Berani Mati Takut Lapar di Pulau Tonduk

0
640

Pameran foto bertajuk ‘Tonduk Berani Mati Takut Lapar’ pada 10-12 Januari 2017 di Taman Budaya Yogyakarta sangat menarik. Tidak seperti pameran foto Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) umumnya, pameran yang diselenggarakan oleh UKM Release Photography Club (RPC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini terasa sosiologis atau antropologis, mengungkapkan realitas masyarakat lewat foto dan deskripsinya. Sebagian realitas yang mengejutkan menjelaskan makna tajuk pameran ini.

Iring-iringan membawa jasad nelayan yang meninggal di laut. Foto: Barata
Iring-iringan membawa jasad nelayan yang meninggal di laut. Foto: Barata

Obyek foto mereka adalah warga Pulau Tonduk, pulau kecil seluas 3 km persegi yang berada di paling ujung timur perairan Madura, termasuk dalam kecamatan Raas, kabupaten Sumenep, Provinsi Madura. Jika menggunakan kapal kayu bermesin dari Pulau Madura menghabiskan waktu tempuh 7 jam penyeberangan.

Awalnya RPC tertarik atas julukan Pulau Tonduk sebagai Pulau Puteri. Ternyata hampir seluruh lelaki di sana berprofesi sebagai nelayan teripang dengan masa berlayar 3 bulan hingga 1 tahun. Ketika seluruh nelayan berangkat berlayar mengarungi lautan, hal tersebut mempengaruhi sepinya jumlah lelaki, dan menjadikan pulau tersebut didominasi oleh perempuan. Itu sebabnya kenapa pulau tersebut dijuluki sebagai Pulau Puteri.

Seorang nelayan yang lumpuh tetapi tetap bekerja. Foto: Barata
Seorang nelayan yang lumpuh tetapi tetap bekerja. Foto: Barata

Selain itu RPC menemukan bahwa risiko dekompresi yang dihadapi nelayan teripang berdampak pada semakin kuatnya peran perempuan dalam masyarakat Pulau Tonduk. Para perempuan ini mencari nafkah dengan menanam rumput laut, membuat manik, menjual es lilin, menanam jagung, dan sebagainya.

Sebagian perempuan menanam rumput laut. Foto: Barata
Sebagian perempuan menanam rumput laut. Foto: Barata

Pameran ini berkisah tentang para masyarakat Pulau Tonduk yang rela berlayar dengan jangka waktu lama demi mendapatkan teripang yang mempunyai nilai jual cukup tinggi. Diangkat pula sosok-sosok perempuan yang ditinggalkan, baik karena suaminya lama berlayar maupun karena suaminya meninggal. Keberanian untuk menyabung nyawa “demi sepiring nasi” ini menjadi poin pameran ini. Karena mencari teripang bukan sekadar soal lamanya waktu tetapi juga rawannya keselamatan diri.

Seorang nelayan tidur kelelahan. Foto: Barata
Seorang nelayan tidur kelelahan. Foto: Barata
Teripang yang dicari dengan berani. Foto: Barata
Teripang yang dicari dengan berani. Foto: Barata

Mereka mencari teripang dengan memakai kompresor yang dilengkapi selang dan masker, serta sebuah kacamata renang. Kompresor yang dipakai sebenarnya untuk memompa ban, oksigen yang dihasilkan bukanlah oksigen murni. Padahal mereka menyelam ke dasar laut hingga kedalaman 20-30 meter. Bahkan ada yang bisa sampai kedalaman 50 meter jika mereka belum mendapatkan teripang.

“Di dasar laut mas, rasanya seperti di daratan, jalan kesana kemari mencari teripang. Pernah mas saya masuk ke air dari jam delapan malam, keluar dari air jam satu dinihari,” kata salah seorang nelayan.

Warga Tonduk sedang bekerja. Foto: Barata
Warga Tonduk sedang bekerja. Foto: Barata

Para nelayan tersebut berada di bawah laut bisa sampai delapan jam. Padahal oksigen kompresor jika digunakan dalam waktu lama efeknya bisa membahayakan. Salah satunya menyebabkan dekompresi, akumulasi nitrogen yang terlarut setelah penyelaman membentuk gelembung udara yang menyumbat alirah darah dan sistem syaraf. Semakin dalam menyelam, semakin banyak akumulasi nitrogennya. Akibatnya bisa menyebabkan kelumpuhan, bahkan kehilangan kesadaran yang berakibat meninggal dunia. Hingga saat ini tercatat 60 warga Pulau Tonduk yang menderita kelumpuhan.

Pameran yang dikuratori fotografer Dwi Oblo ini memajang 114 foto dalam 8 tema. Pameran ini inspiratif dan membuka mata. Tidak pada eksotika alam dan penduduknya, tapi pada kenyataan hidup yang keras yang dijalani penduduk Tonduk selama puluhan tahun. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here