Lelaku Menggali Rasa dalam Visualisasi Karya Priadi

0
507

Duo pameran tunggal yang diselenggarakan Taman Budaya Yogyakarta 14-24 Januari 2017 dengan tema Lelaku menampilkan dua sosok perupa, yakni Anwar Musadad dan S Priadi. Keduanya memiliki karakter atau ciri khas karya yang berbeda. Pameran Anwar Musadad dihantarkan dengan kuratorial oleh Suwarno Wisetrotomo, pameran S Priadi dihantarkan dengan kuratorial oleh Kuss Indarto.

Besakih Temple, acrylic on canvas, 200 x 400 cm, 2015, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono
Besakih Temple, acrylic on canvas, 200 x 400 cm, 2015, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono

Menurut Kuss Indarto, pada pamerannya kali ini Priadi mengetengahkan visualisasi yang beragam meskipun kalau dicermati dengan saksama esensinya bertumpu pada satu titik persoalan yang ingin diperbincangkan, yakni spiritualitas. Setidaknya ada tiga gaya pelukisan atas karya-karya yang ditorehkannya di atas kanvas. Sementara secara tematik karya-karya tersebut seperti yang diinginkan senimannya mencoba menarasikan tentang hal yang berkait dengan spiritualitas.

Karapan Sapi, acrylic on canvas, 200 x 300 cm, 2013, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono
Karapan Sapi, acrylic on canvas, 200 x 300 cm, 2013, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono
Pesona Kota Tua, acrylic on canvas, 300 x 400 cm, 2016, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono
Pesona Kota Tua, acrylic on canvas, 300 x 400 cm, 2016, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono

Ragam visualisasi yang pertama adalah karya yang menggambarkan kebanggaan bangsa Indonesia, Candi Borobudur yang diekspresikan dengan penyusunan struktur blok-blok secara acak namun ritmis. Ada pula karya ekspresif semi-abstrak. Priadi mengawali proses karya ini dengan torehan, guratan, dan cipratan warna yang ekspresif sesuai rasa yang dikehendakinya yang kadang bahkan memunculkan accident form karena memang tidak dirancang untuk menggambar(kan) sebuah bentuk apa pun. Ragam visualisasi yang ketiga, ia melukisi kanvas dengan teknik sapuan langsung yang agak kasar. Priadi melukiskan subjek benda yang ada dalam kanvas dengan realistik namun sengaja tidak dengan sangat detail.

Spirit of Borobudur, acrylic on canvas, 140 x 250 cm (5 panil), 2009, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono
Spirit of Borobudur, acrylic on canvas, 140 x 250 cm (5 panil), 2009, karya S. Priadi. Foto: A. Sartono

Sebagai pelukis/seniman, Priadi memang tidak berangkat dari dunia akademis. Namun akademis atau pun bukan pada titik tertentu mungkin tidak ada relevansinya. Akan tetapi, apa pun itu, ada beberapa PR yang harus dikerjakannya. Mulai dari menyeimbangkan kematangan kemampuan teknis berkarya dan kepiawaian dalam mengolah dunia gagasan. Ada pula tuntutan yang secara langsung maupun tidak langsung, yakni untuk membangun jejaring kerja agar keberadaan diri dan karyanya bisa lebih baik cakupannya. Persoalan pricing management pun perlu ditingkatkan kemampuannya, selain tentu ada banyak persoalan lain yang perlu terus diatasi. Ini bagian dari mata rantai lelaku untuk semakin “menjadi”. Tidak mudah memang, namun perlu terus membangun optimisme. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here