Keindahan dalam Kesederhanaan Sketsa Cipuk Setyawati

0
643

Pelukis Cipuk Setyawati memamerkan sketsa-sketsanya di Tembi Rumah Budaya yang berakhir pada 16 Januari 2017. Pada pameran bertajuk ‘Realitas Alam dalam Ekspresi Hitam Putih’ ini, ia mengambil landskap di kawasan Bandung utara yang indah khas dataran tinggi. Semuanya dibuat on the spot, selesai di lokasi. Meski dilukis dalam warna hitam putih, dengan tinta cina di atas kertas, suasananya sampai, terasa atmosfer yang melingkupinya.

Beberapa karya Cipuk. Foto: A. Sartono
Beberapa karya Cipuk. Foto: A. Sartono

Kurator Mukhsin MD, yang juga dosen Fakultas Seni Rupa dan Disain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), menilai kemampuan skill Cipuk sudah tidak dapat diragukan lagi dalam menghadirkan obyek‐obyek visualnya ke dalam kertas atau kanvas, baik hitam‐putih maupun warna. Olah rasa yang hampir setiap hari dilakukan sejak duduk di bangku Sekolah Seni Rupa Indonesia/SSRI (kini Sekolah Menengah Seni Rupa/SMSR) hingga saat ini, kata Mukhsin, merupakan bekal yang cukup kuat untuk bertutur bahasa visual melalui karya‐karyanya. Setiap goresan dan sapuan kwas memberikan makna ekspresi yang jujur dari apa yang dilihatnya sebagai ungkapan seni.

Alam membentang dipayung awan. Foto: A. Sartono
Alam membentang dipayung awan. Foto: A. Sartono

Hal ini, menurut Mukhsin, nampak pada karya-karya Cipuk yang dibuat secara langsung (on the spot) di lokasi obyek yang dilukisnya, yaitu alam Perbukitan Dago Pakar dan daerah Pegunungan Lembang dengan rerimbunan hutan pohon pinus dan lainnya. Meskipun dibuat hitam-putih, kata Mukhsin, di situ masih terasa bagaimana kesan sejuknya udara di lokasi saat itu, pohon‐pohon yang terlihat terhampar jauh dengan kesan kabut yang menyertainya, juga rindangnya pepohonan yang hanya diwakili dengan kesan goresan‐goresan bentuk batang pohon dengan cabang, ranting dan rumpun daun, dan gelap terang dari gradasi hitam‐putih sapuan kuas spontan yang terlihat jejaknya yang artistik membentuk tebing dan hamparan dari bukit ke bukit. Cara membuat unsur visual seperti ini mengingatkan gaya lukisan China yang hanya hitam‐putih menggunakan tinta.

Sejumlah karya Cipuk. Foto: A. Sartono
Sejumlah karya Cipuk. Foto: A. Sartono

Melihat karya-karya sketsa Cipuk memang muncul rasa tenteram dan ayem akibat polesan lembut Cipuk yang menyentuh rasa. Tidak sebatas mata, pada strata berikutnya, pola-pola repetitif ini bisa menjadi meditatif. Dalam estetika India, mungkin bisa diistilahkan dengan santam (kedamaian dan ketenangan), satu dari sembilan macam rasa (nawarasa). Dewanya adalah Wisnu yang memelihara kehidupan. Dalam hal ini romantisme sketsa-sketsa Cipuk pun mencuat. Barangkali demikianlah suasana hati Cipuk saat menorehkan tintanya tanpa beban, dan membiarkannya mengalir.

Secara keseluruhan meski sepintas sketsa-sktesa ini nyaris hampir sama, namun tidak membosankan. Garis-garis vertikal batang pepohonan dilengkapi dengan garis-garis horisontal ranting dan dataran tanah, serta lekuk pepohonan. Gradasi warna lembut dan keras, ruang yang penuh dan lapang, garis lurus dan keluwesan lekuk, perspektif yang tidak monoton membuat karya-karya ini sejatinya tetap memiliki kekhasan masing-masing. Meski sepintas terkesan bebas tak teratur tapi tertangkap pola keseimbangan yang ritmis.

Sketsa Cipuk juga menyuguhkan kehidupan manusia di tengah alam. Beberapa rumah (yang mengesankan didiami manusia) dalam ukuran standar, tidak mendominasi dalam jumlah dan ukuran. Ada pula jalan berkelok (yang mengesankan adanya aktivitas manusia), diambil dari sudut pandang atas sehingga terkesan pepohonan ikut menaungi dan mengayomi manusia.

Bangunan di tengah rerimbunan alam. Foto: A. Sartono
Bangunan di tengah rerimbunan alam. Foto: A. Sartono

Dalam banyak karyanya, bidang-bidang yang membentang di belakang subyek pepohonan, mengesankan keluasan dan kelapangan, mengentalkan kebesaran alam. Terkesan bahwa manusia adalah bagian dari alam, bukan alam bagian dari manusia. Satu hal yang cenderung kian berbalik dalam modernisasi ini dimana bangunan mendominasi dan alam tersingkir. Sketsa Cipuk menggambarkan harmoni, kemungkinan-kemungkinan kenyataan berikutnyalah yang menjadikannya ironi.

Saat kuliah di jurusan seni murni STSRI/ASRI (kini Institut Seni Indonesia Yogyakarta), Cipuk pernah meraih penghargaan sketsa terbaik jurusan (1984) dan lukisan terbaik jurusan (1986). Di Bandung, kota tempat ia tinggal, Cipuk selalu melukis, membuat sketsa atau drawing. Bisa dibilang, tiada hari tanpa berkarya. Jumlah karya sketsanya sekitar lima ribuan. Jumlah lukisannya entah berapa, yang jelas sangat banyak. Ia memang dikenal sebagai seniman yang total, yang terus mencipta sesuai kata hatinya.

Sawah menghampar berlatar gunung. Foto: A. Sartono
Sawah menghampar berlatar gunung. Foto: A. Sartono

Cipuk, yang bernama asli Sri Setyawati Mulyani ini, rutin berpameran. Sedikitnya sekali dalam setahun. Pameran tunggalnya antara lain pernah diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya Jakarta, Bentara Budaya Yogyakata, dan Sangkring Art Project Yogyakarta, yang memamerkan lukisan-lukisannya yang bertema perempuan. Jadi pameran sketsa kali ini berbeda dengan biasanya. Toh greget karyanya tetap terasa, atau apa yang disebut Sudjojono sebagai ‘jiwa kethok’.

“Sebenarnya tema-tema yang banyak saya garap sebelumnya bertema perempuan, gugatan perempuan, tubuh, wajah dan potret-potret diri”, ujar Cipuk. “Tapi tentang sketsa alam ini betul betul refreshing saya, yang tanpa muatan konsep apa pun. Sebagai terapi kebutuhan ekspresi yang sungguh-sungguh menyenangkan hati dan mengagumi ciptaan Tuhan yang maha dahsyat, yang sebagai makhluk dan hambanya patut mensyukurinya”. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here