampir kerasukan Soekarno. Foto: Rosiana
Olivia Zalianty hampir kerasukan Soekarno. Foto: Rosiana

Lain lagi saat Marcella Zalianty membawakan puisi berjudul ‘Air Mata Umara 2’, mengenakan kerudung putih, ibu dua anak ini membacakan puisi dari bangku penonton, tak sampai selesai, setengah puisi kemudian dibacakan oleh hologram dirinya di atas panggung. Cara ia membawakan puisi tak perlu diragukan, Marcella membawa penonton benar-benar menyelami makna dari puisi.

Slank membawakan musikalisai puisi. Foto: Rosiana
Slank membawakan musikalisai puisi. Foto: Rosiana

Cornelia Agatha, juga tampil sangat mengesankan, membaca puisi atau bermonolog bisa dibilang makanan sehari-hari Cornelia, secara teknis ia sangat baik dalam membaca puisi sambil berteaterikal. ‘Kopiah Sang Jenderal’ yang dibawakan Cornelia dituturkan dengan baik, perannya dalam sejumlah pementasan teater tentu semakin mengasah bakatnya.

Dinda Kanya Dewi, Prisia Nasution dan Maudy Koesnaedi tak kalah mengesankan, karya-karya maskulin dan keras milik Radhar dibawakan dengan sangat feminin, namun maknanya tersampaikan dengan baik. Sesuai tujuan pementasan ini, bisa menyampaikan kemarahan, kekecewaan kepada elit politik dan pemerintah dengan penghalusan dalam pengucapan agar pesan sampai dengan baik.

Konten Terkait:  Dasamuka Larak Bagian dari Pemasyarakatan Seni Wayang Wong
Tony Q Rastafara asik membawakan lagu dari puisi. Foto: Rosiana
Tony Q Rastafara asik membawakan lagu dari puisi. Foto: Rosiana

Kehadiran Slank dan Tony Q Rastafara juga memberikan warna tersendiri, musikalisasi puisi yang mereka bawakan sesuai dengan karakter musik mereka. Meski baru pertama kali dinyanyikan, lagu yang mereka bawakan sangat bisa dinikmati. “Slank sengaja memilih Kabut Sebuah Negri, karna sesuai dengan keadaan sekarang, aktual sekali. Masuk rekaman dua jam, lagu langsung jadi,” tutur Ivanka saat ditemui usai pertunjukan.

Pendukung acara Manusia Istana. Foto: Rosiana
Pendukung acara Manusia Istana. Foto: Rosiana

Elemen teaterikal sangat kental dari awal hingga akhir pertunjukan, tata cahaya, musik bernuanasa orkestra, elemen-elemen dramaturgi khas pertunjukan teater berhasil memberikan suguhan yang apik. Semoga pesan yang disampaikan mampu menggugah para elite untuk tergerak hati dan batinnya. “Sebelum mengubah bangsa dan negara, perbaikilah diri sendiri dulu,” ujar Radhar menutup konfrensi pers usai pentas. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here