Boneka Ternyata Bukan Hanya Mainan

0
685

Boneka dapat berperan sebagai objek magis pada suatu waktu, namun pada waktu lain ia juga bisa menjadi mainan. Pameran Boneka (Bukan) Mainan yang diselenggarakan oleh Rudi Corens dan timnya di Jogja Gallery mulai tanggal 17-26 Januari 2017 menyadarkan kita akan fenomena tersebut serta masih banyak aspek lain dari boneka yang selama ini mungkin tidak pernah disadari.

Boneka peluk untuk dipeluk dan disayang-sayang.Foto: A. Sartono
Boneka peluk untuk dipeluk dan disayang-sayang.Foto: A. Sartono

Encyclopedia Brittanica tahun 1948 menyebutkan bahwa boneka adalah mainan tertua yang dikenal manusia dan masih ada sampai saat ini. Berkaitan dengan itu pula barangkali boneka memang merupakan bentuk seni tertua dalam penciptaan tiruan manusia (yang sebagian besar) berbentuk tiga dimensi. Dari awal kemunculannya hingga saat ini benda-benda tersebut merupakan bukti tak terbantahkan adanya kebutuhan manusia akan kehadiran supranatural -kehadiran atas kehendaknya sendiri memilih bersemayam pada patung batu atau kayu tertentu- yang pada awalnya tidak dibentuk oleh manusia melainkan oleh alam itu sendiri. Merupakan sebuah perjalanan panjang melintasi waktu, sebelum patung-patung yang ‘dirasuki‘ ini mulai kehilangan aura ruh atau aura sebagai penerima hal spiritual dan kembali menjadi benda tak bernyawa, menjadi sesuatu yang disukai anak-anak dan kemudian disebut boneka.

Jenglot, figur berbentuk manusia berukuran kecil, dipercaya memiliki kekuatan magis dan dapat mengundang bencana. Foto: A. Sartono
Jenglot, figur berbentuk manusia berukuran kecil, dipercaya memiliki kekuatan magis dan dapat mengundang bencana. Foto: A. Sartono
Patung berbahan batu vulkanik, tidak diketahui fungsi dan maknanya, dibeli tahun 1994 di Magelang. Foto: A. Sartono
Patung berbahan batu vulkanik, tidak diketahui fungsi dan maknanya, dibeli tahun 1994 di Magelang. Foto: A. Sartono

Bagaimanapun gagasan mengenai boneka sangat rumit, Sejak dahulu kala boneka telah memperoleh pemaknaan yang rumit dan beragam serta etimologi khusus. Tidak lupa pula, alasan, argumen, keyakinan, dan lain-lain yang tidak terhitung jumlahnya telah menjadi penyebab beragamnya pemaknaan atas boneka, dan bahkan untuk pemilihan bahan dasar pembuatan boneka. Salah satu contohnya adalah boneka yang terbuat dari tongkol dan kulit jagung yang masih digunakan di beberapa negara Amerika Selatan untuk praktek voodoo, tidak memiliki nama lain selain corn-doll. Boneka semacam ini hanya merupakan salah satu contoh. Demikian seperti apa yang dituliskan oleh Rudi Corens selaku pimpinan Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga Yogyakarta yang menyelenggarakan pameran ini.

Pameran ini ditujukan bagi orang-orang yang ingin menuturkan kepada para pembuat mainan besar, para pengajar, para politisi, dan lainnya bahwa boneka merupakan dunia belajar anak, boneka adalah bagian penting dalam dunia kreatif dan fantasi anak. Pameran ini memang sepenuhnya digagas untuk orang dewasa dan mahasiswa dengan harapan bahwa manifestasi ini dapat menciptakan perhatian yang lebih besar dan lebih serius terhadap fenomena yang disebut boneka.

Susana Pameran Boneka (Bukan) Hanya Mainan di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono
Susana Pameran Boneka (Bukan) Hanya Mainan di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono

Pameran ini juga menawarkan cara pandang yang lebih luas terhadap trik dan perdagangan dalam dunia boneka, saat berada di bawah kendali orang-orang dewasa. Selain itu, juga menunjukkan hubungan dan keterkaitan antara boneka dengan pembuatnya seperti sejarah, politik, agama, arkeologi, rasisme, sosial budaya, etnografi, dan topik-topik lainnya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here