Pameran AKAP: Kebersamaan dalam Perbedaan

0
668

AKAP, demikian tema yang diusung oleh enam orang perupa, yakni AT Sitompul (Medan), Dedy Sufriadi (Palembang), Gusmen Heriadi (Padang), MA Roziq (Lampung), Luddy Astaghis (Malang), dan Suharmanto (Yogyakarta). AKAP diambil sebagai tema pameran mereka di Jogja Gallery pada 15 Desember 2016-7 Januari 2017 dengan suatu maksud karena mereka berasal dari kota, wilayah, atau provinsi yang berbeda-beda.

Percakapan Kosong, 180 x 180 cm, acrylic on canvas, 2016, karya Luddy Astahis. Foto: A. Sartono
Percakapan Kosong, 180 x 180 cm, acrylic on canvas, 2016, karya Luddy Astahis. Foto: A. Sartono

Tema itu juga menegaskan bahwa meskipun mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, bahkan gaya dan selera melukis yang juga berbeda, toh mereka tetap dapat melakukan kerja sama dan pameran bersama dengan baik. Semua itu menjadi semacam contoh bagaimana perbedaan adalah hal yang tidak terhindarkan, kodrati, saling melengkapi dan menyempurnakan tanpa pernah berpretensi untuk menjadi sama dan seragam.

Materi visual yang disajikan para perupa memiliki gagasan kuat menyangkut pemikiran tentang kebersamaan dalam perbedaan. Perbedaan tidak serta merta menjadi sumber perpecahan dan konflik jika dialog dikedepankan. Bagaimana mungkin kesepahaman yang berangkat dari perbedaan-perbedaan dapat dicapai tanpa melalui adanya percakapan dua arah?

Derap Garis, 220 x 200 cm, acrylic on canvas, 2016, karya AT Sitompul. Foto: A. Sartono
Derap Garis, 220 x 200 cm, acrylic on canvas, 2016, karya AT Sitompul. Foto: A. Sartono

Pada sisi lain percakapan pun ternyata memiliki dua sisi, selain sisi positif ia juga dapat menjadi sumber konflik apabila memang sedari awal ditujukan untuk memecah belah kebersamaan. Polemik, permusuhan, dan gejolak politik sangat mudah tersulut jika latar belakang percakapan adalah konspiratif, apalagi bermaksud menyembunyikan logika positif dan fakta-fakta yang sebenarnya. Dalam konteks kehidupan sosial keseimbangan tidak terjadi begitu saja.

Kebersamaan yang ideal bercirikan adanya tenggang rasa, kekompakan, dan kepentingan bersama. Ruang kebersamaan memungkinkan untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru, ilmu pengetahuan baru, dan teman-teman atau bahkan sahabat baru sebagai wahana saling bertukar pengalaman dan wawasan.

Bermain Mata, 200 x 300 cm, oil on canvas, 2016, karya Suharmanto. Foto: A. Sartono
Bermain Mata, 200 x 300 cm, oil on canvas, 2016, karya Suharmanto. Foto: A. Sartono

Melalui seluruh materi visual yang disuguhkan oleh keenam perupa bisa disimak betapa sangat besar semangat kebebasan mereka dalam menyampaikan kegelisahan yang dituturkan melalui karya-karya dengan beragam media dan visual. Kendati hampir sebagian besar karya yang dipamerkan mengandung dimensi sosial, namun mereka berkarya dengan bebas tanpa beban moralitas atau pretensi. Mereka hanya ingin menyandarkan naluri berkeseniannya pada semangat harmonisasi beragam nada.

Ars Longa Vita Brevis # 2, 150 x 150 cm, oil, oilstick, marker, plastic on canvas, 2016, karya Dedy Sufriadi. Foto: A. Sartono
Ars Longa Vita Brevis # 2, 150 x 150 cm, oil, oilstick, marker, plastic on canvas, 2016, karya Dedy Sufriadi. Foto: A. Sartono

Pameran ini menarik untuk disimak. Jika pada umumnya kegiatan bersama dibangun atas pondasi kesamaan-kesamaan seperti misalnya kesamaan suku, kesamaan angkatan, kesamaan genre lukisan yang dianut, dan sebagainya, namun kelompok ini bersama-sama justru karena karya dan gaya mereka berbeda. Mereka berkeyakinan perbedaan justru memperkuat kebersamaan. Demikian antara lain yang dipaparkan Dedi Yuniarto selaku kurator dalam pameran ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here