Manusia Semu Dalam Simbol Karya Grafis Dedik Johannes

0
411

TA atau Tugas Akhir yang menjadi salah satu tahapan puncak yang menjadi tanggung jawab mahasiswa untuk syarat penyelesaian studinya barangkali merupakan sesuatu “puncak” dari karyanya saat berada di perguruan tinggi/bangku studi. Sebagai tugas akhir apa yang dinamakan TA umumnya memang dipersiapkan dengan serius. Oleh karena itu karya TA sebenarnya juga layak untuk dinikmati atau diapresiasi publik, yang selama ini umumnya masih dinikmati oleh lingkungan almamater sendiri. Barangkali publikasi akan pameran atau pementasan TA ini perlu lebih banyak dilakukan sehingga apresian dari berbagai latar belakang juga bisa ikut mengapresiasinya.

Mata Terbuka Hati Tertutup, Hardboardcut on Paper, 55 x 55 cm, 2016, karya Dedik Johannes. Foto: A. Sartono
Mata Terbuka Hati Tertutup, Hardboardcut on Paper, 55 x 55 cm, 2016, karya Dedik Johannes. Foto: A. Sartono

TA di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dilaksanakan 3 kali dalam setahun. Salah satunya dilaksanakan pada bulan Januari 2017. Salah satu karya TA tersebut berupa karya grafis dari Dedik Johannes. Dedik memamerkan 20 karya grafis di Ruang J Katamsi, Jumat 13 Januari 2017. Tema yang diambil Dedik dalam pameran TA-nya adalah “Manusia Semu Dalam Simbol.”

Dedik mendasarkan diri akan proses penciptaan karya seninya dengan mengulik bahasa sebagai simbol dan sekaligus alat atau media. Pada konsepsinya bahasa merupakan dasar komunikasi antarmanusia. Bahasa diartikan sebagai kemampuan manusia dalam berkomunikasi dengan mengolah simbol atau tanda, misalnya bahasa verbal atau bisa disebut bahasa tekstual dan bahasa non-verbal atau bahasa visual.

Jamuan Akhir Jaman, Hardboardcut on Paper, 26 x 54 cm, 2016, karya Dedik Johannes. Foto: A. Sartono
Jamuan Akhir Jaman, Hardboardcut on Paper, 26 x 54 cm, 2016, karya Dedik Johannes. Foto: A. Sartono

Ungkapan perasaan maupun pikiran kerap disampaikan melalui simbol berupa bahasa. Akan tetapi karena bahasa mempunyai sikap netral atau terbuka terhadap kemungkinan baik maupun buruk, maka penggunaan bahasa tidak sepenuhnya menyatakan sebuah kenyataan atau semu. Seperti apa yang dikatakan Shakespeare dimana seluruh dunia adalah panggung dan semua laki-laki dan perempuan hanyalah para pemain yang memiliki pintu keluar dari dan pintu masuk ke panggung; dan satu orang dalam satu aksi memainkan banyak peran. Hal ini yang kemudian oleh Dedik disebut sebagai manusia semu, yaitu manusia yang penuh kepura-puraan atau ketidakjujuran baik pada dirinya dan juga kepada orang lain.

Penggolongan, Hardboardcut on Paper, 55 x 55 cm, 2016, karya Dedik Johannes. Foto: A.Sartono
Penggolongan, Hardboardcut on Paper, 55 x 55 cm, 2016, karya Dedik Johannes. Foto: A.Sartono

Secara umum hampir semua manusia adalah semu bahkan pada saat manusia berada pada usia balita dan anak-anak sudah diajarkan kepura-puraan dan berperilaku tidak apa adanya sehingga kebiasaan tersebut kemudian menjadi hal yang dianggap wajar. Melalui bahasa tekstual maupun bahasa visual manusia dapat memanipulasi pesan yang disampaikannya.

Tangisku Doaku, Hardboardcut on Paper, 50 x 50 cm, 2015, karya Dedik Johannes. Foto: A. Sartono
Tangisku Doaku, Hardboardcut on Paper, 50 x 50 cm, 2015, karya Dedik Johannes. Foto: A. Sartono

Bagi Dedik, TA ini merupakan sebuah ruang dan cara untuk mengungkapkan dan menyampaikan hasil pengamatan Dedik mengenai manusia semu melalui perumpamaan tanda. Berdasarkan pertimbangan yang sesuai dengan unsur artistik, gagasan, ide, dan inspirasi diperoleh dengan mengamati perilaku, sikap manusia dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya. Oleh karenanya hal itu kemudian memunculkan endapan-endapan estetis dalam diri Dedik. Pada tahap selanjutnya ia kemudian mengimajinasikan dan menyampaikan dalam bentuk simbol personal bentuk manusia tersebut dan memvisualisasikannya dengan aspek-aspek simbolnya. Bagi Dedik pula hal demikian sebagai upaya untuk mencermati logika interpretasi penyampaian melalui karya estetik terkait dengan interpretasinya terhadap problematika manusia semu dalam simbol. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here