Seniman Usia 40 dalam Rekaman Foto Adhi Kusumo

0
569

Masyarakat seringkali dapat menikmati banyak karya seni, namun jarang melihat wajah seniman yang melahirkan karya-karya tersebut. Dalam rangka itu, Adhi Kusumo seorang seniman yang berasal dari Kediri, Jawa Timur, yang pernah mengenyam pendidikan seni di Yogyakarta, menggelar pameran foto di Bentara Budaya Yogyakarta dengan mengambil tajuk Art Begins at 40 Portraiture Seniman Kontemporer Yogyakarta Usia 40 + (Plus).

Naomi Srikandi berfoto dalam karya foto Adhi Kusumo yang berjudul Naomi Srikandi, Yogyakarta, 1975. Foto: A. Sartono
Naomi Srikandi berfoto dalam karya foto Adhi Kusumo yang berjudul Naomi Srikandi, Yogyakarta, 1975. Foto: A. Sartono

Pameran yang dimeriahkan dengan pertunjukan musik oleh Sri Krishna dan dibuka oleh Ong Hari Wahyu ini berlangsung mulai tanggal 11-17 Januari 2017. Karya foto yang dipamerkan berjumlah 20 buah. Keduapuluh buah karya foto itu memerlukan waktu 2 tahun untuk proses penggarapannya.

Adhi Kusumo mengambil tema Art Begins at 40 dengan mendasarkan diri pada pepatah yang mengatakan bahwa kehidupan seseorang dimulai pada usia 40 tahun. Umumnya pada usia itu seseorang telah mengalami tingkat kemapanan yang relatif baik. Baik dalam karier dan juga pada sisi spiritual telah sampai pada puncak kematangannya.

Budi 'Swiss' Kustarto, Banyumas, Jawa Tengah, 1972. Foto: A. Sartono
Budi ‘Swiss’ Kustarto, Banyumas, Jawa Tengah, 1972. Foto: A. Sartono

Mulai pada usia itu pula seorang seniman mulai mengevaluasi dampak dari apa yang sudah dilakukannya. Sesudah bertahun-tahun berkiprah lalu apa dampaknya? Apa yang ingin disampaikan dalam karya-karyanya tersebut? Apa dampak ekonomis dan sosialnya pada karier? Apakah dalam berkarya seorang seniman tersebut sudah sepenuhnya mampu mengakomodasi gagasan dan konsep-konsepnya? Pergolakan batin seniman paruh baya inilah yang kemudian dijadikan objek oleh Adhi Kusumo dalam bentuk environmental portrait photography.

Budi Ubrux, Yogyakarta, 1968. Foto: A. Sartono
Budi Ubrux, Yogyakarta, 1968. Foto: A. Sartono

Seniman-seniman yang berkolaborasi menjadi model dalam hal ini adalah Abdi Setiawan, Agus Baqul, Akiq AW, Anggar Prasetyo, Bob Sick, Budi “Swiss” Kustarto, Budi Ubrux, Eko Nugroho, Gunawan Marianto, Heri Pemad, I Made Toris, Jamaluddin Latif, Laksmi Shitaresmi, Marzuki “Kill The DJ”, Naomi Srikandi, Pardiman, Putu Sutawijaya, Sri Krishna, Ugo Untoro, dan Wok The Rock.

Environmental portrait photography adalah fotografi bergenre portrait yang teknik eksekusinya dengan cara memotret subyeknya bersama lokasi dan properti yang biasa melingkupi si subyek dalam kesehariannya, seperti tempat kerja, studio, maupun rumahnya. Dalam hal ini properti dan background merupakan elemen terpenting dalam pemotretan environmental portrait karena digunakan untuk menyampaikan informasi tentang subyek (orang) yang dipotret. Jadi, dalam environmental portrait photography elemen yang menjadi properti dan background merupakan satu kesatuan dari gambar. Oleh karenanya hal elemen yang dimaksud harus bisa memberikan informasi mengenai siapa dan apa yang dia (subyek) lakukan.

Heri Pemad, Sukoharjo, 1976. Foto: A. Sartono
Heri Pemad, Sukoharjo, 1976. Foto: A. Sartono

Dengan mengadakan pameran foto portraiture Art Begins at Forty ini diharapkan audien akan lebih mengenal para seniman kontemporer di Yogyakarta. Tidak hanya melalui karyanya, namun juga bisa melihat wajah aslinya serta bisa menyelami karakter masing-masing seniman yang disadari atau tidak mempunyai hubungan linier yang kuat dengan karya yang dihasilkannya. Selain itu, pameran foto portraiture juga dapat memberikan alternatif dalam berkreativitas bagi dunia seni di Yogyakarta di tengah maraknya karya-karya seni kontemporer yang cenderung mainstream saat ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here