Visualisasi Lelaku Perupa Anwar Musadad

0
556

Kadang-kadang cita-cita atau harapan tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat. Memaksa pun kadang-kadang tidak akan menemukan hasilnya. Jika pun menemukan hasilnya, kadang-kadang hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Mungkin juga mengecewakan. Perjalanan karier dan bahkan perjalanan hidup manusia adalah misteri. Demikian pun dengan Anwar Musadad. Ia yang bercita-cita menjadi perupa harus memendam cita-citanya karena orang tuanya tidak mengizinkannya menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR). Ayahnya mendorongnya untuk menjadi santri.

Melasti, acrylic on canvas, 200 x 300 cm, 2016, karya Anwar Musadad. Foto: A. Sartono
Melasti, acrylic on canvas, 200 x 300 cm, 2016, karya Anwar Musadad. Foto: A. Sartono

Semua ada hikmahnya. Setelah menjadi santri, impian Anwar bangkit kembali. Secara otodidak ia menggembleng diri dalam berseni rupa. Perjalanan berliku menjadi santri pada akhirnya menjadi deposit pengalaman dan laku yang menginspirasi dan melengkapi nuansa karya rupanya. Itulah lelaku yang mungkin menjadi bagian dari lakon hidup Anwar Musadad.

Karya-karya lukisan Anwar selalu padat dengan bentuk dan garis, riuh dengan warna, ruang yang berhimpitan, berwatak naratif, dan menunjukkan jalinan cerita seperti dalam komik. Demikian seperti yang dituliskan Suwarno Wisetrotomo dalam kuratorialnya pada Duo Pameran Tunggal Lelaku Anwar Musadad dan Supriadi di Taman Budaya Yogyakarta yang berlangsung mulai 14-24 Januari 2017. Pameran tersebut dipromotori oleh Agung Tobing, dimeriahkan dengan penampilan Tedjo Badut, dkk., dan dibuka secara resmi oleh GBPH Prabukusumo, Sabtu malam, 14 Januari 2017.

Dari kiri ke kanan: Kuss Indarto, S. Priadi, GBPH Prabukusumo, Agung Tobing, Suwarno Wisetrotomo, Anwar Musadad dalam Pembukaan Pameran Duo Lelaku di TBY, 14 Januari 2017. Foto: A. Sartono
Dari kiri ke kanan: Kuss Indarto, S. Priadi, GBPH Prabukusumo, Agung Tobing, Suwarno Wisetrotomo, Anwar Musadad dalam Pembukaan Pameran Duo Lelaku di TBY, 14 Januari 2017. Foto: A. Sartono

Tema-tema yang digarap oleh Anwar adalah legenda, cerita rakyat, juga sejarah dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia spiritualitas serta religiusitas. Suwarno Wisetrotomo mencatat bahwa perkembangan visual karya-karya Anwar Musadad menunjukkan perkembangan jalan keseniannya. Ia memiliki pengalaman kehidupan pribadi yang ditempa oleh kerasnya kehidupan pesantren, tumbuhnya disiplin yang unik dan militan namun secara unik pula ia memiliki tikungan-tikungan jalan kehidupan yang melumerkan kekerasan jiwa raganya.

Air Luk Ulo, acrylic on canvas, 280 x 380 cm, 2015, karya Anwar Musadad. Foto: A. Sartono
Air Luk Ulo, acrylic on canvas, 280 x 380 cm, 2015, karya Anwar Musadad. Foto: A. Sartono

Pertemuan kembali antara impian lama (menjadi seniman) dengan para seniman yang mempesona dirinya sangat menentukan pilihan kehidupan yang kini dijalaninya, yakni menjadi pelukis. Karya-karyanya sepenuh-penuhnya adalah menyuarakan perihal jiwanya yang bebas. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here