Kesatuan Militer Modern pada Masa Kerajaan

0
699

Legiun Mangkunegaran A

Legiun Mangkunegaran pada mulanya dibentuk untuk keperluan strategis dalam perang pada awal abad ke-19 antara dua negara Inggris dan Perancis. Ketika Belanda dikuasai Perancis, Napoleon Bonaparte memerintahkan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels untuk memertahankan wilayah Hindia Belanda dari serangan Inggris. Daendels pada mulanya berusaha merekrut tenaga dari Ambon, Minahasa dan Timor, tetapi ternyata tidak mencukupi. Sementara itu pengiriman tentara dari Perancis juga urung dilaksanakan.

Untuk mencukupi kebutuhan tentara tersebut, akhirnya pada tanggal 29 Juli 1808 Daendels mengeluarkan suatu surat keputusan. Isinya menetapkan keberadaan Legiun Mangkunegaran dalam pasukan gabungan Perancis-Belanda-Jawa dalam perang melawan Inggris. Pada saat itu yang bertahta adalah Mangkunegara II.

Korps angkatan bersenjata kadipaten Mangkunegaran ini pada mulanya menampung bekas pasukan perang Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I). Pada saat itu Legiun Mangkunegaran merupakan organisasi militer modern di Asia yang mengadopsi angkatan darat terkuat di dunia Grande Armee pimpinan Napoleon Bonaparte. Anggota legiun dididik untuk berani, tangguh dan pantang menyerah dalam menghadapi musuh.

Legiun Mangkunegaran B

Mangkunegara II bahkan mengundang perwira-perwira militer Belanda yang profesional untuk melatih dan mengembleng anggota legiun. Legiun berkekuatan 1.150 personel ini terdiri dari pasukan infantri, kavaleri/berkuda dan artileri. Mangkunegara II diangkat menjadi komandan dengan pangkat kolonel. Bagi Mangkunegara II, legiun ini berfungsi sebagai alat legitimasi Mangkunegara yang bertahta serta alat untuk mengamankan dan juga tujuan diplomasi dari praja Mangkunegaran.

Pada masa Mangkunegara IV bertahta (1853-1881), legiun semakin mendapat perhatian. Antara lain dengan pembentukan lembaga pendidikan Legiun Mangkunegaran dengan menerjemahkan berbagai instruksi dari bahasa Eropa ke bahasa Jawa. Tata aturan tersebut dibuat buku dengan nama “Layang Pranatan Soldat Sekul”.

Ketika Perancis kalah dalam perang melawan Inggris, sehingga Jawa harus ‘diserahkan’ kepada Inggris, legiun ini dibubarkan oleh Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles. Tetapi karena terdesak kebutuhan, akhirnya legiun ini dihidupkan kembali berdasarkan surat keputusan Thomas Stamford Raffles tanggal 13 Februari 1812. Legiun diminta membantu pemerintahan sela (British Interregnum) yang berlangsung sejak 1811-1816, sebelum Jawa akhirnya dikuasai Belanda lagi. Legiun Mangkunegaran baru benar-benar dibubarkan pada tahun 1942 pada saat Mangkunegara VII bertahta, dan Jawa dalam kekuasaan Jepang.

Legiun Mangkunegaran C

Sebagai suatu korps militer, legiun ini pernah bertugas di berbagai tempat dan peristiwa. Antara lain pernah menjadi bagian penting pasukan Gubernur Jendral JW Janssen dalam pertempuran melawan pasukan Royal Marines (Inggris) di Jatingaleh, Semarang (1811). Ketika terjadi Perang Diponegoro/Perang Jawa (1825-1830) menjadi pasukan penjaga istana Yogyakarta dan Surakarta dari serangan pasukan Diponegoro, dan menjadi penghancur benteng terakhir Diponegoro. Juga ikut berperan dalam perang Aceh (1873), menumpas bajak laut di Bangka (1819-1820), dan perang dengan Jepang (1941-1942).

Mulat Sarira Angrasa Wani (Berani Mawas Diri) adalah semboyan Legiun Mangkunegaran. Artinya sebagai legiun mereka sadar harus mempunyai kualitas keberanian tinggi dan memahami bahwa mawas diri sebagai nilai-nilai luhur yang menjadi pegangan. Kedisiplinan, kepatuhan pada pemimpin, kehormatan dan kesetiaan baik pada legiun maupun sesama anggota sangatlah dipegang teguh. Legiun adalah Tanah Air, nasionalisme mereka adalah Legiun itu sendiri.

Dengan membaca buku ini, kita akan mengetahui berbagai hal tentang Legiun Mangkunegaran. Mulai dari dasar pembentukannya, dinamika/pasang surut legiun, struktur organisasi, berbagai tugas yang harus dijalani baik saat perang maupun di luar perang dan alasan pembubaran legiun.

  • Legiun Mangkunegaran AJudul:
    Legiun Mangkunegaran (1808-1942). Tentara Jawa-Perancis warisan Napoleon Bonaparte
  • Penulis:
    Iwan Santosa
  • Penerbit:
    Kompas, 2011, Jakarta
  • Bahasa:
    Indonesia
  • Jumlah halaman:
    xxii + 445

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here