Kelicikan Sengkuni dan Keberuntungan Pandawa

0
1025

Novel Senandung Pagi merupakan kelanjutan dari novel wayang Kidung Malam karya Herjaka HS. Jika pada jilid pertama kisahnya lebih berpusat pada Pandita Durna, pada edisi sekuel ini lebih banyak mengisahkan proses perjuangan Pandawa, baik upaya mempertahankan hidup maupun upaya untuk kembali ke Hastinapura.

Kisah wayang, terutama Mahabharata, terdiri dari sangat banyak fragmen. Apa yang dituliskan dalam novel ini hanya sebagian kecil dari keseluruhan kisah. Sebagian kecil fragmen-fragmen ini diangkat dengan penyampaian yang sarat sentuhan rasa dan pikiran, tidak sebatas lintasan alur cerita. Walhasil, pembaca tidak saja dipikat oleh pakem cerita yang pada dasarnya memang menarik, tetapi juga oleh suasana yang dibangun Herjaka sehingga menyentuh kalbu, bersamaan dengan nilai-nilai keutamaan yang mencuat di sana-sini.

Suasana kejawaan terasa, bukan saja sebagai latar tapi juga sebagai gambaran batin. Dilengkapi syair kidung dan pertanda-pertanda alam, penggambaran adegan dan percakapan, serta pembicaraan batin yang merepresentasi kode-kode budaya Jawa. Dalam hal ini alur cerita menjadi semacam pipa jalur utama yang diisi dengan pemaknaan dan atmosfir khas Herjaka.

Unsur kejawaan yang juga cukup penting, saya kira adalah relasi kekuasaan patron-client kawula-gusti, dalam hal ini hubungan penguasa dan rakyat. Tanpa menampilkan suara rakyat sebenarnya cerita ini cukup mengalir. Toh Herjaka berulang kali menyuarakan pikiran dan perasaan rakyat kecil. Bagaimana pikiran dan perasaan mereka merespon suatu peristiwa atau kondisi. Harapan-harapan mereka terhadap sosok pemimpin yang adil, ketakutan mereka terhadap pemimpin yang lalim, kecintaan mereka terhadap Pandawa, dan sebagainya. Meski peran mereka hanya sebagai penonton, meski peran mereka tidak heroik, aspirasi mereka mengimbangi pikiran dan rasa para tokoh penguasa dan elite politik.

Unsur kejawaan lainnya barangkali penyebutan hubungan kekerabatan dan status berulang kali dari awal sampai akhir. Tidak cukup hanya penyebutan nama tokoh. Mungkin hal ini disebabkan kesadaran kekerabatan dan status dalam masyarakat Jawa memang kental.

Patut dicatat juga, peran penting sejumlah tokoh perempuan yang digarap cukup panjang, termasuk gambaran psikologis mereka. Ada Rara Winihan yang lebih berinisiatif melawan Prabu Dwaka dibandingkan suaminya, Lurah Sagotra. Ada Arimbi yang dalam konflik batinnya berjasa menyelamatkan nyawa Bimasena dan saudara-saudaranya dari serangan Prabu Arimba, kakaknya. Dan tentu saja perasaan Kunthi sebagai seorang ibu yang welas asih.

Konten Terkait:  Inilah Wajah Hotel Oranje Surabaya Tahun 1940

Dalam novel ini, pembaca juga dapat menyaksikan dahsyatnya kelicikan Sengkuni. Membacanya kita akan mahfum kenapa tokoh yang satu ini sering dijadikan simbol kelicikan. Tipu daya terhadap Pandawa untuk menaikkan Duryudana sebagai raja, dan tipu daya terhadap Gandamana untuk menaikkan dirinya sebagai patih. Kelicikan Sengkuni semakin terasa kental dan mencolok karena sebagai tokoh protagonisnya adalah orang-orang yang lurus dan cenderung naif. Khususnya Bimasena dan Gandamana yang spontan. Kebetulan Kresna yang banyak akal belum muncul di fragmen-fragmen ini.

Tipu daya Sengkuni yang berdampak luas dan berjangka panjang ini juga memojokkan Prabu Destarastra yang sejatinya memihak kebenaran. Bersama Gendari, Sengkuni menjadi inner circle terdalam yang membuat Destarastra yang sakti mandraguna tidak berdaya. Ironisasi tragis ini juga merupakan gambaran riil sejarah kekuasaan selama berabad-abad.

Secara keseluruhan, novel kedua ini memang menarik secara literer. Di satu sisi menghibur. Pengaturan ketegangan dan klimaks yang dipicu intrik maupun situasi yang memojokkan, pengadeganan aksi laga, pelukisan romantisme asmara, penggambaran pikiran dan rasa tokoh-tokohnya, semuanya berkelindan membangun imajinasi kisah yang memikat. Di sisi lain menawarkan nilai-nilai keutamaan, kepahlawanan dan keksatriaan yang tidak lenyap atau tergusur oleh kekuasaan yang tamak dan lalim.

Kisah wayang yang pada dasarnya bisa diceritakan berulang kali oleh pengarang yang berbeda-beda tetaplah mempunya kekayaan gradasi yang harus diisi oleh kedalaman pemahaman dan ketajaman rasa pengarang. Dan Herjaka telah mengisinya dengan bernas.

  • Cover Buku Senandung PagiJudul:
    Senandung Pagi
  • Penulis:
    Herjaka HS
  • Penerbit:
    Tembi Rumah Budaya, 2016, Yogyakarta
  • Bahasa:
    Indonesia
  • Jumlah halaman:
    vii + 234 halaman

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here