Passion dalam Pameran Tunggal Joseph Wiyono

0
821

“Tentang kota,” tutur Joseph Wiyono yang ditemui Tembi, 18 Januari 2017 di sela-sela persiapan pameran tunggalnya di Galeri Sangkring Art Project milik Putu Sutawijaya yang beralamat di Jl. Nitiprayan 88, Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Pameran itu dibuka secara resmi tanggal 19 Januari 2017 dan pameran berlangsung hingga tanggal 1 Februari 2017.

Itulah pokok persoalan yang diangkat oleh Joseph Wiyono. Mengapa kota ? Ya, karena kota adalah tempat dari sekian banyak orang berhimpun dan hidup. Di dalamnya ada begitu banyak problematika, dinamika, dan segala macam hal yang menyangkut hidup manusia, lingkungan, dan sebagainya. Problematika tentang kota itu dibingkainya dengan tema “Passion.” Selain itu, pameran tunggalnya ini juga dilakukan sebagai bentuk peringatan atau perayaan ulang tahunnya yang ke-50.

Joseph Wiyono berfoto di depan karya yang dipamerkannya. Foto: A. Sartono
Joseph Wiyono berfoto di depan karya yang dipamerkannya. Foto: A. Sartono

Joseph membingkai pamerannya dengan tema passion karena dalam problematika manusia kota selalu ada berbagai keinginan, nafsu, kegairahan, romantika, kesedihan, dan lain-lain. Persoalan tampaknya lebih kompleks, ruwet, dan carut-marut di dalam kehidupan sebuah kota daripada tempat lain (desa). Dari sana pula kita bisa menelusuri, menjejaki persoalan-persoalan tersebut, menjejaki peradaban manusia yang terbentuk olehnya. Karya Joseph merupakan personifikasi dari hal itu.

Salah satu karya lukis color dari Josep Wiyono. Foto: A. Sartono
Salah satu karya lukis color dari Josep Wiyono. Foto: A. Sartono

Seluruh karya yang dipamerkan oleh Joseph Wiyono yang merupakan perupa sekaligus dosen Program Studi Seni Lukis di Institut Seni Indonesia Yogyakarta merupakan karyanya yang dilahirkan dalam kurun tiga tahun terakhir. Ada 12 karya color dan 16 karya hitam putih dalam berbagai ukuran serta 47 buah sketsa dalam ukuran yang sama yang ditampilkan oleh Joseph.

Joseph sengaja menampilkan dua konsep lukisan yang berbeda, yakni full color dan hitam putih. Mula-mula Joseph memang berkutat dengan aneka warna namun lama kelamaan ia justru semakin berkeinginan melihat dan mengkreasi karya dalam warna hitam dan putih. Ada semacam kejenuhan dengan hal yang penuh warna.

Deretan karya lukis hitam putih dari Joseph Wiyono. Foto: A. Sartono
Deretan karya lukis hitam putih dari Joseph Wiyono. Foto: A. Sartono

Selain itu, berkarya dalam warna hitam dan putih terasa lebih tinggi tingkat kesulitannya karena manipulasi warna hanya bisa dilakukan oleh dua unsur saja: hitam atau putih. Dulu Joseph juga mengawali karya dengan gaya realis namun kemudian ia justru merasa jatuh hati dengan style impresionistik seperti karya yang ditampilkannya pada saat ini.

Deretan karya sketsa dari Joseph Wiyono. Foto: A. Sartono
Deretan karya sketsa dari Joseph Wiyono. Foto: A. Sartono

Karya-karya Joseph Wiyono tampak menyiratkan semacam pertumbuhan hunian vertikal karena terbatasnya lahan kota. Hunian yang dilukiskannya seperti tuna halaman. Pepohonan menjadi langka dan jauh tersisih oleh hunian. Kota demikian sesak. Tak tampak sisi keluasan apa pun. Riuh oleh bangunan namun sunyi perjumpaan antarmanusianya.

Keseluruhan karya Joseph Wiyono sengaja tidak diberikan caption dengan harapan penikmat karyanya dapat memberikan apresiasi sebebas-bebasnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here