Kursus MC Basa Jawa Tingkat Lanjut X: Meraih Ilmu dengan Laku

1
747

Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese durangkara. Satu ‘pada’ atau satu bait tembang Pocung tersebut adalah cuplikan dari serat Wulang Reh tulisan Paku Buwono IV (1788 s/d 1820). Jika diterjemahkan secara bebas artinya bahwa sebuah ilmu itu hanya dapat dikuasai dengan baik, jika didasari dengan tekad bulat, semangat tinggi serta laku yang terus-menerus dan panjang. Hal tersebut akan membentuk sosok pribadi yang berkualitas tangguh dan teguh. Setia pada budaya adalah buahnya, yang mampu membuat angkaramurka tak berdaya.

Ilmu Master of Ceremony (MC) Basa Jawa yang telah dipelajari selama 3 bulan di Tembi Rumah Budaya oleh para peserta kursus angkatan ke-34 dan angkatan ke-35 dirasa masih kurang. Mereka ingin menjalani laku 3 bulan lagi untuk mempelajari ilmu MC Basa Jawa tataran lanjut atau kelas lanjutan. Guna memenuhi minat tersebut, Tembi Rumah Budaya pada 12 Januari 2017 membuka kelas kursus tingkat lanjut angkatan X. Pada tingkat lanjut ini ada 24 kali pertemuan wajib setiap hari Senin dan Kamis, pukul 16.00 sampai dengan 18.00.

Peserta kursus MC Bahasa Jawa Tingkat Lanjut X sedang mendengarkan materi yang disampaikan 'sang dwijo' Ign. Wahono. Foto: Herjaka
Peserta kursus MC Bahasa Jawa Tingkat Lanjut X sedang mendengarkan materi yang disampaikan ‘sang dwijo’ Ign. Wahono. Foto: Herjaka

Proses serta praktek belajar dan mengajar selama tiga bulan ke depan tersebut adalah sebuah laku untuk menguasai serta kemudian mempraktekkan ilmu-ilmu yang diajarkan. Dalam penggodokan ini para peserta diuji, apakah mereka mampu mempertahankan tekad yang kuat serta semangat yang tak berkesudahan untuk meraih serta menguasai ilmu yang diberikan, yaitu ilmu tentang unggah-ungguh bahasa dan upacara tradisi budaya Jawa, khususnya ilmu panatacara-pamedhar sabda, MC basa Jawa gaya Yogyakarta.

Jika kemudian para peserta kursus berhasil menguasai ilmu-ilmu tersebut dengan baik dan setia menghidupinya di dalam hidup bermasyarakat, ibarat sebuah benteng kokoh untuk menangkal serangan angkaramurka yang merusak jatidiri bangsa. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here