Mendalang itu Tidak sekadar Memainkan Wayang

0
643

‘Mayang’ itu berbeda dengan mendalang. Walaupun sama-sama memainkan wayang kulit, mayang itu lebih pada teknis, sedangkan ndalang itu selain teknis juga nonteknis. Mayang merupakan keterampilan di depan kelir (layar) sedangkan ndalang selain ketrampilan di depan kelir, juga kepribadiannya di luar kelir.

Bisa saja seseorang itu terampil memainkan wayang di kelir tetapi kalau ditanya mengenai menghitung hari peringatan orang yang sudah meninggal tidak bisa, itu namanya bukan dalang. Dalang dapat diartikan ngudhal piwulang, atau membeberkan ajaran, piwulang luhur yang menenteramkan. Baik di jagad pakeliran maupun di jagad gumelar.

Ki Simuh Cermo Djoyo bercerita tentang duka seorang dalang pada jamannya. Foto: Herjaka
Ki Simuh Cermo Djoyo bercerita tentang duka seorang dalang pada jamannya. Foto: Herjaka

Perbedaan antara mayang dan ndalang diungkapkan oleh Ki Simun Cermo Djoyo pada Kamis 12 Januari 2017 di Tonayan Imogiri Bantul, saat ia akan menggelar pentas wayang kulit dengan lakon “Rabine Semar” (Semar Menikah). Pagelaran tersebut merupakan program ‘master kelas’ yang diadakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan Pedalangan. Disaksikan oleh para dosen dan mahasiswa pedalangan, Ki Cermo Djoyo menampilkan kemampuannya mendalang dengan cara klasik. Tentu saja hal tersebut dimaksudkan agar para mahasiswa pedalangan mau belajar mendalang klasik secara baik dan benar, langsung dari seorang dalang senior.

Lakon “Rabine Semar” merupakan gambaran dari sebuah pepatah yang mengatakan bahwa anak Polah Bapa Kepradah. Artinya jika seorang anak menginginkan jodohnya, orang tualah yang pontang-panting. Seperti keinginan Raden Gandawardaya untuk melamar Dewi Jetakawati, putri Prabu Endrawinata raja negara Intiping Surya. Seharusnya yang direpotkan Gandawardaya bukan Semar, melainkan kedua orangtuanya yaitu Herjuna. Namun dikarenakan Herjuna kurang memperhatikan anak yang lahir dari rahim Jim Mambang, maka Semarlah yang kemudian berperan sebagai pengganti orangtua.

Durna kelincutan, tidak dapat menjawab pertanyaan Jetakawati. Foto: Herjaka
Durna kelincutan, tidak dapat menjawab pertanyaan Jetakawati. Foto: Herjaka

Ketika Semar bersedia melamar Dewi Jetakawati, ada orangtua lain yang melamar yaitu Pandita Durna. Hanya bedanya, jika Semar melamar putri Intiping Surya untuk Gandawardaya, sedangkan Pandita Durna melamar untuk dirinya sendiri.

Siapa pun yang melamar, baik tua maupun muda, tampan atau pun jelek, kaya atau pun miskin rupanya tidak masalah, yang penting ia dapat menjawab pertanyaan yang diajukan Dewi Jetakawati dengan tepat dan benar. Ada 3 pertanyaan yang diajukan yaitu, pertanyaan pertama, ada tujuh sembah di dalam kehidupan ini, siapa saja yang patut disembah? Pertanyaan kedua, apa yang dimaksud dengan: mati kelem, mati obong, mati kapethak, dan mati karencah. Pertanyaan nomor tiga, kenapa orang mati di bumi Jawa ini dikubur membujur ke utara, serta diselamati mulai dari Surtanah, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun dan 1000 hari.

Semar lah yang dapat menjawab serta menguraikan jawaban. Yang wajib disembah dalam hidup ini ialah, kata Semar, 1. bapa dan ibu, 2. mertua, 3. saudara tua, 4. tetangga, 5. anak, 6. pemerintah, 7. Gusti Allah.

Pertanyaan kedua yang diajukan Putri Intiping Surya adalah mengenai 4 macam kematian. Menurut jawaban Semar, orang hidup ini terdiri dari Roh Allah yang dibungkus dengan raga atau badan. Badan terdiri dari 4 anasir alam semesta yaitu, air, api, angin dan bumi. Kematian adalah peristiwa dimana Roh Allah kembali kepada Allah dan badan kembali kepada 4 unsur alam semesta.

Semar sedang membeberkan satu persatu pertanyaan Dewi Jetakawati. Foto: Herjaka
Semar sedang membeberkan satu persatu pertanyaan Dewi Jetakawati. Foto: Herjaka

Oleh karenanya dinamakan; mati kelem adalah proses mengembalikan kandungan air di dalam badan kepada air (Batara Kamajaya), dengan cara dimandikan dan dilabuh. Mati obong adalah proses mengembalikan unsur api di dalam badan kepada api (Batara Brama), dengan cara dibakar. Mati karencah adalah proses pengembalian unsur angin di dalam badan kepada angin (Batara Bayu) dengan cara di-angin-anginke di bawah pohon rindang. Mati kapethak adalah proses pengembalian unsur tanah di dalam badan kepada tanah (Batara Wisnu) dengan cara dikebumikan.

Mati kapethak inilah yang kemudian dapat untuk menjawab pertanyaan selanjutnya, yaitu mengapa orang meninggal dikebumikan membujur ke utara. Mengubur orang mati dinamakan mati kapethak, adalah proses mengembalikan badan kepada tanah, ke dalam pangkuan Batara Wisnu yang bertahta di Utara (arah mata angin). Oleh karenanya posisinya membujur ke utara, ke arah Batara Wisnu.

Tradisi tersebut bermula saat Batara Wisnu berhasil mengalahkan Prabu Watugungung. Dikarenakan tangisan Dewi Sinta istrinya, Prabu Watugunung mendapat pengampunan dan beserta anak istri diperkenankan masuk surga secara berurutan pada setiap minggu, hingga urutan ketiga puluh. Badan mereka dipethak/dikebumikan membujur ke utara, sebagai tanda penghormatan kepada Batara Wisnu. Mulai saat penguburan ‘surtanah’ diadakan doa permohonan keselamatan serta pengampunan hingga seribu hari (3 hari, 7 hari, 40 hari, setahun, dua tahun dan seribu hari).

Doa dan selamatan dilakukan sebagai pengganti tangisan Dewi Sinta untuk memohon pengampunan kepada Tuhan Penguasa Langit dan Bumi, bagi Prabu Watugunnung suaminya, Dewi Landep marunya, 27 anaknya serta bagi dirinya sendiri.

Suasana pagelaran. Foto: Herjaka
Suasana pagelaran. Foto: Herjaka

Perlu diketahui bahwa Prabu Watugunung, Dewi Sinta dan Dewi Landep (istrinya) serta ke-27 anaknya merupakan nenek-moyang orang Jawa, yang masing-masing telah menurunkan watak beserta karakternya dalam Pawukon.

Apa yang dibeberkan Semar jelas dan memuaskan. Wajah ayu dan usia belia tidak menjadikan Dewi Jetakawati canggung untuk menerima Semar yang tua dan jauh dari tampan menjadi suaminya. Namun sebelum Jetakawati ‘ngaraspada’ mencium kaki Semar untuk menyatakan kesanggupannya menjadi istrinya, Semar memanggil Raden Gandawardaya. Sosok pemuda tampan dan halus budi, anak Herjuna itulah yang dijodohkan Semar dengan Dewi Jetakawati. Betapa bahagianya Sang Dewi Jetakawati setelah mengetahui jodoh yang sesungguhnya. Semar hanyalah perantara untuk membahagiakan serta memuliakan pasangan muda Dewi Jetakawati dan Raden Gandawardaya.

Melalui lakon ini, Ki Cermo Djoyo telah meneladankan bagaimana seharusnya menjadi dalang yang sesungguhnya. Memainkan wayang dengan baik di depan kelir belumlah cukup. Seorang dalang harus juga dapat memberikan sesuatu yang berguna bagi hidup dan kehidupan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here