KGPAA Mangkunegara IV Pemrakarsa Pembuatan Stasiun Solo Balapan

0
611

Berikut ini foto Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (KGPAA Mangkunegara IV) dalam seragam militer Belanda dengan pangkat Kolonel. Foto yang dibuat pada tahun 1866 ini diambil dari buku Steven Wachilin yang berjudul Woodbury & Page, yang diterbitkan tahun 1994 oleh KITLV Press, Leiden.

Mangkunegara IVIa merupakan penguasa Kadipaten Mangkunegaran yang dalam istilah bangsa Eropa sering disebut sebagai Kapangeranan Mangkunegaran. Kapangeranan otonom ini dibentuk dalam Kerajaan Kasunanan Surakarta pada tahun 1757 setelah Mataram dibagi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta (1755). Mangkunegara IV memimpin Kadipaten Mangkunegaran dari tahun 1853-1881.

Mangkunegara IV lahir pada tanggal 3 Maret 1881 dengan nama kecil Raden Mas Sudira. Ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Harya Adiwijaya I dan ibunya merupakan putri dari KGPAA Mangkunegara II yang bernama Raden Ajeng Sekeli. Ia adalah cucu dari Mangkunegara II dan cicit dari Sunan Paku Buwana III karena kakek buyut Mangkunegara IV yang bernama Raden Mas Tumenggung Kusumadiningrat (ayah KPH Adiwijaya I) adalah menantu dari Sunan Paku Buwana II.

Sejak kecil Mangkunegara IV dikenal pandai dan cerdas. Ia dididik secara privat di lingkungan Mangkunegaran. Dr JFC Gericke dan CF Winter adalah dua orang Belanda yang menjadi gurunya di antara guru-guru yang lain. Pada usia 15 tahun ia mengikuti pendidikan militer, yang sudah menjadi tradisi bagi putra-putra bangsawan tinggi Mangkunegaran. Ia menjadi kadet di Legiun Mangkunegaran. Ia mendapatkan gelar kapangeranan Kanjeng Gusti Pangeran Gandakusuma.

Ia menikah dengan Raden Ayu Semi dan dikaruniai 14 orang anak. Setelah Mangkunegara III meninggal ia menggantikan kedudukannya. Setelah setahun bertahta ia menikahi Raden Ayu Dunuk, putri Mangkunegara III.

Sebelum terpilih sebagai penguasa, Mangkunegara IV telah mendapatkan banyak pengalaman sebagai seorang prajurit. Dia terkenal karena inisiatif ekonominya serta penulisan karya sastra Jawa.

Ia mendirikan Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu, juga memprakarsai berdirinya Stasiun Solo Balapan. Termasuk juga memprakarsai penataan ruang kota dan kanalisasi kota. Pada masa pemerintahannya dilahirkan 42 buku, di antaranya Serat Wedhatama, beberapa komposisi gamelan, di antaranya yang terkenal adalah Ketawang Puspawarna. Pada masa pemerintahannya Kadipaten Mangkunegaran mencapai puncak keemasannya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here