Pameran Lukisan Jalan Dua Pekan, Oleh-oleh dari Malaysia

0
498

Pameran yang bertemakan Jalan Dua Pekan yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Yogyakarta yang berlangsung 20-15 Januari 2017 ini merupakan salah satu hasil dari art workshop 2016 di Pulau Ketam, Malaysia. Art workshop itu diikuti oleh 120 seniman dari 19 negara. Dari sekian seniman tersebut 9 di antaranya dari Indonesia, yakni Eddy Sulistyo, Ipong Purnomosidhi, Katirin, Dona Prawita Arissuta, Hardiana, I Made Arya Palguna, Slamet Soneo Santoso, Valentinus Rommy Iskandar, dan Januri ikut diundang dalam acara tersebut dan kemudian memamerkan hasil karya mereka di Bentara Budaya Yogyakarta. Tema Jalan Dua Pekan digunakan untuk membingkai pameran mereka dengan suatu alasan karena selama mengikuti art workshop mereka tinggal di Jln. Dua Pekan, Pulau Ketam. Selain itu, kegiatan mereka di pulau itu memang dilaksanakan selama dua pekan (2 minggu).

Waiting, 115,5 x 115,5 cm, akrilik di atas kanvas, 2016, karya Katirin. Foto: A. Sartono
Waiting, 115,5 x 115,5 cm, akrilik di atas kanvas, 2016, karya Katirin. Foto: A. Sartono

Event tersebut telah terlaksana dua kali yakni pada tahun 2014 yang diikuti oleh tujuh negara dan event kedua, tahun 2016 diikuti oleh 19 negara. Penyelenggaraan yang dimotori oleh Keng Leong Tan dan didukung penuh oleh segenap warga lokal Pulau Ketam serta kerja keras semua komite Asosiasi Pulau Ketam telah membuka peluang potensi dan promosi bagi perkembangan infrastruktur dan sistem yang ada di Pulau Ketam yang telah berdiri sejak 152 tahun lalu akibat emigrasi penduduk dari China ke Malaysia.

Port Jety, 96 x 96 cm, akrilik di atas kanvas, 2016, karya Ipong Purnama Sidhi. Foto: A. Sartono
Port Jety, 96 x 96 cm, akrilik di atas kanvas, 2016, karya Ipong Purnama Sidhi. Foto: A. Sartono

Pulau Ketam merupakan pulau yang dikelilingi hutan mangrove, penduduk setempat hidup dengan membuat hunian yang mengapung di atas air dan kini masih mempertahankan kesederhanaan dalam menjalani hidup sosial masyarakat. Kapal-kapal tradisional yang terbuat dari kayu khusus masih banyak berlalu lalang. Penghubung antarkampung hanyalah jembatan kayu dan hanya bisa dilalui oleh sepeda onthel atau sepeda listrik. Hal ini menjadi pilihan hidup untuk meminimalisir polusi udara dan polusi suara. Sekalipun banyak hotel/homestay namun kesadaran warga lokal dan pendatang untuk menjaga lingkungan tetap tinggi.

Picnic Series (Pulau ketam), 75 x 350 cm, akrilik di atas kanvas, 2016, karya Januri. Foto: A. Sartono
Picnic Series (Pulau ketam), 75 x 350 cm, akrilik di atas kanvas, 2016, karya Januri. Foto: A. Sartono

Hal-hal seperti itulah yang pada gilirannya mampu menggerakkan inspirasi dan daya kreativitas para seniman yang diundang untuk berkarya dan mendalami sisi lain dari Pulau Ketam. Bertemu, berkarya, bersosialisasi, berdiskusi, berkolaborasi, dan memahami makna kehidupan antarseniman dari berbagai negara di tempat itu tentu saja merupakan kesempatan dan pengalaman yang sangat menarik.

Dukungan swadaya masyarakat dan seniman yang tergabung dalam event International Art Workshop Pulau Ketam 2014 dan 2016 menunjukkan bahwa sinergi berbagai bidang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas sosial masyarakat tanpa merusak alam yang dinamis dan seimbang. Rekaman dan perwujudan ekspresi yang tervisualkan mampu diciptakan dalam berbagai karya yang ditampilkan dalam pameran yang didukung oleh Bentara Budaya Yogyakarta dan Kompas Gramedia.

Ingkang Maha Kuasa, 60 x 90 cm, pencil, tinta, akrilik, arang, cat minyak di atas kanvas, karya Eddy Sulistyo. Foto: A. Sartono
Ingkang Maha Kuasa, 60 x 90 cm, pencil, tinta, akrilik, arang, cat minyak di atas kanvas, karya Eddy Sulistyo. Foto: A. Sartono

Apa yang didapatkan dalam kegiatan di Pulau Ketam ini barangkali juga bisa menjadi inspirasi untuk bisa diterapkan di tanah air untuk pembangunan serta kemajuan bangsa tanpa harus mengorbankan lingkungan, baik fisik maupun sosialnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here